Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Terbuka


__ADS_3

Turun dari lantai dua dengan langkah panjang,serta bibir manyunku. Disambut tatap penasaran Tante Dhiya.


" kenapa Wid ?"


" gak apa-apa Tan" jawabku singkat. Aku memilih pergi meninggalkan Tante Dhiya yang sedang mengukur lingkar badannya. Tak berselang lama kak Ares menyusul turun.


" ada apa Res ?" Tante Dhiya penasaran melihat anak lelakinya berjalan cepat menuju ke arahku.


" gak apa-apa kok ma"


Tante Dhiya menggeleng pelan. kak Ares duduk di sebelahku.


''maaf,kakak salah. gak seharusnya kerjaan kakak bawa kesini. kita pilih lagi yuk gaunnya" bujuk kak Ares lembut.


" udah males,terserah kakak mau yang mana .''jawabku datar.


" please maafin kakak". ucapnya memelas.


"udah di maafin" sahutku dingin tanpa menoleh kearahnya.


Terlalu sepele kalau aku marah hanya karena ini. sebenarnya aku bukan marah. ada rasa ragu yang tiba-tiba hinggap di hatiku. sepertinya terlalu cepat keputusan ini di buat. masih terlalu jauh dari kata saling memahami. Ego masih menguasai diri masing-masing. Belum bisa saling menerima sifat pasangan . itu sebenarnya masalah utamanya .


''jangan diemin kakak dong Wid'' kak Ares bersuara.


''Widi pengen sendiri dulu kak '' ucapku seraya beranjak. Membuat kak Ares segera berdiri dari duduknya.


''kamu mau kemana ?,kakak antar'' ujarnya seraya mensejajari langkahku. Aku menghentikan langkah kakiku. memandang wajah khawatir di hadapanku.


''Kak tolong,Widi pengen sendiri dulu''

__ADS_1


'' Wid ,jangan kayak gini. kakak minta maaf soal tadi'' . kak Ares meraih tanganku. memanatapku penuh cinta. ya cinta,jelas kentara di matanya. Aku tak meragukan soal itu.


Tapi menikah apakah hanya soal cinta ?. Jelas diusiaku yang hampir 26 tahun ini, cinta bukan satu-satunya hal sebagai alasanku menikah.


''Tolong anterin Widi ke apartemen Livi kak" ucapku tak ingin lagi banyak bicara. Tak lagi menyahut,kak Ares menggandeng tanganku dan melangkah hendak keluar dari butik.


''lho kalian mau kemana ?,kan belum di ukur untuk bikin baju pernikahan '' suara Tante Dhiya menghentikan langkah kami.


'' besok kita kesini lagi ma,aku sama Widi ada acara di luar''


'' iya Tante,Widi duluan ya'' sambungku menatap Tante Dhiya yang berdiri agak jauh dari kami.


" ya sudah ,hati-hati"


" iya tante''


Meninggalkan butik,pikiranku terus berkelana . terlalu banyak yang kutakutkan,menikah bukanlah ajang coba- coba yang seandainya tak cocok bisa dengan mudah di ganti . menikah pertautan dua hati,dua kepala,dua ego,dua sikap. tak mudah mengambil jalan tengahnya. Sedangkan aku dan kak Ares masih nyaman dalam keegoan masing-masing.


Aku bukan wanita yang suka dengan keposesifan. menurutku itu terlalu mengekang,pernikahan cukup mengikat hatiku bukan kebebasanku. Aku cukup tahu batasan dalam berteman. cukup dengan aku di percaya saja,tak perlu cemburu berlebih . Tapi dengan sifat yang ditunjukkan kak Ares sampai saat ini,aku rasanya belum bisa menerima.


'' lho kok kesini ?" ucapku saat menyadari kak Ares berhenti bukan di apartemen Livi melainkan apartemen kak Ares. Tak ada jawaban,kak Ares keluar dari mobilnya setelah mobil terparkir rapi. Dibukanya pintu penumpang,aku segera keluar . masih belum ada kata . Hanya tangan kak Ares yang telah menggenggam tanganku,membuatku menurut saja saat langkahnya memasuki lift.


" udah aku bilang pengen sendiri " gerutuku sebal saat berada di dalam lift.


" kakak gak mau kamu ngilang kalau lagi marah" jawabnya tanpa menolehku tapi dengan tangan tetap menggenggam tanganku.


Tanganku baru dilepasnya setelah kami berada dalam apartemen. Aku duduk di sofa sedang kak Ares menuju kamarnya. beberapa saat terdiam sendiri ,aku beranjak menuju ruang makan. mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.


" sayang !" panggil kak Ares yang tak mendapatiku di ruang tamunya.

__ADS_1


" apa kak" sahutku sambil melangkah mendekatinya.


" kakak pikir kamu kemana " ucap kak Ares yang sudah berganti pakaian dengan santainya.


" abis ambil minum " aku mengangkat minuman kaleng di tanganku dan duduk kembali disofa. seperti dua orang asing duduk bersebelahan tanpa percakapan.


Kak Ares meraih tanganku yang baru saja meletakkan kaleng minuman diatas meja .


" kamu kenapa sih ?,kakak tau ini bukan sekedar kamu sebel karena kakak gak perhatiin kamu tadi" lembut tutur itu mengalun dari bibir kak Ares. Aku menjatuhkan kepalaku di pundak kak Ares. aku butuh sandaran,dengan sikap manis kak Ares seharusnya aku tak perlu ragu. tapi di balik sikap manisnya aku tak suka dengan semua sikap posesif yang susah dirubah .


"kak,kamu tau kan. aku bukan orang yang terbiasa hidup di bawah perintah orang lain. kamu pasti tau,kalau aku gak bisa di kekang. kakak tau kan watak asliku bagaimana ?".


" apa kamu merasa terkekang dengan hubungan kita ?".


" bukan hubungan kita yang membuat Widi terganggu,tapi cara kakak mencintaiku". aku masih bertahan dalam posisiku bersandar di pundaknya. tak ada sahutan,diam itu yang kak Ares lakukan .


"Aku tau ada banyak cara orang mencintai dan menerima cinta. ada sebagian orang seneng dicemburui karena merasa dicintai. seneng dengan keposesifan pasangan karena merasa disayangi. tapi aku bukan mereka kak . cukup percaya bahwa aku mencintaimu,cukup percaya tak akan ada orang lain diantara kita. cukup kamu tunjukan seberapa besar cintamu dengan kejujuranmu,perhatianmu,pengertianmu ,dan kepercayaanmu padaku ".


" maaf kakak sudah membuatmu tak nyaman,kakak memang bukan pasangan yang sempurna. tapi jangan pernah berpikir meninggalkan kakak. beri waktu kakak belajar,belajar memahami,dan mengerti tentang kamu". ucap kak Ares sambil membelai lembut rambutku.


Aku hanya ingin terbuka,mengatakan semua yang mengganggu benakku. aku tak mau diamku akan menjadi bom waktu yang justru akan menghancurkan semuanya. Aku tak ingin lagi terluka karena cinta. Apalagi kita sudah sejauh ini. pernikahan seharusnya terjadi sekali seumur hidup . dan aku yakin itu mimpi semua orang. tak ada yang bangga dengan sebuah kata perpisahan.


" aku ingin,kita menjadi pasangan yang bisa terbuka kak. supaya kita lebih bisa saling memahami. hubungan ini belum lama ,kita masih sama-sama belum memahami apalagi mengerti. pernikahan bukan hanya tentang cinta. lebih dari itu kak,aku gak pernah ragu dengan cinta diantara kita. tapi aku masih ragu dengan kita itu sendiri. benarkah kita sudah menjadi kita ?".


" kamu benar ,kita belum menjadi kita . karena aku masih dengan egoku begitu juga kamu masih dengan caramu. kamu benar kita harus saling terbuka. tetap di sisihku ,ajari aku mengerti kamu".


" dan ajari aku untuk bisa menerima caramu mencintaiku".


Mata kami bertemu,ada kelegaan di hatiku. tidak akan mungkin dua kepala menjadi satu,yang mungkin hanyalah memahami isi kepala satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2