
Tangan Kendra bergetar begitu membaca secarik kertas yang ditulis oleh Tania. Ternyata ini yang membuat firasatnya tidak enak dari semalam.
Sejak dalam perjalanan membawa Zaskia ke rumah sakit, Kendra berusaha menghubungi Tania. Akan tetapi, entah mengapa panggilannya tidak pernah diangkat bahkan berkali-kali ditolak oleh istrinya. Lebih parahnya, Tania justru menonaktifkan ponsel sehingga sulit bagi Kendra untuk menghubunginya. Begitupun sang asisten, mereka seolah kompak menolak panggilannya.
Setibanya dirumah sakit, perasaan Kendra semakin gelisah. Khawatir dengan Zaskia, tetapi juga cemas akan Tania. Ia bolak balik sembari mencoba menghubungi, hasilnya sama saja, nihil.
Hesti yang melihat Kendra nampak gusar memberanikan diri untuk bertanya. Kendrapun menjelaskan apa yang menjadikannya gegana saat ini. Wanita itupun menyarankan untuk mencoba menyusul Tania barang kali sudah ada di rumah. Dia akan menjaga Zaskia selama Kendra pergi dan memberitahu jika ada sesuatu hal genting yang terjadi.
Kendrapun tak ingin membuang waktu, ia melajukan mobil menuju kediamannya sembari mengabarkan orang tuanya tentang apa yang terjadi. Saat ini dia benar-benar butuh support dan bantuan mereka.
Sebelum memasuki kediamannya, pria itu menyempatkan untuk bertanya terlebih dahulu pada satpam yang berjaga. Ia semakin galau sebab para penjaga mengatakan jika Tania belum pulang ke rumah.
Tak kehabisan akal, pria itu mencoba menemukan jejak sang istri melalui GPS. Untung saja hanya ponsel Tania yang mati, lelaki itu bisa melacak jejak keduanya lewat ponsel Zayyan.
Seolah tak peduli waktu, pria itupun bergegas mengikuti jejak yang terekam melalui GPS. Menurut Kendra, ia rasa jalan yang dilaluinya sama persis dengan jalan menuju kampung halaman Tania.
__ADS_1
Pria itu mendesah kasar, sebenarnya jiwa dan raganya sungguh penat hari ini ditambah sekarang harus melakukan perjalanan panjang. Sesekali ia berhenti jika netranya sudah tak bersahabat.
Sekitar pukul 7 pagi, Kendra tiba di kampung halaman Tania. Sungguh kebetulan saat memasuki gang, ternyata mobil yang dipakai Zayyan juga sudah ada disana.
Dada Kendra bergemuruh mendapati surat yang Tania tinggalkan untuk Zayyan. Pria itu menengadahkan wajahnya kelangit mencoba menghalau airmata yang seakan berdesakan ingin keluar.
Aib yang harus ditanggung, kondisi Zaskia yang kritis, sekarang ditambah Tania yang meninggalkannya dalam keadaan hamil besar. Tuhan seolah ingin menguji kebesaran dan kelapangan hatinya saat ini.
Kendra mencoba menetralkan kegundahan dihatinya. Ia menatap Zayyan dengan pembawaan lebih tenang, tetapi sedikit menekan.
"Seharusnya anda bertanya pada diri anda sendiri. Sudahkah anda menjadi suami yang baik untuk Tania hingga dia sampai berpikir untuk meninggalkan anda? Dia begitu berharap mendapat pengakuan dari anda, setelah harapannya membumbung tinggi anda justru menghempaskannya dengan mengenalkan Nona Zaskia sebagai istri." telak Zayyan.
Kendra terkesiap mendengar penjelasan Zayyan.
"Aku sendiri tidak tahu jika Zaskia juga datang kesana. Aku ingin menuntut penjelasan, tapi kondisi Zaskia masih belum sadarkan diri hingga sekarang." bantah Kendra tak terima. Kini ia sadar jika sepertinya Tania salah paham dengannya.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana? Apa kau tahu kemana kira-kira Tania pergi? Yang terpenting sekarang kita harus segera menemukannya. Aku khawatir sebab istriku sedang hamil besar." cemas Kendra.
"Sampai sekarang saya belum memiliki pandangan. Setahuku Bu Minah sudah tidak memiliki sanak saudara. Beliau bahkan lebih banyak mengabdi dan bekerja pada anda dulu." cetus Zayyan.
Kendra membuang nafas kasar, apalagi dengan dirinya. Ia bahkan baru mengenal Tania sejak perempuan itu menggantikan pekerjaan Bu Minah dirumahnya. Yang ia tahu, Bu Minah adalah seorang janda, memiliki empat orang anak dan suaminya sudah meninggal cukup lama.
"Ya sudah. Kita coba tanya pada tetangga sekitar. Siapa tahu saja ada yang mengenal atau tahu kemana kira-kira keluarga Bu Minah pergi." ajak Kandra dibalas anggukan dari Zayyan.
Baru saja keduanya hendak melangkah, tiba-tiba ponsel Kendra berbunyi. Pria itu segera mengangkat saat Id caller Hesti tercantum disana.
"Ada apa, Hes? Bagaimana kondisi Zaskia? Apa dia sudah sadar?"
"Ken? Kondisi Zaskia kritis. Dokter mengatakan bahwa Zaskia harus segera menjalani operasi cangkok tulang sumsum dan butuh persetujuan keluarga. Jika tidak nyawanya mungkin tidak akan tertolong lagi." jawab Hesti terdengar gugup dari seberang sana.
Kendra terkesiap mendengarnya, "Baiklah. Aku akan kembali setelah ini."
__ADS_1
Bersambung...