
"Hei siapa disana? Cepat keluar!"
Suasana ruangan menjadi tegang, ekor mata Dafa dan Zaskia tertuju ke arah sumber suara. Keduanya merasa was-was jika sampai ada yang sengaja mencuri dengar percakapan mereka.
Terutama Zaskia, ia dalam masalah besar jika Kendra tahu sahabatnya sendiri adalah ayah dari janin yang dikandungnya. Bukan tidak mungkin suaminya justru malah memaksa Dafa untuk bertanggung jawab padanya.
Tania merutuki kecerobohannya. Apalagi mendengar teriakan Dafa yang tidak bersahabat barusan, membuat jantungnya seakan mencelos dari tempatnya. Untuk kaburpun rasanya sudah tidak memungkinkan lagi.
"Astagfirulloh..bagaimana ini? Pria itu sepertinya marah." gumamnya panik.
"Tenang Tania, tenang. Cobalah berpikir dengan jernih." Perempuan itu mencoba mengatur pernafasan untuk menetralkan rasa takut sekaligus gugup yang menderanya. Sebuah ide tanpa sengaja terlintas di kepalanya.
Gruk..Gruk..Gruk...Gruk..
Tania memencet tombol closed untuk menunjukkan jika sedang ada aktifitas di dalam.
Dafa mendekati kamar mandi bagitu mendengar ada suara dari dalam, lelaki itu menggedor cukup keras agar penghuninya segera keluar.
"Cepat keluar atau ku dobrak pintunya!" peringatnya kesal.
Ceklek..
Tania keluar sembari menyengir tanpa dosa, perempuan itu mengelus perutnya dengan lega.
"Kak Dafa? Sejak kapan disini? Mau ke kamar mandi? Maaf aku lama, baru selesai buang hajat." perempuan itu kembali tersenyum meringis hingga menunjukkan deretan giginya yang putih.
Dafa sendiri terkesiap mengetahui jika istri kecil Kendra ternyata yang ada diruangan itu. Ia pikir sudah tidak ada siapa-siapa didalam setelah kedua orang tua Kendra keluar dari sana.
"Apa kau sengaja menguping pembicaraanku dan Zaskia? Jangan berbuat macam-macam atau kau sendiri akan tahu akibatnya." tekannya menyorot tajam pada Tania.
"Ti..tidak. Maksud kak Dafa apa? Aku saja baru tahu ada kak Dafa barusan." jawabnya sedikit gugup.
Raut ketegangan diwajah Dafa berangsur memudar. Meskipun belum percaya sepenuhnya, iapun tak mungkin mengungkapkan rahasia antara dirinya dan Zaskia. Akan tetapi, tetap saja Tania berada di zona merah dimana gadis itu harus tetap diwaspadai.
__ADS_1
"Aku tadi tak sengaja bertemu Hesti diluar. Dia yang memberitahuku, lalu aku mampir kesini. Ingat, jangan pernah mencari gara-gara denganku atau kau pasti akan menanggung akibatnya." tekannya sekali lagi.
"Saya tidak ingin mencari masalah dengan siapapun. Maaf jika mungkin ada sikapku yang kurang berkenan."
Perempuan itu memilih untuk mendekati Zaskia. Jujur Tania sebenarnya begitu takut, tetapi dirinya harus bersikap sewajarnya agar tidak dicurigai.
"Kak Zaskia sudah bangun? Apa kak Zaskia butuh sesuatu? Maaf aku meninggalkanmu ke toilet barusan." sapanya pada wanita yang tengah terduduk lemah di brankarnya.
Zaskia menggeleng lemah, jujur hatinya tidak bisa tenang hingga sekarang dan ia menyalahkan Dafa atas semua ini. Wanita itu memperhatikan Dafa yang tengah berjalan mendekati brankarnya dengan kesal.
" Jika anda sudah tidak ada kepentingan, silahkan anda pergi dari sini." usirnya halus.
Lelaki itu menghentikan langkahnya. Enggan rasanya beranjak dari tempat tersebut, apalagi ia tahu Zaskia mengandung anaknya dan wanita itu kini mengidap penyakit serius.
Namun dirinya harus legawa, Zaskia sama sekali tak mengharapkannya. Kehadirannya pun justru hanya akan menambah masalah bagi wanita tersebut.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi. Salam buat Kendra, Om dan Tante. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab kedua wanita itu kompak. Tania cukup lega setelah Dafa keluar dari sana.
Tania sendiri masih syok dengan fakta bahwa anak dalam rahim Zaskia ternyata bukan anak dari suaminya. Dirinya bingung menyingkapi antara harus memberitahu ataukah menyimpan rahasia ini rapat-rapat.
Zaskia menatap lekat wanita yang kini berada tepat disampingnya.
"Aku tahu kau pasti mendengarnya. Jika boleh aku mohon jangan katakan ini pada mas Kendra. Aku tidak siap untuk kehilangannya." tangis Zaskia membucah, wanita itu menggenggam jemari Tania seraya memohon.
Tania bergeming, tak tega rasanya melihat tangisan pilu Zaskia. Akan tetapi, ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti sang suami apalagi sampai berkhianat di belakangnya.
"Tolong jujur padaku. Kenapa Kak Zaskia bisa sampai hamil anak Kak Dafa? Apa kalian berselingkuh?" jawaban Zaskia tentu saja akan menjadi pertimbangan Tania dalam mengambil keputusan.
"Manamungkin aku berselingkuh dari suamiku? Bagiku mas Kendra adalah pria yang nyaris sempurna. Pria itu telah melecehkanku sewaktu aku berada diluar negeri dulu, sebelum dia tahu aku istri sahabatnya." Zaskia terpaksa membuka kembali lembaran luka lama yang tadinya ingin ia kubur sedalam-dalamnya.
Tania ikut trenyuh ketika rungunya menjadi pendengar yang baik bagi wanita tersebut.
__ADS_1
"Jadi A Kendra tahu Kak Zaskia hamil anak pria lain? Hanya saja dia tidak tahu itu perbuatan kak Dafa?" simpulnya setelah mendengar curahan hati Zaskia.
Wanita itu mengangguk lemah, rasanya ia cukup lega bisa berbagi sedikit beban dipikirannya. Ia terkesiap saat Tania membalas genggaman tangannya cukup erat.
"Baiklah. Aku akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat, kau bisa percaya padaku." perempuan itu memberi isyarat seolah mengunci kedua bibirnya sembari melengkungkan sebuah senyuman disana.
Zaskia balas tersenyum, " Terima kasih. Maaf sudah banyak menyakitimu selama ini." keduanya saling berpelukan sesaat.
Tak berselang lama Bu Santi dan Pak Bayu telah kembali, membuat kedua wanita itu melepas pelukan mereka. Kedua pasangan yang sudah tidak muda lagi itu merasa hangat dengan kedekatan kedua menantunya.
"Zaskia? Kau sudah bangun? Maaf kami barusan keluar untuk makan siang sebentar. Tania, ini pesananmu tadi Nak." tutur wanita paruh baya itu pada kedua menantunya.
"Makasih, Ma." Tania langsung mengambil alih makanan itu dari tangan mertuanya. Jujur ia mudah sekali lapar akhir-akhir ini. Ia mengacungkan makanan itu pada Zaskia.
"Cepat sembuh kak. Makanan rumah sakit nggak enak." guraunya menghibur diiringi gelak tawa seluruhnya.
"Aku pasti akan segera sembuh, kau harus siap membagi Kendra denganku lagi." timpal Zaskia senang.
"Boleh Kak, tapi tidak gratis. Ada ongkos sewa tiap malamnya." celetuknya asal hingga tanpa sadar ada seseorang yang menjewer telinganya dari belakang.
"Aduh..aduh.."
"Eh..A Kendra." perempuan itu meringis saat menyadari kehadiran suaminya.
"Heum..nakal ya. Emang aku laki apaan sampai Zaskia harus bayar sewa segala?" goda Kendra pada istri kecilnya.
"Lumayan kak buat tambahan uang jajan. He..he.." Kendra langsung memeluk dan menghujaninya dengan ciuman. Istri kecilnya itu memang sungguh menggemaskan.
Pria itu membawa Zaskia mendekati brankar Zaskia. Salah satu tangannya menggenggam jemari Zaskia dan menciumnya. Sedang yang lain, memeluk posesif pinggang Tania.
"Kalian berdua sangat berarti bagiku."
Bersambung..
__ADS_1
Maaf untuk para readers karena author off lama sekali. Karena tuntutan pekerjaan yang menumpuk di dunia nyata jadi author nggak fokus untuk menyalurkan hobi. InsyaAlloh doakan setelah ini bisa lebih intens menulis. Makasih banyak dukungannya😍