
"Apa yang kau lakukan disini?!"
"Ken-dra?"
Hesti tertegun melihat suami Zaskia tiba-tiba bisa berada disana. Wanita itu langsung dilanda ketakutan hingga bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Kendra.
"Jangan diam saja! Jawab! Dimana Zaskia?!" sudah bisa Kendra pastikan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua wanita tersebut. Lantaran tak kunjung mendapat jawaban, pria itu berniat masuk kedalam rumah tanpa permisi. Ia yakin Zaskia ada didalam.
"Ken. Jangan Ken! " Hesti berusaha mencegah, tetapi Kendra tetap nyelonong masuk ke dalam rumah. Netranya mencari-cari sosok sang istri kala menyadari ruang tamu disana nampak lengang.
Zaskia yang berada didalam kamar seperti mendengar keributan diluar. Akan tetapi, dirinya pikir itu hanyalah keributan biasa. Ia kembali fokus pada wanita paruh baya yang kini tengah mengoleskan sesuatu pada perutnya.
"Saya tanya sekali lagi. Apa anda yakin ingin menggugurkan kandunganmu Nona?" tanya wanita itu memastikan.
"Iya, Bu. Saya yakin, saya tidak mau janin ini tumbuh di rahimku. Tolong ibu lakukan secepatnya."jawabnya penuh keyakinan.
Wanita itu meminta Zaskia meminum obat sebelumnya. Setelah itu perlahan ia mulai memijat perut Zaskia hingga wanita itu merasakan nyeri yang luar biasa dibagian perut.
"Aaarrgghh.."
Wanita itu menjerit kesakitan saat merasakan nyeri yang luar biasa dibagian perut.
"Tahan, Nona. Ini baru permulaan."
Saat wanita itu hendak mengurut perut Zaskia kembali, tiba-tiba saja pintu didobrak dari luar. Kendra segera masuk saat mendengar samar-samar jerit seseorang dari salah satu kamar.
Netranya membulat tak percaya kala melihat sang istri merintih kesakitan dengan posisi seperti hendak melahirkan. Sebuah pikiran negatif langsung terbersit di kepalanya, amarah lelaki itu seakan bercokol hingga keubun-ubun saat ini. Netranya tertuju pada wanita paruh baya yang sedang berada di dalam sana.
"Hei! Apa yang sedang kau lakukan pada istriku?!" ia menghunuskan tatapan tajam pada wanita paruh baya yang berdiri dengan kaki gemetaran.
"Ma-af, Tuan." ucapnya ketakutan.
Kendra hendak marah, tetapi dirinya kembali dikejutkan oleh Zaskia yang kembali merintih kesakitan.
__ADS_1
"Aaarrghh Ken! Sakit banget." wanita itu merintih kembali sembari memegangi perutnya.
Kendra terkesiap, seketika rasa khawatir meliputi pria itu saat melihat Zaskia pucat sembari merintih kesakitan. Pria itu langsung membenahi pakaian Zaskia dan membawanya pergi dari sana.
Kendra berjalan cepat keluar ruangan, Hesti ikut terperanjat melihat Zaskia pingsan dalam gendongan suaminya.
"Kia kenapa?" pertanyaan bodohnya berhasil menyulut emosi Kendra.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku. Kau orang pertama yang akan ku tuntut!"
DEG..
Perasaan Hesti semakin was-was, ia jadi khawatir terjadi sesuatu pada Zaskia. Wanita itupun mengekori Kendra pergi dari sana karena ia juga cemas dengan sahabatnya.
Keduanya berjalan cepat menuju mobil Zaskia. Kendra memutuskan untuk membawa istrinya langsung ke rumah sakit sebab tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Zaskia. Ia membiarkan Hesti ikut bersama dengannya. Wanita itu mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat.
Kendra meletakkan kepala Zaskia di pangkuannya sembari sesekali mengusap puncak kepala wanita itu. Sejujurnya ia sangat cemas kendati dalam otaknya masih bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang istri sebenarnya.
***
Kendra tengah menunggu hasil pemeriksaan sang istri dengan harap-harap cemas. Pria itu langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang tempat Zaskia dirawat.
"Dok, bagaimana keadaan istriku? Dia baik-baik saja kan Dok?" hal mustahil sepertinya melihat keadaan istrinya barusan.
"Apa anda keluarga dari pasien? Mari ikut ke ruangan saya."
Hesti yang mendengar perkataan sang dokter semakin gelisah. Apalagi, Kendra saat ini tengah mengikuti dokter ke ruangannya. Ia khawatir akan nasib sahabatnya setelah ini.
" Ya Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Zaskia setelah Kendra tahu akan kondisinya." tanpa terasa netranya berembun merasa iba pada sahabatnya.
***
"Dokter? Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi pada istriku?" Kendra langsung menodong dokter itu dengan pertanyaan saat baru masuk keruangannya.
__ADS_1
Dokter meminta Kendra untuk duduk terlebih dahulu. Beliau ingin agar Kendra lebih tenang sebelum ia menjelaskan apa yang tengah dialami oleh Zaskia.
"Maaf sebelumnya, Tuan. Karena saya akan menyampaikan sebuah berita baik dan juga sebuah berita buruk untuk anda."
Kendra menyiapkan mentalnya, ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh sang dokter. Pria itu mendengarkan dengan seksama.
" Pertama-tama saya ingin menyampaikan berita baik bahwa istri anda saat ini tengah hamil dengan usia kandungan 10 minggu. Ada sedikit kontraksi dengan rahimnya, tetapi alhamdulillah kondisia janinnya dalam keadaan sehat."
Bak tersambar petir Kendra begitu terperanjat mendengar ucapan sang dokter. Bagaimana bisa istrinya hamil dua bulan lebih? Sedangkan Zaskia baru pulang satu bulan yang lalu dan ia baru menyentuh kembali istrinya semalam.
Kendra berusaha menutupi gemuruh di hatinya dan ingin mendengarkan penjelasan dokter kembali. Ia penasaran dengan kabar buruk yang akan disampaikan pria berjas putih tersebut.
"Lalu kabar buruknya?"
Dokter menghela nafas sesaat,
"Tuan. Dari hasil pemeriksaan kemungkinan istri anda terkena leukemia. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk masalah ini."
Hati Kendra seakan terhujam benda keras, ia benar-benar terpukul dengan apa yang baru saja didengarnya. Meskipun ia kecewa mendengar kehamilan Zaskia, tetapi hatinya lebih sakit menerima kenyataan jika istrinya tengah mengidap penyakit berat.
Kendra keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Begitu terpukul dengan dua berita yang sama-sama buruk baginya. Sakit..itulah yang ia rasakan sekarang. Batinnya seolah tertusuk duri yang begitu tajam hingga menembus relung hatinya.
Pria itu kembali ke tempat istrinya dirawat. Wanita itu telah dipindahkan ke ruang VVIP setelah tersadar kembali.
Hesti sengaja menunggu Kendra di luar ruangan Zaskia. Ia menghampiri Kendra setelah melihat kedatangannya. Pria itu hanya menatap dengan sorot matanya yang dingin.
"Ken. Aku tahu sekarang kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi pada Zaskia. Aku mohon tolong jangan salahkan dia, disini Zaskia hanyalah korban. Dia, dia telah diperkosa saat dulu kami berada di Singapura. Zaskia tak pernah berniat mengkhianatimu, Ken. Dia sangat mencintaimu."
Hanya itulah yang mampu diperbuat Hesti kali ini sebagai seorang sahabat. Ia berharap Kendra berbaik hati memaafkan istrinya walaupun kemungkinan hal itu sangat kecil. Hestipun menceritakan apa yang dialami Zaskia dan keinginan gilanya untuk menggugurkan kandungan.
Kendra seolah tak peduli sama sekali dengan penjelasan Hesti. Pria itu justru pergi begitu saja dan masuk ke dalam ruangan istrinya.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya 😍