Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 81


__ADS_3

"Apa? Katakan sekali lagi. Apa benar Zaskia mengandung anakku?" Dafa memastikan apa yang didengar oleh rungunya. Lelaki itu mencengkram kedua lengan Hesti hingga membuat wanita itu semakin gugup karenanya.


Hesti merutuki yang baru saja dia katakan. Padahal, dirinya belum tahu bagaimana kelanjutan hubungan Kendra dan Zaskia. Bagaimana jika Kendra mau menerima kenyataan? Sebab Kendra kemarin tak menjawab apa-apa ketika ia memohonkan maaf untuk Zaskia.


"Maksudku aku tidak tahu, tapi sepertinya Kendra dan Zaskia baik-baik saja." jawabnya ambigu.


Dafa menghempaskan tubuh Hesti dengan kasar, padahal entah mengapa terselip rasa bahagia ketika mendengar Zaskia tengah mengandung putranya. Ia menyorot tajam pada wanita dihadapannya.


"Tanpa kau beritahu, aku pasti bisa mencari jawabannya sendiri." tegasnya berlalu meninggalkan Hesti.


Wanita itu sedikit bernafas lega, tetapi ia yakin Dafa pasti tak akan tinggal diam. Ia memilih untuk segera pulang daripada harus berurusan dengan lelaki tersebut kembali.


***


Dengan kuasanya, Dafa berhasil mengorek informasi mengenai Zaskia. Tubuhnya bergetar hebat ketika mengetahui jika wanita itu tengah hamil dengan usia kandungan 10minggu. Itu artinya wanita itu hamil saat mereka sama-sama di luar negeri dan bisa dipastikan bahwa itu memang benar calon buah hatinya.


Akan tetapi, Dafa begitu terguncang begitu membaca diagnosa pasien yang menyatakan bahwa Zaskia terkena Leukemia stadium 4.


Kakinya seakan tak sanggup menopang berat tubuhnya, pria itu bersimpuh diatas lantai meratapi betapa malangnya nasib wanita yang tengah mengandung anaknya kini. Tanpa terasa, bulir bening lolos begitu saja dari kedua netranya. Rasanya ia rela menukar kebahagiaannya demi kesembuhan Zaskia.


***


Zaskia baru saja tertidur akibat pengaruh obat yang diberikan perawat tadi pagi. Tania, Bu Santi serta Pak Bayu masih setia menunggui wanita itu diruangannya. Pak Bayu melirik jam mewah yang bertengger dipergelangan tangannya. Ia berniat mengajak Bu Santi dan Tania untuk makan siang sebentar di kantin rumah sakit.


"Ma, apa tidak sebaiknya kita makan siang dulu? Mumpung Kia masih tidur. Kasihan Tania, dia juga sedang hamil, jangan sampai telat makan." ajak Pak Bayu pada istrinya.


"Boleh, Pa. Kia juga baru tidur, kayaknya nggak pa pa kalau ditinggal sebentar." Bu Santi sepaham.

__ADS_1


Beliau memperhatikan Tania yang duduk disofa sembari memainkan jemarinya diatas gawai. Perempuan itu tengah asyik berbalas chat dengan suaminya. Kebetulan Kendrapun mengingatkannya untuk tidak melupakan makan siangnya.


" Tania? Bagaimana kalau kita ke kantin dulu, mumpung Zaskia masih tidur? " ajak wanita paruh baya itu.


"Apa nggak pa-pa ninggalin Kak Zaskia sendiri, Ma? Takutnya tiba-tiba bangun dan butuh sesuatu. Gimana kalau Mama sama Papa ke kantin duluan? Tania nitip dibungkusin aja, biar nanti saya makan disini."


Terus terang perempuan itu masih sungkan makan bersama kedua mertuanya. Meskipun mereka baik, tetapi ia masih canggung lantaran perbedaan status mereka yang mencolok. Apalagi, sebenarnya Tania mengantuk sebab semalam dirinya hampir tidak tidur. Mungkin ia bisa berbaring di sofa sambil menunggui Zaskia.


"Oke. Begitu juga boleh. Kamu mau makan sama apa? Nanti Mama bungkusin."


"Apa saja, Ma. Makasih."


Kedua mertua Tania akhirnya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tania bernafas lega, ia bisa sedikit bebas sekarang. Perempuan itu memperhatikan Zaskia yang tampak pulas diatas brankar. Iapun kini mulai berselonjor di atas sofa.


Ia merutuki kelakuan suaminya semalam yang meminta jatah entah berapa kali sampai dirinya baru tidur dini hari tadi. Namun, ada baiknya juga, terbukti setelah mendapat jatah hubungan mereka jadi harmonis kembali.


Baru saja dirinya berselonjor, tiba-tiba perutnya terasa mulas. Perempuan itu langsung menuju kamar mandi dalam ruangan untuk menuntaskan hajatnya.


"Heh, Breng**k. Ngapain kamu kesini?" Zaskia beringsut bangun saat merasakan sentuhan pada bagian perutnya. Dirinya terperanjat melihat Dafa lancang membelai lembut perutnya yang masih rata.


"Tenang, Kia. Aku kesini hanya ingin menengokmu dan calon anak kita. Aku tahu saat ini kamu sedang hamil anakku." ungkap lelaki itu sendu.


Hati Dafa terkoyak menatap wanita yang ada dihadapannya. Wanita yang didiagnosa menderita penyakit berat, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya saat ini. Iapun tahu jika Zaskia belum tahu akan penyakitnya, ia sendiri takkan sanggup mengatakan hal tersebut.


"Aku tidak butuh perhatian darimu, Dafa Wardhana. Sudah cukup kau membuatmu menderita selama ini. Aku mohon, jangan pernah ganggu aku lagi." suara Zaskia berangsur melemah seiring airmata yang jatuh membasahi kedua pipinya. Melihat Dafa seolah membuatnya teringat peristiwa beberapa bulan yang lalu, meninggalkan luka yang begitu membekas dihatinya.


"Maaf, Kia. Aku akui, aku memang salah. Tadinya aku ingin melepaskanmu, tetapi ternyata takdir berkata lain. Ada janin ini yang mengharuskanku untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadapmu." tutur Dafa menghiba.

__ADS_1


Zaskia tersenyum smirk,


"Tanggung jawab? Kau pikir aku butuh pertanggung jawaban darimu? Maaf, aku punya suami yang begitu mencintai dan menerima keadaanku. Dia bahkan menolongku saat aku ingin membuang jauh-jauh janin ini dari perutku. Jika bukan karena Kendra, aku pasti sudah menggugurkannya. Karna aku tak sudi hamil anak pria brengsek sepertimu!" sulut Zaskia berapi-api.


Jika tak mengingat Zaskia sedang sakit, ia pasti tak akan terima dihina seperti itu. Ucapan Zaskia seolah menginjak-injak harga dirinya, padahal ia memiliki itikad baik untuk bertanggung jawab. Ia sadar, Zaskia seperti itu juga akibat ulahnya.


Dafa mencoba menetralkan amarahnya,


"Sekali lagi aku minta maaf. Aku harap kau memikirkan kata-kataku. Mungkin Kendra bisa menerimamu sekarang. Namun, apa kau bisa menjamin pria itu bisa memperlakukan anakmu dengan adil, sementara istri kecilnya juga memiliki anak yang jelas-jelas darah dagingnya. Aku tak mau anakku tersakiti nantinya. Dia tidak berdosa dan dia berhak bahagia." tegas Dafa berusaha membuka pikiran wanita tersebut.


"Aku tak peduli, apa kau pikir aku akan bahagia dengan kehadirannya? Jelas saja akupun pasti sakit ketika melihat anak itu yang akan membuatku teringat akan kebiadabanmu! Aku lebih rela mati asal tetap berada disamping Mas Kendra. Kau tahu itu!"


DEG..


Seperti dihujam mata pisau tepat di ulu hatinya, itulah yang dirasakan Dafa saat ini. Dari tatapan Zaskia, ia tersadar jika wanita itu sangatlah membencinya. Harapan untuk menyanding wanita itu seolah pupus dengan sendirinya.


Pria itu bergeming, merasakan nyeri dihati akibat penolakan Zaskia. Ternyata mencintai tanpa berbalas itu lebih sakit dibandingkan dicintai. Mungkin inilah yang dirasakan oleh Julia dulu hingga wanita itu sampai memutuskan ingin mengakhiri hidupnya.


"Baiklah jika kau bersikeras menolak pertanggungjawaban dariku. Tapi aku mohon, jaga janin ini dengan baik. Sayangi dia meskipun kau sangat membenciku. Aku ikhlas melepaskanmu asal kalian bahagia." putusnya berhenti berharap. Yah, ia memutuskan kembali memadamkan api harapan yang tadi pagi baru saja tersulut setelah mengetahui Zaskia hamil anaknya.


"Baiklah. Tapi kau harus berjanji. Anggap kita tak pernah bertemu dan tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita." pinta Zaskia tanpa menatap lawan bicaranya.


Dafa hanya mengangguk pasrah, mulutnya terasa kelu untuk sekedar berkata-kata. Mungkin inilah yang dinamakan patah hati.


Pria itu berniat pergi, tetapi keduanya terkejut mendengar bunyi sesuatu yang jatuh dikamar mandi.


Tania merutuki kebodohannya, ia tak sengaja menginjak pembersih lantai lantaran kaget mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Siapa disana? Cepat keluar!"


Bersambung...


__ADS_2