
Dua sejoli yang baru saja melepas rindu itu berjalan beriringan memasuki kediamannya dengan wajah nampak berseri-seri. Meninggalkan seseorang yang sejak tadi menjadi penonton setia dari atas balkon kamarnya.
Zaskia yang tak mampu memejamkan netranya memilih beranjak menuju balkon sembari menghirup udara luar. Namun, tanpa sengaja ia melihat Kendra dan Tania berduaan ditaman belakang. Hatinya ingin beranjak, tetapi netra dan tubuhnya memilih tinggal dan menyaksikan kemesraan mereka.
Ada goresan cemburu di wajah Zaskia. Kendra memperlakukan gadis itu begitu manis dan penuh cinta, sang gadispun menyambut dengan penuh suka cita. Ia sudah bisa membaca kelanjutan dari sepenggal adegan yang baru saja ditontonnya.
Andai dia sehat, pasti diapun bisa memberikan servis terbaik untuk sang suami yang belakangan ini mulai bisa menerimanya kembali.
"Ya Tuhan..kenapa rasanya ini tak adil untukku? Aku juga ingin hidup normal dan bahagia bersama orang yang kucinta." batinnya menjerit nestapa.
***
Kendra dan Tania masuk ke dalam rumah sembari bergandengan tangan. Pria itu menggandeng istrinya didepan dengan langkah yang cukup tergesa-gesa hingga membuat perempuan itu sedikit kewalahan mengimbangi langkahnya yang jenjang.
"Aww.."
Pekik Tania meringis saat kepalanya membentur cukup keras punggung sang suami.
"Kau tidak pa-pa?"
" Aa kalau berhenti kasih aba-aba dong. Aku jalannya setengah berlari mana sadar kalau aa mengerem kakinya mendadak." gerutunya sembari mengusap-usap dahinya.
Pria itu terkekeh gemas lalu berbisik ditelinganya.
__ADS_1
"Aku buru-buru karena sudah tidak sabar. Kita ke kamar tamu atas ya? Kamarmu terlalu sempit, aku susah bergerak." goda Kendra sembari mencuri sebuah kecupan dipipi istrinya.
Semburat merah terlukis indah di kedua pipi putih Tania. Perempuan itu menurut saja kemana sang suami membawa.
Keduanyapun melewati dapur hingga mencuri atensi pelayan yang ada disana.
" Tuan, udah ketemu Tania nya? Mau dibawa kemana buru-buru amat?" seloroh bu Sumi kepo maksimal. Apalagi perempuannya nampak malu-malu.
" Dieksekusi, Bi. Udah nggak sabar. Duluan ya." jawab lelaki itu tanpa filter, membuat sang istri makin malu saja.
Bi Sumi dan Bi Marni sampai geleng-geleng kepala, tadi bersama istri pertama sekarang merusuh di istri kedua.
"Kayaknya Tuan sangat menikmati perannya. Beruntung banget, udah kaya, istri dua akur, sama-sama tekdung lagi. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Kalau nyari lagi kayaknya aku mau daftar jadi yang ketiga ya Mbak. Ada yang muda, dewasa dan satu lagi yang tua berpengalaman. He..he.." kekeh wanita itu dihadiahi toyoran kepala dari Bi Marni.
"Hush..gundulmu itu. Udah tua masih mikir gituan." protes Bi Marni sebal meski diakui kalimat pertama Bi Sumi ada benarnya juga.
"Apaan mbak? Aku kaya bubur sumsum?" Bi Sumi mengoreksi dirinya yang menurutnya tidak ada mirip-miripnya sama bubur sumsum. Kulitnya saja sawo matang nggak putih.
"Bubur sumsum, Ibu-ibu bernama Sumi otaknya mesum." seloroh Bi Marni menertawakan hingga sukses membuat rekannya memonyongkan bibirnya.
***
Kendra segera mengunci pintu setelah masuk kedalam ruangan. Ia menyandarkan Tania ke daun pintu lalu langsung bertandang ke bibir mungil yang selalu jadi candu baginya.
__ADS_1
Keduanya sudah kadung terbakar gairah, dengan begitu rakus pria itu mengeksekusi isi didalam sana, bermain dengan lidah, mengabsen setiap inci dalam rongga mulut sang istri.
Beruntungnya, yang diajak tak kalah semangat, hormon kehamilan sepertinya membuat perempuan itu cepat memanas. Iapun tak kalah aktif mengimbangi permaian Kendra, mendesak papila lelaki itu kemudian membelit bersama. Saling bertukar saliva dengan tangan yang mulai bergerilya menyelusup dan meraba dada bidang suaminya.
Pria itu menghentikan aktifitasnya sesaat, "Kau mau menantangku? Sepertinya kau lebih bersemangat kali ini."godanya sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak Ih Aa. Tanganku lagi cari pegangan yang pas aja. Nih..tangan Aa juga dah bertengger dimana saja. Kita impas kan?" sahutnya tak terima. Memang benar adanya, tangan Kendrapun telah menggenggam benda kenyal yang terasa pas ditangannya.
"Lanjut."
Titah lelaki itu tak ingin banyak berdebat. Lagipula, semakin istrinya agresif tentu membuat pria itu semakin bergairah.
Keduanya kembali merajut ciuman yang sempat terjeda. Lelaki itu mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjang sang istri. Menyesap, menjilat belakang telinga hingga membuat bulu kuduk Tania meremang karenanya.
Wanita itu benar-benar terlena dibuatnya, gerakan Kendra benar-benar lembut dan penuh perasaan. Dirinya bahkan seakan tak menyadari bahwa tubuhnya kini sudah polos akibat ulah sang suami.
Kendra menghentikan aktifitasnya kembali, menatap penuh damba tubuh tulang rusuknya yang begitu mulus dengan perut yang sudah mulai membuncit. Membuat perempuan itu malu dan menutupi sebisanya.
"Aa..merem." gerutunya sebal, tak enak sekali ditatap liar sedang lawannya baru terbuka setengahnya. Apalagi, Tania sedikit rendah diri sebab perutnya terlihat buncit yang jelas jauh dari kata seksi.
"Kamu semakin cantik, sayang." bisik lelaki itu ditelinga, menjatuhkan satu gigitan kecil disana dan perlahan menyusuri ke bawah dengan bibirnya.
"Sudah pasrah?" tanyanya kembali diiringi anggukan manja dari sang istri.
__ADS_1
Sore ini menjadi sore panas bagi kedua insan yang sedang menyalurkan rindu. Mereguk manisnya surga dunia bersama tambatan hati. Kendra tak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebab kemungkinan mereka akan berpisah cukup lama setelah ini.
Bersambung...