
Satu hal pasti yang terjadi dalam perputaran hidup manusia. ketika adanya pertemuan akan ada ujung berupa perpisahan. Ketika nafas masih dijinkan berhembus dalam diri kita. perpisahan ini hanya sementara, ada kesempatan di lain waktu untuk bertemu. namun saat nafas tak lagi dijinkan berhembus maka perpisahan adalah untuk selamanya.
Dan untuk saat ini Tuhan masih mengijinkan aku untuk menikmati udara yang berhembus mengisi rongga dadaku. jadi perpisahan ini mungkin akan membawa kita pada perjumpaan di hari yang lain.
Tadi aku mengirimi Aji pesan,mengabarkan mungkin lusa aku akan pulang. Dan sekarang dia di sini di rumah bibi. sedang berbincang tentang perkebunan yang tak ku mengerti. sementara aku di kamar bersiap berganti pakaian. karena Aji bilang mau mengajakku ke luar malam ini.
usai berganti pakaian aku menghampiri mereka yang masih asyik bercengkrama.
" yuk mas !"
"sudah siap,?"
" sudah dong ".
Aji berpamitan pada paman dan bibi.
" paman,bibi. kami pamit dulu"
"iya,hati- hati" jawab paman.
" jangan malam- malam pulangnya" sambung bi Ifa.
__ADS_1
" iya bi"
Setelah ritual pamitan dengan bersalam- salaman. kami meninggalkan rumah bibi. Bulan mulai menampakkan menghiasi hitamnya langit berteman jutaan kerlip bintang. Malam ini sangatlah cerah. Aku yang duduk di belakang aji terus tersenyum menatap hamparan langit berhias bintang dan bulan separuh.
" malam ini cerah banget ya" celetukku yang masih terus mengamati langit.
" iya,secerah hatiku bersamamu"
" hahaha....boleh juga gombalannya"
" tapi sayangnya gak pengaruh buat kamu" sahut aji. aduh,mengena banget ya. jadi merasa bersalah. tapi akan lebih salah lagi jika aku menerima perasaannya sedang aku tak memiliki rasa yang sama.
" udah anti gombal- gombal mas,gimana dong ?"
loh kok jadi bapet gini jawabannya. Untung perbincangan kita masih diatas motor yang melaju. jadi aku tidak harus melihat wajah Aji yang menurut perkiraanku sih wajah itu akan menampilkan wajah yang penuh kecewa.
Kalau dikata" cinta tak harus memiliki dan aku bahagia melihatmu bahagia"ini nih contoh nyata. Aji. dia masih menganggapku meski telah ku toreh luka. Kalau aku sendiri tak yakin bisa mempraktekan cinta tak harus memiliki,apalagi bahagia melihat orang yang kita cinta bahagia dengan orang lain. faktanya aku sangat membenci Adrian saat ini,dan ikut bahagia untuknya ?, tak akan pernah rasanya.
Laju motor Aji sampai disebuah alun- alun.nyala lampu begitu terang,begitu banyaknya gerobak makanan berjajar disana. Mataku berkelana melihat pemandangan di depanku. Aku masih nangkring diatas motor Aji yang sudah berhenti di parkiran.
"turun,ayo kesana jangan cuma dilihat dari sini" suara Aji membangunkanku dari keterpakuan.
__ADS_1
Aku mengikuti langkahnya. jujur saja setelah dewasa ini baru pertama kali aku datang ke pasar malam. ternyata ramai juga. berbagai makanan disana,martabak manis,martabak telur,sosis bakar,bakso dan banyak lagi makanan yang lain. bahkan ada kebab dan burger. Dari makanan tradisional sampai internasional ada.
Aku terus mengekor langkah Aji ,tapi semakin masuk area dalam pasar malam ternyata ramai banget. aku menarik tangan aji dan menggenggamnya. Takut ketinggalan Aji dan tersesat di antara kerumunan orang.
" ada apa ?" Aji menghentikan langkahnya dan menatapku saat aku memegang tangannya.
" takut ilang" jawabku yang disambut tawa olehnya.
"mau makan apa ?",tanya aji setelah selesai mentertawaiku.
" sempol ayam,coba itu yuk" ucapku setelah mendapati sebuah nama makanan yang belum pernah aku coba.
Aji mengangguk sebagai jawaban.
kaki kami melangkah menuju gerobak yang menjual sempol. tanganku tak lagi berpegangan melainkan jari kami sudah saling bertautan membuat sebuah gengaman. sungguh mesranya jalan bergandeng tangan seperti ABG yang baru pacaran jalan keluar ke pasar malam . hahaha.... rasanya aku ingin tertawa saja.
Dua porsi sempol yang terbungkus di mika plastik dengan saos,kecap dan sambel sudah ada di tangan kami. Duduk berdampingan di pinggir alun- alun seraya menikmati gurihnya sempol dan merdunya penyanyi dangdut diatas panggung di tengah lapangan.
" rame banget ya, sering ada pasar malem gini ?"
" gak sering juga sih,tapi kalo ada pasti rame. maklum didesa kan gak banyak tempat hiburan kayak di kota.jadi kalo ada pasar malem gini bisa buat hiburan mereka". aku hanya mangut-mangut saja.
__ADS_1
cukup lama kami menikmati pasar malam ini. berbagai macam makanan ku coba sampai aku benar- benar kekenyangan. Aku juga menyempatkan diri membeli beberapa baju batik distan pakaian. bukan kualitas bagus sih,tapi disini juga susah cari batik berkualitas. mengingat desa ini bukan desa pengrajin batik. kalau cari sayuran berkualitas baru di sini tempatnya. Tapi masa iya aku pulang bawa oleh- oleh kangkung.
pukul sepuluh malam,kami meninggalkan pasar malam. untuk ukuran di desa ini sudah sangat larut apalagi aku pergi dengan laki- laki. semoga saja tidak jadi pergunjingan tetangga karena polah keponakan bibi ini.