Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 112


__ADS_3

Setelah menutup panggilannya bersama Kendra, Zayyan kembali berpamitan kepada Tania. Padahal, ia berharap hati Tania akan tersentuh mendengar ucapan Kendra tadi. Akan tetapi, saat dirinya berpamitan perempuan itu tetap tak bergeming dari tempatnya.


Zayyan menaiki mobilnya, saat hendak menstater kemudi, netranya menangkap Tania berlari kecil kearahnya. Iapun kembali mematikan mesin, berharap perkiraannya tidak meleset.


Tania memukul pelan kaca mobil Zayyan sembari meneriaki lelaki tersebut.


"Kak Zayyan, tunggu dulu. Aku mau ikut."


Akhirnya Tania berhasil mengalahkan egonya, ia sungguh tak tega melihat Kendra menderita seorang diri.


Sebuah senyum terukir diwajah Zayyan, perjuangannya ternyata membuahkan hasil. Zayyan menurunkan kaca mobil dan memastikan pendengarannya.


"Kak Zayyan turun sebentar. Tania akan ikut ke Jakarta, tapi aku harus berpamitan dulu sama orang rumah." pinta Tania diikuti anggukan oleh Zayyan.


Tania menemui Bu Minah dan meminta beliau beserta adik-adiknya untuk ikut kembali ke Jakarta. Ia berharap Kendra setuju jika ibu dan adik-adiknya tinggal bersama mereka. Ia pasti akan kerepotan setelah melahirkan nanti, apalagi ini pengalaman pertama baginya.


Bu Minah tentu saja setuju, ia harus mendampingi putrinya dimasa-masa menjelang melahirkan seperti sekarang, takut ada apa-apa dijalan.


Mereka menunggu kepulangan Om Herman dari ladang untuk berpamitan. Kebetulan tak berselang lama lelaki paruh baya itu pulang kerumahnya. Beliau menghargai keputusan Tania bahkan mungkin sejak awal kurang setuju jika keponakannya itu pergi dari rumah suaminya.


"Om berharap Tania mau belajar untuk lebih bersabar dan selalu berpikir lebih tenang dalam mengambil keputusan. Seberat apapun masalah, selesaikanlah dengan kepala dingin, saling terbuka satu sama lain dan mendengarkan terlebih dahulu pendapat dari pasangan, bukan dengan cara menghindar. Dalam rumah tangga pasti ada ujian sebagai bumbu yang mampu membuatnya semakin indah asal kita bisa saling memahami satu sama lain." nasehat Om Herman dengan bijak.


" Terima kasih, Om. InsyaAlloh Tania akan belajar lebih sabar lagi. Maaf sudah merepotkan Om sekeluarga disini. Sejujurnya Tania betah tinggal disini, disini banyak hal yang bisa Tania pelajari." ungkap Tania tulus.


Merekapun akhirnya undur diri, Zayyan membantu keluarga Tania membawa tas berisi pakaian. Tasnya tidak terlalu besar, tetapi jumlahnya banyak sehingga ia sedikitm kerepotan membawanya. Belum lagi perlengkapan bayi sebab Tania sudah menyiapkannya sebelum melahirkan.


BRUUUGH...

__ADS_1


"Aaaww.."


Zayyan terkesiap saat tanpa sengaja ia menabrak seorang gadis berjilbab dan membuat gadis tersebut tertimpa beberapa barang bawaannya.


"Maaf Ukhti, kamu tidak apa-apa?" Zayyan berniat membantu dengan menarik tangan gadis tersebut, tetapi dengan segera gadis itu menepisnya.


Hampir saja ia kesal melihat kesombongan gadis itu. Akan tetapi, pemuda itu langsung terkesima saat Zahra mengangkat wajahnya.


"Subhanalloh..inikah yang namanya bidadari surga." gumamnya menatap kagum pada gadis tersebut.


Semburat merah menghiasi kedua pipi Zahra, gadis itu menunduk karena malu. Iapun berdiri dan berniat masuk ke dalam rumah.


Betapa terkejut Zahra dengan tingkah absurd Zayyan yang ikut berdiri dan selalu menghalangi jalannya.


"Maaf Kak. Saya mau masuk ke dalam rumah." jawabnya tetap menundukkan pandangan. Ada secercah rasa kagum lantaran pemuda itu memiliki paras rupawan dan penampilannyapun sangat rapi, buru-buru Zahra menghalau rasa tersebut.


"Kamu salah alamat ukhti. Karena sebelum masuk rumah, kamu sudah terlebih dahulu masuk ke dalam hatiku." Zayyan mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.


"Maaf kamu siapa ya? Kenapa berada disini? Bukankah ini rumahku?" ia merasa asing dengan pemuda tersebut.


Baru saja Zayyan mau menjawab, tiba-tiba terdengar pekikan Tania dari dalam rumah.


"Zahra, kau sudah pulang? Hari ini aku pamit pulang ke tempat suamiku. Makasih ya sudah banyak membantuku disini." seloroh Tania sembari memeluk sepupunya. Zayyan yang usil mau ikut-ikutan dipeluk Zahra, membuat Tania dengan gesit menjewer telinganya.


"Eits Kak Zayyan mau apa,heum?"


"Ampun-ampun, Tania. Aku cuma mau ikut menyapa Zahra saja." Zayyan meringis kesakitan.

__ADS_1


Zahra menatap interaksi keduanya yang cukup dekat, tetapi pria itu agak genit menurutnya.


"Dia suamimu?" tanyanya heran.


"Bu-bukan. Aku sahabat Tania, kami satu kampung. Kebetulan aku bekerja pada suaminya. Perkenalkan..calon imammu." ditengah rasa panas akibat jeweran Tania, pemuda itu justru tambah gemar bercanda hingga membuat Zahra menahan tawa.


"Yang bener kak Zayyan." Tania sedikit mengencangkan jewerannya.


"Eh..maksudku. Namaku Zayyan."


Pemuda itu mengulurkan tangan sembari mengulas senyum terbaiknya, tetapi Zahra tidak menyambut dan hanya mengatupkan kedua tangannya.


"Aku Zahra, sepupu Tania."


Taniapun melepaskan jewerannya, dari roman-romannya kak Zayyan sepertinya tertarik pada Zahra. Sayang, mereka harus segera kembali ke Jakarta. Jika tidak, ia rasa tidak ada salahnya mencomblangi pemuda itu dengan sahabatnya.


"Kak Zayyan, ayo. Katanya mau buru-buru balik ke Jakarta. Kok malah bengong disini." goda Tania.


"Zahra, maaf ya Kak Zayyan emang sedikit genit. Tapi tenang aja, hatinya baik kok. Cocoklah buat kandidat calon suami."


Kedua sejoli itu jadi salah tingkah dibuatnya. Sebenarnya Zayyan masih ingin mengenal lebih jauh tentang Zahra, tetapi saat ini dirinya berkewajiban membawa istri sang atasan untuk kembali ke Jakarta.


Merekapun akhirnya berpamitan dan mulai masuk kedalam mobil. Zayyan memperhatikan Zahra dari kejauhan, baru pertama ketemu tapi entah mengapa gadis itu mampu menggetarkan jiwanya. Wajahnya nampak lesu seakan layu sebelum berkembang.


"Sudah kak Zayyan. Kalau jodoh tidak akan kemana. Nanti aku kasih nomer telpon Zahra jika ingin mengenal lebih dekat." goda Tania menyemangati.


Wajah Zayyan langsung berbinar mendengarnya, ia mengusak jilbab Tania dengan gemas.

__ADS_1


"Kamu pengertian banget Crit!"


Bersambung..


__ADS_2