
Kendra agaknya gugup berhadapan dengan dokter yang baru saja menangani Zaskia. Dilihat dari raut wajahnya, sang dokter nampak serius dengan raut wajah yang terlihat sedikit tegang.
"Bagaimana perkembangan mengenai istri saya, Dok?" tanyanya tak sabaran.
Sang Dokter menghela nafas kasar,
"Dengan berat hati saya sampaikan bahwa istri anda mengalami Chronic Myelogenous Leukimia dan saat ini telah memasuki stadium 4. Kankernya telah menyebar dan mulai menyerang organ vital seperti paru-parunya. Kemungkinan untuk bisa bertahan hidup sangat kecil, tetapi kembali lagi kita serahkan semuanya kepada Sang Pemberi Kehidupan."
DEG..
Jantung Kendra seakan berhenti berdetak mendapati berita tersebut. Apapun keadaannya, Zaskia adalah salah satu wanita yang mengisi ruang dihati lelaki itu.
"Apa tidak ada cara untuk kesembuhannya,Dok? Saya mohon, saya akan lakukan apapun demi kesembuhan istriku." pintanya menghiba.
"Mengingat kondisi Ibu Zaskia kini yang sedang hamil, rasanya cukup sulit untuk melakukan kemoterapi maupun terapi radiasi karena akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan janinnya. Untuk lebih jelasnya, Tuan bisa berkonsultasi dengan Dokter spesialis Hematologi Onkologi. Disana akan dijelaskan lebih detail mengenai perkembangan sel kanker beserta pengobatan yang paling efektif untuk istri anda." jelas sang Dokter.
Kendra meraup wajahnya kasar, masalah yang ia hadapi nampaknya semakin pelik. Pria itu membuang nafas kasar sebelum akhirnya meninggalkan ruangan sang Dokter dan kembali ke ruangan Zaskia.
Pria itu berhenti sesaat didepan ruangan sang istri untuk menetralkan perasaannya. Kendra harus tetap berusaha untuk tersenyum dan menyemangati Zaskia. Dia bertekad mengajak Zaskia untuk berjuang sekuat tenaga melawan penyakit yang diderita.
Ceklek..
Pintu ruangan terbuka, binar bahagia seketika terpancar di wajah Zaskia kala menyadari sang suami telah kembali ke ruangannya. Pria itupun membalas dengan membuat sebuah lengkungan indah di kedua sudut bibirnya.
Hesti yang sadar akan situasi memilih keluar untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut agar bisa berbicara dari hati ke hati.
"Kia? Aku keluar dulu ya. Kan sudah ada suami tercinta."goda Hesti pada sahabatnya.
"Heem, baiklah. Makasih ya Hes, kamu udah care sama aku, jagain aku. Kamu emang sahabat terbaik bestie." tutur wanita itu tulus.
"Sama-sama, Kia. Kamu juga kan udah banyak nolong aku selama ini. Kamu ngasih aku pekerjaan, bantuin keluargaku dulu. Ya sudah, aku keluar dulu ya." balas Hesti berpamitan kembali.
"Hes, kalau kamu mau pulang dulu nggak pa-pa. Sebentar lagi Mama sama Papa mau kesini. Kasihan kamu juga belum istirahat dari kemarin." sahut Kendra menawarkan.
__ADS_1
" Owh..ya udah. Aku mau pulang dulu sekalian mandi dan ganti pakaian. Ntar aku kesini lagi. Cepat sembuh bestie."
Setelah saling berpelukan, Hestipun melenggang keluar meninggalkan ruangan Zaskia.
Kendra mengambil alih tempat duduk wanita tersebut yang berada di samping sang istri. Sesaat netranya menatap lekat wanita yang kini terlihat lebih kurus dan pucat.
Lelaki itu berpikir mungkin inilah saat yang paling tepat untuk menyampaikan penyakit Zaskia. Yah, lebih cepat lebih baik sebab penyakit wanita itu harus segera ditangani. Bila perlu, Kendra akan membawa Zaskia berobat ke luar negeri dan mencari dokter terbaik disana.
"Ada apa, mas? Kok lihatinnya seperti itu?" wanita itu melihat gurat-gurat kesedihan di wajah sang suami.
"Baby, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. Aku harap kau kuat dan aku berjanji akan selalu berada dibelakangmu untuk mendukung." ujar pria itu menatap penuh keyakinan.
Zaskia menyimak dengan baik apa yang akan disampaikan oleh sang suami. Ia juga sangat penasaran mengingat pria itu terlihat begitu serius sebelum menyampaikan.
Kendra menghela nafas panjang,
"Kia sebenarnya kamu saat ini.."
"Assalamualaikum.."
Nampak Mama dan Papa Kendra, Tania, Bi Marni dan Bi Sumi sengaja datang untuk melongok Zaskia.
"Waalaikumsalam.."
Zaskia dan Kendra menjawab salam tersebut. Binar kebahagiaan kembali terpancar di wajah Zaskia mendapat dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya.
"Nak selamat atas kehamilannya ya. Kami harap Kia dan calon cucu Mama cepet sehat biar kita bisa kumpul-kumpul lagi." ucap Bu Santi mewakili semuanya. Mereka satu persatu memeluk Zaskia dan memberikan ucapan selamat untuk wanita tersebut.
"Kak Kia,selamat ya. Setelah ini mungkin kita bisa periksa kehamilan bareng-bareng, ikut senam kehamilan bareng. Jadi aku ada temennya. Kak Kia sekarang hamil berapa minggu? Duh si Aa langsung gas pol jadinya bisa dobel gini." goda Tania.
Zaskia hampir saja menjawab, tetapi Kendra langsung memotongnya.
" Hamil 15minggu. Kia hamil sebelum berangkat ke luar negeri." pria itu tak ingin membuat yang lain merasa curiga jika tahu usia kandungan Zaskia yang sebenarnya.
__ADS_1
"Berarti Tania sama Zaskia cuma beda sebulan usia kandungannya ya? Aduh..Mama seneng banget bakal punya cucu seumuran jadi bisa pada main bareng nanti." Bu Santi menanggapi dengan penuh antusias.
Zaskia tersenyum lega, dalam hati ia sangat bersyukur memiliki suami yang begitu baik dan pengertian. Mungkin hanya seribu satu pria yang bisa berlapang dada jika istrinya ketahuan hamil anak pria lain. Bahkan, Kendra sendiri berusaha menutupi aibnya.
"Makasih, mas. Semoga Alloh memberiku kesempatan untuk menjadi istri yang berbakti padamu." batinnya berharap.
Kendra sendiri tak sampai hati menyampaikan penyakit Zaskia, apalagi disana sedang ada banyak orang. Pria itu melirik jam yang melingkar ditangannya, sudah setengah delapan lebih dan dirinya harus segera berangkat ke kantor.
"Ma,Pa, Sayang nitip Kia ya. Aku harus segera berangkat ke kantor soalnya ada meeting pagi ini. Nanti setelah meeting aku akan langsung kesini." pamit Kendra.
Zaskia jadi teringat Kendra tadinya ingin menyampaikan sesuatu.
"Oh ya mas.Tadi mau ngomong apa? Nggak jadi?" tanyanya penasaran.
Pria itu tersenyum simpul.
"Nanti saja. Kamu baik-baik disini, cepat sembuh. Mas kerja dulu." pria itu pamit sembari meninggalkan sebuah kecupan di puncak kepala Zaskia lalu Tania. Keduanya menyalim takzim tangan sang suami.
"Duh..jarang baget lo istri pertama sama kedua rukun kayak gini. Kamu beruntung Ken." ungkap sang Mama kagum melihat kedua menantunya.
"Makasih, Ma." pria itu berganti mencium takzim kedua tangan orang tuanya sebelum berangkat kerja. Dalam hati Kendra mengaminkan, meskipun saat ini permasalahannya begitu pelik.
***
Hesti yang tadinya mau pulang, entah sengaja atau tidak tiba-tiba berpapasan dengan Dafa. Lelaki itu menarik tubuh Hesti ke tempat yang dirasa cukup sepi.
"Apa benar Zaskia hamil? Katakan dengan jujur, itu anakku ataukah anak Kendra?" tanyanya menyorot tajam wanita tersebut.
Hesti benar-benar ketakutan, apalagi Dafa mencengkram lengannya cukup kencang.
"Sebenarnya anak itu anak anda, Tuan."
Bersambung..
__ADS_1
Mohon maaf bestie,, author sibuk banget akhir-akhir ini. Maaf belum bisa membalas komen satu persatu, author berusaha buat up tiap hari. Makasih buat teman-teman yang selalu mendukung. Love u all😍