Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 92


__ADS_3

Kendra menurunkan Tania dibangku belakang mobilnya, pria itupun ikut masuk kemudian duduk disamping perempuan tersebut.


"Jalan, Pak."


"Kita kemana, Tuan?" Pak Ujang menunggu komando dari atasannya.


"Luxury Hotel."


Pria paruh baya itupun mengangguk dan menjalankan mobil sesuai instruksi sang atasan.


Tania masih dalam mode memberengkut kesal, ia melirik sengit sang suami kala mendengar pria itu akan membawanya ke hotel. Dari bau-baunya pria itu pasti menginginkan kepuasan jika berhubungan dengan kamar.


"Aku mau pulang, tidak ada ke hotel-hotel segala. Ngapain juga lagi nggak mood." Sinis perempuan itu seraya memunggungi suaminya. Ia memilih menatap sisi jalan dari pada melihat wajah tampan suaminya yang baru saja marah-marah tadi.


Pria itu gemas sendiri dengan kelakuan istri kecilnya. Ingin sekali ia menarik wanitanya dan menghujani dengan ciuman bertubi-tubi, tetapi urung ia lakukan lantaran otaknya mendadak ingin menjahili perempuan tersebut.


"Dasar mesum. Siapa juga yang mau ngajak gitu-gituan. Apa kau lupa jika kau akan mendapat hukuman dariku? Yang jelas bukan yang enak-enak." tekan Kendra menyeringai penuh kemenangan.


Jangan ditanya ekspresi Tania sekarang. Wajah perempuan itu sudah memerah menahan malu, bisa-bisanya Kendra berkata seperti itu padanya, sedangkan didalam mobil ada Pak Ujang juga disana.


Ia memperhatikan ekspresi Pak Ujang dari balik spion. Untung pria itu terlihat lempeng dan datar-datar saja, jika tidak ia pasti repot harus menaruh mukanya dimana saat ini. Padahal, Pak Ujang hampir saja ngakak mendengar majikan lelakinya mengatai istrinya "mesum".


Tak ada obrolan yang berarti hingga keduanya tiba ditempat tujuan. Mobil berhenti dan Kendra menginstruksikan untuk turun. Ia semakin gemas melihat Tania ogah-ogahan bahkan masih bersantai dalam mobil sembari memainkan gawainya.


"Ayo turun. Apa memang sengaja ingin kugendong sampai ke kamar,heum?"


"Jawab dulu. Kita ngapain kesini?" masih dalam mode waspada. Ia tak percaya sepenuhnya pada Kendra.


"Aku mau kau membersihkan kamar mandi hotel."jawab Kendra sekenanya.


Tania mendelik seketika," Untuk apa membersihkan kamar mandi hotel yang jelas-jelas sudah bersih. Ada-ada saja." gerutunya tak percaya.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak tanya. Turun atau ku gendong?" titahnya tegas membuat perempuan itu terpaksa mengekori suaminya dari belakang.


Keduanya masuk ke salah satu kamar president suit yang ada disana. Kendra langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang berukuran king size. Pria itu menghembuskan nafas berat, kedua tangannya terentang, pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar.


Ada sedikit rasa lega setelah beberapa hari ini cukup stres dengan pekerjaan dan urusan pribadinya.


"Yang, sini." ia menepuk-nepuk ranjang sebelahnya, berharap belahan hatinya mendekat dan memeluk rapat tubuhnya. Rasanya ia rindu sekali dengan Tania yang kerap bermanja-manja dengannya.


Perempuan itu enggan bergeming meski sebenarnya ia juga rindu saat-saat seperti itu. Dirinya masih kesal dengan sikap Kendra tadi, selalu diperlakukan lembut membuatnya jadi sensitif mendengar suara Kendra yang meninggi.


"Katanya mau disuruh membersihkan kamar mandi. Nggak mau yang gitu-gituan." sindirnya kesal.


"Adek sayang? Mana mungkin aku nyuruh kamu bersihin kamar mandi hotel? Aku cuma kangen pengen berduaan sama kamu Yang. Aku lagi capek, kalau mau hukumannya aku ganti sama mijitin aku saja." godanya mengerling manja.


"Ih, genit banget sih. Tadi aja marah-marah nggak jelas. Ngatain mesum lagi." gerutunya sebal.


Pria itu menghela nafas kasar, lelah hayati jika harus menghabiskan waktu hanya untuk berdebat saja. Iapun langsung menghampiri sang istri, menggendongnya dan meletakkan perempuan itu diatas ranjang.


Berawal dari pemaksaan, tetapi tetap saja berujung manis setelahnya. Keduanya sama-sama terengah dengan nafas yang memburu setelah pertukaran saliva mereka.


Sebuah senyum melengkung dibibir Kendra, ia membersihkan sisa saliva diujung bibir yang istri. Membuat hati Tania berdesir karenanya.


"Lain kali jangan terlalu dekat dengan pria lain. Kamu membiarkannya menyentuh tanganmu, kau juga tertawa begitu lepas dengannya. Aku tidak suka." ungkap Kendra menatap lekat kedua netra istrinya.


"Astagfirulloh Aa. Aku juga nggak tahu kalau Zayyan megang tangan aku. Tadi juga langsung ku lepas setelah sadar. Kami cuma bercanda Aa. Cemburumu itu mengada-ada. Aku juga kan kesepian, butuh hiburan dan kasih sayang. Kamu jarang perhatian sekarang." curhatnya sendu.


Kendra memposisikan kepalanya di pangkuan sang istri, sesekali ia mencium dengan gemas perut sang istri sembari menyapa calon baby mereka.


"Hallo jagoan Papa. Baik-baik diperut Bunda ya." ucapnya sembari mencium dan mengelus perut istrinya, kini netranya beralih pada perempuan yang begitu dirindukannya.


"Maafin Aa Yang. Aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Peresmian hotel dan apartemen yang harusnya bulan kemarin saja diundur jadi minggu depan. Aku juga cukup stres memikirkan penyakit Zaskia. Rencananya Kia akan aborsi sebab janinnya tidak berkembang sempurna. Kami juga belum menemukan pendonor sumsum tulang yang cocok untuk Kia." jawabnya sendu, Kendra merasa gagal menjaga wanita yang telah diamanahkan kepadanya. Ia miris dengan Zaskia yang sudah tidak memiliki siapa-siapa disaat wanita itu butuh support besar untuk kesembuhannya.

__ADS_1


"Astagfirulloh..sampai segitunya? Berarti penyakit Kak Kia parah ya A?" ungkapnya menghiba.


Kendra terpaksa menceritakan semua pada Tania, rasanya ia tak sanggup menanggung beban ini sendiri. Ia mohon pengertian Tania kembali akan posisinya saat ini. Iapun merasa bersalah lantaran Taniapun sedang hamil besar saat ini.


Perempuan itu cukup bisa menjadi pendengar yang baik. Ia mengerti posisi sang suaminya yang serba salah sebenarnya. Wanita itu membuai sang suami seraya mengusap rambutnya perlahan.


"Enak banget Yang. Boleh tidur disini?" pria itu menghadap ke perut istrinya, kemudian tangannya memeluk posesif pinggang perempuan tersebut.


"Alhamdulillah tidur aja berarti ya?" godanya pada sang suami.


" Sekarang iya. Nggak tahu nanti, lagi capek banget. Oh ya minggu depan temani Aa menyambut kolega pas peresmian hotel. Aku mau mengenalkan kamu sama rekan bisnisku." pintanya sembari memejamkan mata, menikmati rasa nyaman dalam buaian istrinya.


"Kenapa aku? Aa nggak ngajak Kak Zaskia?" tanyanya penasaran, meski dalam hati senang jika dirinya dikenalkan Kendra pada khalayak ramai.


"Kia dari dulu tidak suka hubungan kami publish. Dia juga kemungkinan habis kuret jadi harus banyak istirahat. Aa belum bisa mengungkapkan jika Aa punya istri dua sekarang. Kebanyakan publik pasti berpikir negatif dan itu bisa berdampak buruk untuk bisnis baruku. Kamu mau kan sayang, dikenalkan sebagai Nyonya Ardiansyah?


Wajah Tania berbinar seketika, tentu saja ia mau. Wanita memang sejatinya butuh pengukuhan dan pengakuan. Wanita tak menjawab, tetapi langsung menghadiahi kecupan sayang untuk suaminya.


"Duh..mancing nih ceritanya?" netra Kendra langsung terang mendapat kecupan tak terduga.


"Ih..siapa juga yang mancing. Mau bilang makasih aja." jawab Tania malu-malu.


"Makasihnya nggak gratis ya?" godanya dengan tatapan manja. Tiba-tiba pria itu menyingkap atasannya dan mencium seraya mengendus dengan dagunya yang sedikit berkumis.


"Aa geli.." rengek Tania yang seketika meremang dibuatnya.


" Yaudah langsung tancap aja biar geli-gelinya tambah nikmat." Kendra menaik turunkan alisnya.


Dan kelanjutannya terserah pemirsah..puasa ya..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2