
Sebulan sudah aku disini,menghabiskan hari .ada kelegaan di hati. Rasa sakit ini perlahan terobati. Dua orang yang selalu ada untukku,Haris dan Aji. Kalian adalah hal terindah yang Tuhan kirimkan untuk menjadi pemandu hati ini. Sehingga aku tak tersesat dalam perjalanan hati menemukan setitik asa untuk melanjutkan hidup yang tadinya terasa mati .
Mereka dengan ketulusannya, membimbingku keluar dari sebuah keterpurukan. menjadi sahabat yang selalu ada. Meski aku tahu ada rasa lebih membingkai hati Aji. tapi ia dengan segala kebesaran hatinya mampu menjadi sahabat tanpa harus memaksaku menerima tentang sebuah rasa yang belum ingin ku mulai lagi.
Biarkan kisah lama,tentang cinta,luka dan air mata menjadi sebuah kisah yang cukup ada dalam bingkisan cerita. Aku siap untuk kembali menata,membuka lembaran cerita baru. berawal dari kisah persahabatanku dan aku menaruh asa tentang cinta yang indah diakhir titian perjalananku.
" kayaknya beberapa hari lagi gue bakal balik Ris" ujarku saat duduk bersama Haris di gubuk kecil dekat perkebunan.
Haris menatapku sejenak,kemudian mata itu menatap kedepan.
" kamu sudah yakin ?"
Aku mengangguk kemudian berucap
" Gue sudah terlalu lama bersembunyi Ris,ada tanggung jawab juga yang gue tinggalin".
Haris menggenggam tanganku. Aku menatap wajah yang selalu memberiku senyum teduh.
"selama itu menurutmu baik,aku dukung. Yang terpenting jangan lari lagi dari masalah. kalau seandainya nanti saat kamu tiba disana ada hal yang harus kamu selesaikan. selesaikanlah jangan lari lagi." Rasanya kok sesek dadaku mendengar nasihat Haris. Karena memang nyatanya Adrian masih terus mencariku. sampai kemarinpun Livi masih memberi tahu jika Adrian masih juga mencari.
Aku menyandarkan kepala di bahu Haris.
"apa yang harus gue lakuin kalau ketemu Adrian ?"
__ADS_1
"dengarkan alasannya,biarkan ia dengan segala asumsi kebenaran yang ia miliki. dan kamu silahkan dengan keputusanmu. terima alasan dan bertahan atau cukup memaafkan dan tinggalkan."
" Ris "
" hemm"
membisu,aku ingin sekali bilang,aku nyaman seperti ini. Disampingmu dalam genggamanmu bersandar di pundakmu. Ingin selamanya seperti ini.
" kenapa Wid ?"
"nggak,gue cuma ingin begini"
Kupejamkan mata menikmati desiran hati yang terasa begitu damai. Tenang rasanya.
Cukup lama aku dalam posisi ini,bersandar dibahu Haris. kalau orang melihat sungguh romantis. Tapi aku sedang tak ingin perduli dengan orang lain. aku hanya ingin begini. bersama orang yang selalu bisa membuatku nyaman dan tenang.
"jadi kamu butuh pundakku kalau ada masalah aja ?, berasa tempat sampah akunya" seloroh Haris yang membuatku tertawa lirih.
" pengennya sih,susah seneng begini".
" ikhlas banget kok,kalau buat gelendotan cewek cantik,mau lagi nangis,sedih apalagi kalau lagi seneng".
" tapi kalau lo udah nikah dijambak kali ya gue ama bini lo."
__ADS_1
Haris tertawa renyah. Aku pun ikut tertawa. Ku angkat kepalaku dari pundaknya menatap wajah bahagia itu. Berat meninggalkan lelaki ini,dia terlalu istimewa untukku.
" mau gak di jambak istriku ?"
"gimana ?"
" kamu aja yang jadi istri aku".
Mungkin ucapan itu hanya sekedar candaan tapi jujur ada getaran yang menelusup di dadaku.
" ah,gak romantis lo ngelamarnya " timpalku menyembunyikan perasaan yang tiba- tiba hadir.
" hahaha.... gak berani pake romantis- romantisan".
" kenapa ?"
" takut baper ".
" kalau guenya mau gimana ?". ku goda Haris yang terlihat santai. Tapi selalu ada yang tak ku mengerti tatap dalam matanya.
Haris tak menyahut,ia mengacak rambutku dan menggenggam lenganku.
" udah ah pulang yuk". ajaknya
__ADS_1
" yee,lo yang mulai juga" cibirku dengan langkah mengikuti dirinya.
Akan selalu ada cerita di setiap tempat yang kita pijak dan kita singgahi. kuukir kembali kisah didesa ini. dulu masa kecilku disini dengan cerita indah yang terbungkus rapi dalam memori. kini 15 tahun setelah kepergianku,aku kembali dengan cerita baru dengan orang yang sama tapi telah jauh berbeda. Dia Haris sahabat masa kecilku yang ku temui. Dan kini menjadi sahabatku lagi.