
Seperti pagi biasanya,papa,mama,Lian dan juga diriku sarapan bersama.
" pulang jam berapa semalam Wid ?" tanya papa membuka pecakapan.
"jam setengah sepuluh nyampe rumah pa" sahutku. karena semalam saat aku sampai dirumah sudah sepi. dan tak menjumpai penghuni rumah.
'' kamu itu perempuan,kalau pulang jangan malam- malam" mama yang sedang mengambilkan sarapan untuk papa ikut bersuara.
" baru setengah sepuluh ma,lagian Widi juga cuma dari rumah Livi. bukan nongkrong gak jelas ma". belaku.
yah,walaupun cafe tempatku bekerja tutup jam sebelas malam. aku tidak pernah bekerja lebih dari jam delapan. aturan papa tak mengijinkanku pulang lebih dari jam sembilan malam.
" yakin mbak, pergi sama mbak Livi" Lian menimpali. aku mengernyitkan dahi memandang adikku yang dengan santainya sedang mengambil makanan.
" yakinlah"
" sudah- sudah. makan dulu" sela papa yang tak pernah suka dengan acara makan sembari ngobrol.
Selesai makan papa berangkat ke kantor,sedang Lian terlihat bersantai di sofa. mama duduk diruang tv sambil menonton acara gosip pagi. sedangkan aku kembali kekamar bersiap pergi ke cafe.
Aku menghampiri Lian yang sedang asyik dengan handphonenya setelah selesai bersiap.
" Lian,anterin mbak ke cafe yuk'' pintaku sambil duduk di sampingnya.
" makanya jangan suka ninggalin motor terus pergi kencan. jadi nyusaian gue kan". protes Lian
" kencan ?, siapa yang kencan ?"
" jangan kira Lian gak tau mbak. semalem mbak dianter cowok kan pulangnya?"
__ADS_1
" duh Lian,jadi orang jangan asal nuduh makanya nanya. semalem yang nganter itu kak Ares,kakaknya Livi. soalnya Livi gak bisa nganterin mbak. jadi Livi minta kak Ares ngterin mbak pulang. gitu,paham'' jelasku panjang lebar.
" ya,ya,ya,kirain gebetan baru ''.
' udah buru anterin mbak dulu. kamu masuk siang kan ?''
" tapi ada pajaknya ya mbak". ucap Lian dengan alis yang di naik turunkan.
"dasar perhitungan "
" harus dong,lumayan kan buat jalan sama Virny"
"ya elah lo yang pacaran. kenapa juga mbak yang modal" gerutuku yang hanya ditanggapi cengiran oleh Lian.
" Ma,widi berangkat ma" pamitku pada mama seraya menyalaminya.
" gak ma,dianterin kak Ares semalam. sekarang dianterin Lian,langsung berangkt ya ma"
" iya"
Aku berlalu meninggalkan mama yang masih asyik dengan tontonannya. kuhampiri Lian yang sudah bersiap diatas motornya.
"yuk berangkat" ajakku yang langsung nangkring di bekakang Lian.
" helmnya mbak pake dulu" ujar Lian seraya memberikan helmnya padaku.
Lian segera melajukan motornya setelah aku selesai mengenakan helm. Ia menyusuri jalanan yang masih macet. Tak sampai setengah jam aku sudah berada di depan cafe,karena dengan mengendarai motor lumayan mempersingkat waktu.
Turun dari motor kubuka helm dan memberikannya pada adikku.
__ADS_1
"ongkos- ongkos" ucap Lian sambil mengulurkan tangan.
" dasar" gerutuku sambil merogoh dompet dalam tas. belum sempat kubuka dompet,dompetku sudah beralih di tangan Lian yang merebutnya dariku.
" Lian" seruku yang hanya ditanggapi dengan seringaian licik darinya. aku mencoba merebut dompetku tapi sia- sia. Lian keburu menguras isi dompetku.
" itu sih bukan ongkos Ian,itu namanya ngerampok" omelku yang melihat Lian sudah mengambil lima lembar uang ratusan ribu punyaku.
" hehehe... jangan pelit mbak nanti kuburannya sempit".
" siapa yang udah mau mati. mikirin kuburan segala" celotehku.
" nih Lian balikin. makasih mbak cantik"
Aku mengambil dompetku dan memukulkannya di lengan Lian. Lian hanya meringis dan langsung menstarter motor,pergi meninggalkanku. dengan seringaian yang sungguh menyebalkan.
Langkah kakiku kini hendak masuk kedalam cafe. tapi tiba- tiba sebuah tangan meraih pergelanganku. membuat aku menghentikan langkah dan berbalik menatap wajah yang kini di hadapanku.
Lagi,dan lagi dia. Bagaimana aku bisa melupakannya jika harus bertemu terus dengannya. Aku harus menyelesaikan semua ini.
" apa sebenarnya yang kamu mau ?" tanyaku dingin.
" aku ingin bicara. tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya" ucap Adrian dengan tatap memohon.
" oke,tapi setelah ini. tolong lepaskan aku dan jangan kamu ganggu lagi hidupku"
Tak ada jawaban dia hanya menghela nafas dan menatapku dalam.
" bisa bicaranya jangan disini ?" pintanya. aku hanya mengangguk. Adrian berjalan menuju mobilnya,aku mengikuti di belakangnya .
__ADS_1