Jadi Simpanan Majikanku

Jadi Simpanan Majikanku
BAB 62


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat jam, akhirnya Kendra tiba di sebuah kota kecil di daerah tasikmalaya, Jawa Barat. Disitulah kota kelahiran Tania, wanita itu begitu bahagia karena sebentar lagi akan pulang ke kampung halaman.


"Kita cari hotel dulu. Baru setelah itu pulang ke rumahmu."


Tania mengernyitkan keningnya, "Untuk apa kita mencari hotel, Tuan? Apa Tuan tidak mau tinggal di rumahku yang kecil?" Tania mulai berkecil hati, ia sadar dirinya dan Kendra sudah seperti bumi dan langit jika dilihat dari status sosial mereka.


"Kau itu? Aku sama sekali tidak masalah meski rumahmu hanya sebuah gubuk sekalipun. Asal bersamamu, semua tempat terasa nyaman bagiku."


BLUSH...


Pipi Tania mulai merona gara-gara gombalan Kendra barusan. Pria itu selalu sukses membuat hatinya berdebar-debar seperti sekarang.


"Lalu untuk apa kita harus mencari hotel segala? Kenapa tidak langsung ke rumahku saja?" protesnya pada sang suami.


"Aku mau kita beristirahat sebentar. Lagi pula ini baru menjelang subuh. Rasanya tidak enak bertamu pagi-pagi. Kita kerumah jam delapanan saja ya." bujuk Kendra.


Tania mengangguk senang, alasan Kendra cukup dimengerti. Ia tak masalah asalkan bisa bertemu dengan keluarganya nanti. Padahal sebenarnya Kendra sudah tidak sabar ingin melahap istrinya terlebih dahulu. Sentuhannya pada kedua gunung kembar Tania semalam masih begitu terekam di otaknya hingga mendesak sesuatu yang berada dibawah ingin segera masuk kedalam liangnya.




***


Setelah tiba dihotel, Kendra langsung menarik tubuh sang istri ke dalam kamar yang telah ia sewa. Ini bukanlah hotel mewah seperti yang biasa ia tempati sebab lokasinya bukanlah di kota besar. Akan tetapi, ia rasa sudah cukup nyaman untuk dipakai mereka berdua.


Tanpa ba..bi..bu..be..bo Kendra langsung mengungkung tubuh istrinya di tembok. Tania yang mendapat serangan tiba-tiba hanya mampu pasrah dan mengikuti alur yang diciptakan oleh suaminya.


Keduanya saling berpagut penuh gairah. Tania sudah pandai mengimbangi permainan Kendra sekarang. Tangannya ikut bekerja dan melucuti kemeja sang suami di tengah ciuman panas mereka.


Jangan tanyakan lagi dengan Kendra, pria itu bahkan berhasil melucuti pakaian sang istri dengan hanya meninggalkan pakaian dalamnya.


"Kau sangat seksi, baby." bisik Kendra memberi jeda ciuman mereka, ia mulai membuka pengait bra milik istrinya hingga terlihatlah dua bulatan kenyal dengan pucuk yang sudah menantang


. Memberi gerakan sensual disana dengan tubuh keduanya yang saling menempel.


"Ahh..eeumm.." Kendra menyeringai mendengar ******* istri kecilnya yang telah terbuai olehnya. Bahkan ia merasakan milik Tania sudah basah sekarang.

__ADS_1


"Kita lanjutkan diatas ranjang saja." bisik Kendra kembali tanpa menghentikan aksinya mengeksplor tubuh Tania hingga membuat wanita itu gelisah menahan hasratnya.


Tania hanya mengangguk, pikirannya seolah terbang dalam kenikmatan yang diciptakan suaminya.


Kendrapun langsung menggendong sang istri layaknya koala tanpa melepas pagutan mereka.


Adegan panas diranjang pun akhirnya dimulai. Kendra ingin menciptakan sensasi hangat dan penuh kelembutan menyadari istrinya tengah hamil muda sekarang. Akan tetapi, tak cukup sekali bahkan berkali-kali Kendra melakukan penyatuan mereka. Ia tak masalah jika saja harus berdua dengan sang istri disana seharian, toh mereka akan berada di sana kurang lebih selama seminggu.


Kendra sengaja menonaktifkan ponselnya, ia yakin Zaskia pasti akan terus saja menghubunginya. Ia ingin menghabiskan waktunya disini hanya dengan Tania tanpa gangguan dari pihak manapun.


***


"Tuan, katanya mau kerumah ibu. Kenapa kau masih saja tidur.Nanti kita kemalaman kesana." protes Tania sembari menggoyang-goyang tubuh suaminya yang tidur sudah seperti mayat hidup itu.


Tentu saja, Kendra tidur begitu nyenyak akibat kelelahan dengan pertempuran panasnya bersama Tania. Ia memang memilih bekerja ekstra mengeksplore tubuh Tania agar istrinya tidak kelelahan, tapi tetap merasakan nikmat yang luar biasa.


"Tuan, Ayo bangun! Tuan!" Tania sudah mulai meninggikan suaranya. Rasanya gemas juga dengan suaminya yang belum bergeming sama sekali dari peraduannya.


Tania menyeringai, sebuah ide jitu tiba-tiba hinggap di kepalanya.


"Tuan, bagaimana kalau kita tambah ronde? Aku masih sanggup melayanimu sepuasnya." bisik Tania dengan suara khasnya tepat daun telinga Kendra.


"Aawww." Tania berteriak saat tiba-tiba Kendra menarik dan mengungkungnya kembali.


Pria itu tertawa penuh kemenangan, istrinya baru saja menawarkan diri sedangkan Kendra sendiri bahkan masih polos saat ini. Hanya selimut yang menutupi tubuhnya barusan.


"Apa kau serius dengan ucapanmu barusan?" tanyanya sembari mengusap pipi hingga dagu Tania dengan lembut. Tatapan matanya seakan mengunci gadis itu hingga terjebak dalam pusaran cinta suaminya. Senjata Kendrapun nyatanya sudah siap berperang lagi.


Tania mengelus perlahan dada bidang suaminya, mengagumi tubuh


kekar yang telah Sang Pencipta berikan sebagai pasangan halalnya. Jika ditanya apakah dia masih mau melanjutkan percintaannya, dalam hati ia pasti berkata mau..mau..mau😂.


Akan tetapi ia jadi ingat tujuan mereka datang ke Tasik.


"Tuan? Bukankah kita kesini untuk mengunjungi ibuku? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu keluargaku." rajuknya pada sang suami.


"Baiklah. Satu kali saja karena kau terlanjur membangunkan yang dibawah sini." jawab Kendra menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


***


Tania dan Kendra akhirnya tiba di kampung halaman sang istri. Sebuah desa yang posisinya cukup jauh dari perkotaan dan masih banyak terdapat hamparan sawah-sawah disepanjang jalan.


Jalanannya pun masih belum terlalu lebar serta minim penerangan. Akan tetapi, Kendra suka dengan suasana alamnya yang tampak asri apalagi jika di pagi hari.


Mereka berhenti disebuah rumah berukuran kecil, tetapi nampak rapi dan asri lantaran banyak sekali tanaman hias disana.


"Kau penjual tanaman hias?" tanya Kendra mengerutkan keningnya.


"Bukan, Tuan. Aku dan ibuku memang menyukai tanaman. Meskipun bukan bunga yang mahal, tapi lumayan untuk menyalurkan hobi kami."jawab Tania mengembangkan senyumnya.


"Tapi sayang, bunga-bunga disini banyak yang layu." seloroh Kendra memperhatikan keseluruhannya.


"Ah masak? Padahal ibu juga pasti sering menyiraminya." cetus Tania turut memperhatikan juga.


"Mereka semua berasa layu, karena seluruh kecantikannya telah terserap olehmu, Sayang." gombal Kendra.


"Astaga, Tuan. Sejak kapan anda menjadi raja gombal?" gerutu Tania mencubit pinggang suaminya. Lagi-lagi pria itu sukses membuatnya merona.


"Sejak kau bersemayam dihatiku. Aku jadi tergila-gila padamu." goda Kendra kembali. Keduanya saling melempar senyum hingga terdengar suara pintu terbuka dan beberapa anak kecil berlarian keluar dari sana. Mereka penasaran dengan deru mobil yang berhenti tepat dihalaman rumah mereka yang tanpa pagar itu.


Tania dan Kendra langsung keluar dari dalam mobil, keempat anak itu berlarian memeluk Tania.


"Hore..Kakak pulang." seru mereka penuh suka cita.


Kendra ikut senang melihat kedekatan mereka. Dirinya merasa iri sebab ia tak memiliki saudara kandung selama ini.


Bu Minah yang mendengar anak-anaknya menyebut nama Tania ikut penasaran dan melihat keluar.


Tania melihat kehadiran sang ibu, iapun segera mencium telapak tangan ibunya. Begitupun Kendra, ia mengikuti Tania dan mencium telapak tangan Bu Minah.


Bu Minah merasa ada yang aneh? Untuk apa majikannya rela meluangkan waktu mengantar putrinya pulang kampung? Akan tetapi, wanita ia menyimpan pertanyaannya hanya dalam hati sebab tak enak mereka baru saja tiba.


"Mari silahkan masuk, Tuan."


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍


__ADS_2