
Zaskia baru saja selesai mandi, wanita itu keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya sembari menggosok rambutnya yang masih basah.
Ia tersenyum ke arah sang suami yang saat ini tengah duduk sembari menikmati kopi di pagi hari. Pria itu terlihat segar dan tampan dengan rambut yang masih sedikit basah, ia telah mandi lebih dulu sebelum sang istri.
Kendra meletakkan cangkirnya dan mendekati Zaskia yang kini tengah duduk di depan meja riasnya.
" Sini aku bantu. " pria itu mengambil hair dryer dari tangan sang istri dan membantu wanita itu mengeringkan rambut. Sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan bersama Zaskia dulu dan Kendra ingin mengulang masa-masa itu.
"Terima kasih untuk semalam."
"Itu sudah kewajibanku dan maaf telah mengabaikanmu belakangan ini."
Keduanya berciuman sesaat, lalu melepaskan pagutannya. Lelaki itu kembali mengeringkan rambut sembari menyisir rambut sang istri dengan telaten.
Hati Zaskia berliput kebahagiaan, akhirnya semalam Kendra kembali menggaulinya seusai jamuan makan malam bersama Dafa.
Dahaga di hatinya seakan terobati oleh sentuhan hangat sang suami. Belaian lembut yang selalu ia dambakan setiap malam akhirnya tersalur jua. Apalagi, pagi ini pria itu kembali bersikap manis padanya, persis seperti dulu.
Kendra berusaha kembali membuka diri untuk Zaskia. Sesuai arahan Tania, ia diminta agar tidak egois dan harus bersikap adil pada kedua istrinya termasuk dalam hal urusan ranjang.
Meskipun Kendra masih menata kembali hatinya untuk Zaskia akibat rasa kecewa. Akan tetapi, dirinya harus tetap menjalankan kewajibannya yaitu memberikan nafkah lahir dan batin pada kedua istrinya. Kendra berupaya untuk bersikap hangat seperti dulu.
Saat menyurai rambut Zaskia, Kendra terkejut menyadari rambut istrinya yang rontok begitu banyak.
"Baby, kenapa rambutmu rontok segini banyaknya? Apa kamu mengganti shampomu atau karna pengaruh obat?" tanyanya heran.
__ADS_1
Cukup ngeri bagi Kendra menyaksikan rambut Zaskia yang rontok begitu banyak. Rontok seperti itu kurang wajar menurutnya.
"Iya, akhir-akhir ini rambutku memang rontok cukup banyak. Tapi, mas tidak usah khawatir. Mungkin ini cuma gara-gara stres atau pengaruh hormon saja." sangkal Zaskia menenangkan.
"Tidak, Baby. Menurutku kau tetap harus memeriksakan dirimu ke dokter. Akhir-akhir ini kau juga sering mual dan pusing, kondisi kesehatanmu pun kurang bagus. Bagaimana kalau nanti siang kau ikut aku dan Tania sekalian ke rumah sakit? Hari ini dia ada jadwal kontrol kandungan, kau bisa sekalian memeriksakan kesehatanmu. "bujuk Kendra setengah memaksa.
"Ti-dak perlu, honey. Aku, aku hari ini ada janji dengan managerku. Aku akan mengambil beberapa job untuk mengisi kesibukan. Nanti aku akan periksa sendiri setelahnya." jawabnya gugup. Tentu saja Zaskia tidak mau, ia takut jika Kendra sampai tahu bahwa dirinya sekarang sedang hamil.
" Secepatnya aku harus menggugurkan kandunganku. Jangan sampai Kendra curiga. Akupun tak sudi mengandung benih pria brengsek itu." tekadnya sudah bulat.
Kendra merasa ada yang aneh dengan Zaskia, wanita itu cukup alot jika berhubungan dengan dokter. Padahal, ia sangat khawatir dengan Zaskia, meskipun kemarin-kemarin sempat kesal tetapi tetap saja ia tak sampai hati melihat istrinya kenapa-napa.
***
Pukul empat sore Kendra sudah beranjak dari kantornya. Ia tak ingin melewatkan perkembangan calon buah hatinya dalam perut Tania. Rasanya ia sudah tak sabar menunggu kelahiran buah hatinya ke dunia ini.
Beberapa ibu-ibu hamil telah mengantri di depan ruangan sang Dokter. Begitupun Kendra dan Tania, mereka dengan sabar menanti giliran dipanggil ke ruangan sang Dokter.
"Kenapa tanganmu dingin sekali? Apa kau gugup?" Kendra menggenggam jemari sang istri sembari mengusap perutnya yang masih sudah sedikit buncit, tetapi tertutup oleh kaos oblongnya.
"Heum..aku takut A. Katanya wanita seusiaku masih terlalu muda untuk melahirkan. Bagaimana kalau seandainya aku tidak sanggup untuk mengejan karena kehabisan tenaga." ucap Tania terlalu mendrama.
Kendra memicingkan sebelah matanya, "Siapa yang bicara seperti itu padamu?" ia yakin ada yang telah memprovokasi otak istrinya hingga bisa berpikir sejauh itu.
" Iya. Kata Bi Sumi keponakannya meninggal saat melahirkan bayinya. Kata bidan yang menangani karena usianya terlalu muda, gadis itu kehabisan tenaga saat mendorong bayinya keluar. Akhirnya nyawa gadis itu tidak tertolong lagi." ungkap Tania dilanda kekhawatiran.
__ADS_1
"Ceck. Sayang? Apa kau percaya hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengatur? Tidak hanya gadis belia, wanita dengan usia matangpun banyak yang bertaruh nyawa saat melahirkan buah hatinya didunia ini. Yang penting kita harus selalu berusaha dan berdo'a memohon perlindungan dan kekuatan dari Nya. Akupun tidak akan tinggal diam, kalau kau tidak bisa melahirkan secara normal, kau bisa melahirkan secara caesar. Sudah jangan takut lagi, sebentar lagi kita masuk ruangan. "
Tania mengangguk membenarkan, gadis itu merasa sangat beruntung memiliki suami yang setia, siap antar jaga kapanpun dibutuhkan. Perlahan rasa takut itu mulai terkikis berganti semangat. Keduanya masuk ke ruangan dokter dengan saling menggenggam untuk menguatkan.
Netra Tania dan Kendra berbinar melihat janin itu kini telah hidup dan bergerak dalam rahim Tania. Ukurannya masih sebesar buah lemon dengan berat kira-kira 140gram. Sudah mulai terbentuk anggota tubuhnya nan mungil dan menggemaskan, ciptaan Alloh sungguh luar biasa.
Dokter memberi penjelasan pada Tania agar selalu menjaga asupan gizi dan pola makannya. Usia muda mungkin sedikit rentan, tetapi selama sang ibu dalam kondisi sehat dan fisik yang kuat, kelahiran normal tetap bisa dilakukan.
Tania cukup lega mendengar penjelasan dari sang Dokter. Keduanyapun pamit undur diri setelahnya.
Hari sudah menjelang malam, Kendra dan Tania memutuskan untuk sholat magrib di salah satu masjid yang mereka lewati. Tania belum ingin pulang setelah ini, ia masih betah berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan ibukota.
" A..kita berhenti disana yuk. Aku pengen makan ayam bakar di warung tenda seberang sana." ucapnya menunjuk warung tenda yang terlihat cukup ramai malam ini.
"Sayang, di cafe aja bagaimana? Disana terlalu rame dan kurang higienis. Aku tidak mau kau malah sakit setelahnya." posisi warung yang berada dipinggir jalan tentu saja banyak debu dan asap jalanan yang menempel disana.
" Pokoknya aku pengennya disana titik nggak pake koma. Lagian ada debu sedikit nggak papa anggap aja vitamin. Ya dek ya." gumamnya sambil mengelus perutnya.
Kalau ini kemauan sang ibu hamil, mana mungkin Kendra tega menolaknya. Pria itu akhirnya menepikan mobil disisi jalan, kemudian memasuki warung tersebut.
Aroma ayam bakar disana memang sangat menggugah selera, pantas saja banyak pasangan yang menghabiskan waktu untuk sekedar menyantap ayam bakar taliwang yang sangat khas itu.
Saat tengah menikmati ayam bakar sambil mengamati kendaraan yang berlalu lalang.Tanpa sengaja Tania melihat mobil Zaskia yang terparkir di seberang jalan. Wanita itu terlihat berdua dengan seorang wanita seusianya memasuki salah satu gang yang ada disana.
"A..itu bukannya mobil Kak Zaskia? Tadi kayaknya Kak Zaskia masuk gang itu dech." tunjuk Tania seketika mengalihkan tatapan Kendra menuju seberang jalan.
__ADS_1
" Iya. Itu memang mobil Zaskia. Untuk apa dia kesana?" pria itu sungguh penasaran untuk apa istrinya sampai rela blusukan ke pemukiman.
Bersambung..