
Kedua insan yang baru saja mereguk nikmat dunia kini saling memeluk dengan tubuh yang masih polos hanya tertutup selimut.
Kendra menjadikan salah satu lengannya untuk sandaran sang istri.
"Terima kasih. Cup."
Satu kecupan manis mendarat dipuncak kepala Tania. Perempuan itu melengkungkan senyumnya.
"Berarti sudah nggak ngambek?" sindirnya seraya tertawa menggoda.
Kendra mengernyitkan keningnya. "Kata siapa? Kau harus tetap menjelaskan siapa pria itu. Asal kau tahu, dia hampir saja menciummu jika aku tidak datang tepat waktu. Kau juga sama saja, bisa-bisanya tertidur di bahu pria asing." ungkapnya sebal.
Kendra ingat betul, saat itu Zayyan berniat mencuri ciuman dari istrinya. Makanya Kendra langsung tersulut emosi melihatnya.
"Aww..kenapa mencubitku?" pria itu meringis kesakitan saat Tania mendaratkan sebuah cubitan di pinggangnya. Pria itu lantas menggelitiki sang istri sembari memainkan dua benda kenyal yang masih belum tertutup apapun.
"Ampun..ampun A. Oke kita impas, aku akan menjelaskan siapa lelaki yang kakak maksud." selorohnya terkekeh geli. Ia membenarkan selimut yang hampir terbuka gara-gara ulah suaminya. Setelah dirasa aman, iapun mulai menjelaskan tentang Zayyan kepada suaminya.
"Dia Kak Zayyan, anak majikanku sebelum bekerja disini. Sekarang dia masih kuliah di Jakarta sambil membuka cafe yang katanya cukup ramai. Semalam kami tanpa sengaja bertemu. Dia menolongku dari empat orang preman yang semalam mau menculikku dan itu semua gara-gara Aa." Perempuan itu memberengkut setelah menunjuk tepat didada suaminya. Ia masih kesal karena Kendra meninggalkannya semalam.
"Maafkan aku. Kemarin aku panik melihat Zaskia pingsan setelah mengeluh kesakitan diperutnya. Aku buru-buru membawanya ke rumah sakit, takut ada apa-apa." jelas lelaki itu jujur.
"Memang Kak Zaskia sakit apa A? Bukan penyakit serius kan?" Tania terkejut sekaligus penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Zaskia hamil."
Kendra tidak mungkin mengatakan kepada Tania jika Zaskia hamil anak pria lain. Ia tak ingin membuka aib wanita yang masih berstatus istrinya tersebut.
Apalagi mengenai penyakit Zaskia. Ia bahkan belum berani menyampaikan pada Zaskia mengenai penyakit yang dideritanya. Rencananya ia akan menceritakan jika kondisi Zaskia telah berangsur membaik.
__ADS_1
Pikiran Tania menerawang. Ia ikut senang mendengar Zaskia hamil, mertuanyapun pasti akan bangga karena sebentar lagi akan memiliki dua cucu sekaligus.
Akan tetapi, ada rasa nyelekit di benaknya mengingat sang suami melupakannya ketika tahu Zaskia hamil. Padahal, dirinyapun tengah mengandung anaknya sekarang.
Apa mungkin Kendra lebih mengharapkan anak Zaskia? Perempuan itu mulai berkecil hati, ia menyadari bahwa Kendra menikahinya karena Zaskia belum mau memiliki anak waktu itu
"Hei..Kenapa melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?" Kendra meraup wajah Tania dengan gemas.
"Apaan sih?" perempuan itu mencebik kesal. Moodnya gampang sekali berubah, mungkin karena faktor kehamilan.
"Itu kenapa dengan bibir? Pengen dicium?" goda Kendra. Ia sadar mood istriya mulai berubah.
Tania menatap sebal, wanita itu memilih memunggungi sang suami. Semakin lama ia merasakan sesak di dadanya.
Kendra mendengus pasrah, baru saja beban pikirannya mulai berkurang, kini istri kecilnya ikut-ikutan ngambek. Pria itu berusaha mengikis jarak dan mendekap erat tubuh Tania dari belakang.
"Aku bukanlah pria yang peka dan pandai memahami perasaan. Aku mohon jika aku salah katakan saja apa kesalahanku. Mungkin aku bisa memperbaikinya. Tetapi ku mohon, jangan mengacuhkanku seperti ini. Aku tidak sanggup." ungkapnya menghiba.
"Maafkan khilafku. Tapi jujur, aku tak pernah berniat untuk melupakanmu. Aku sangat mencintaimu dan calon buah hati kita. Tolong percaya padaku." ungkap lelaki itu tulus.
Mana mungkin dia melupakan apalagi meninggalkan keduanya, sedangkan anak dalam kandungan Zaskia sendiri bukanlah anaknya. Akan tetapi, ia tak sampai hati menceraikan wanita yang tak berdaya. Bagaimanapun itu terjadi bukan karena keinginan Zaskia.
Perempuan itu berbalik
"Apa aku bisa memegang kata-katamu?" netranya masih sembab oleh airmata.
Kendra menyapu pipi Tania dengan lembut, hatinya ikut bergetar melihat kesedihan di wajah sang istri.
"Kau bisa pegang kata-kataku."
__ADS_1
Satu kecupan manis kembali mendarat dipuncak kepala sang istri. Ia mendekap hangat tubuh Tania hingga perempuan itu bisa tidur dengan nyaman. Cukup sekali saja mereka bercinta, ia tahu istrinya belum tidur dan kini sudah pukul 3 dini hari. Setidaknya wanita itu bisa tidur sebelum subuh menjelang.
Netra Kendra ikut terpejam kala mendengar dengkuran halus dari istrinya. Keduanyapun akhirnya tertidur saling berpelukan, memberikan kenyamanan satu sama lain menembus dunia mimpi.
***
"Tuan, maaf. Tadi ada seorang pemuda yang menolong perempuan itu." ucap salah satu preman yang tadi dibuat babak belur oleh Zayyan.
Dafa membuang nafas kasar, ternyata preman kampung itu sungguh tak berguna. Pria itu melemparkan sejumlah uang ke arah mereka.
"Ambil dan cepat pergi dari sini. Jangan pernah berani menampakkan wajah kalian dihadapanku lagi!" bentaknya kesal.
"Baik, Tuan."
Dafa mendengus kesal, usahanya untuk menyingkirkan Tania dari sisi Kendra ternyata gagal.
Pria itu sudah tahu jika Tania dulu hanyalah seorang pembantu di rumah Kendra. Ia rasa gadis itu sengaja memanfaatkan kecantikannya untuk menggoda sang majikan yang kurang kasih sayang akibat kesibukan istrinya. Yah, sebagai seorang diva Zaskia pasti sangatlah sibuk hingga dia tak punya banyak waktu untuk keluarganya.
Dafa sungguh tak tega melihat Zaskia yang diduakan oleh suaminya. Meskipun ia tak bisa memiliki Zaskia, setidaknya ia berharap bisa membuat wanita itu bahagia bersama lelaki yang dicintainya.
Dirinya sendiri telah berkomitmen untuk mempertahankan pernikahannya dengan Julia. Sebagai pria sejati ia harus bisa menepati janjinya.
" Kia. Kau tenang saja, aku pasti akan menjauhkan perempuan itu dari sisi suamimu. Aku harap kau bisa hidup bahagia untuk menebus segala kesalahanku padamu." tekadnya dalam hati.
Kegagalan hari ini tidak mengapa, masih hari ada hari esok. Ia harus berpikir lebih keras untuk bisa menemukan ide yang lebih brilian.
Dafa jadi teringat Zaskia yang mutah-mutah saat makan malam waktu itu. Apalagi, ucapan Mamanya Kendra yang menyebut wanita itu kemungkinan hamil.
"Bagaimana jika benar Zaskia hamil? Dan anak itu ternyata adalah anakku?" batinnya resah dan gelisah sebab ia selalu memasukkan benihnya pada Zaskia. Dafapun sepertinya harus menyelidiki hal itu.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍