Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Livi


__ADS_3

Olivia cantika nugraha,sahabat yang selalu ada untukku. sejak SMP tak pernah kita terpisah. satu- satunya sahabat yang kumiliki. Saat sedih dan bahagia wanita cantik berbadan mungil ini selalu bersamaku. Dia yang berasal dari keluarga berada pun memilih untuk merintis bisnis dari nol bersamaku. padahal jika dia mau ia bisa memegang salah satu perusahaan ayahnya. Tapi itulah Livi dengan segala kerendahan hatinya. dia yang tak pernah menunjukkan kemewahan.


Aku yang bahkan hanya anak dari pegawai ayahnya di jadikan sahabat. kini kami disini berdiri bergandengan tangan mencoba merintis usaha sendiri.


" buat ngerayain kepulangan lo,jalan yuk" ajak Livi


" boleh,kemana ?"


" mall aja,kan udah lama gak ke mall.semenjak lo ke pergi,gue gak pernah ke mall. gak ada temen jalan".


" cowok lo kemana ?''.


" kayak lo gak tau dia aja. sibuuuk terus''.


" namanya juga pengusaha muda Liv". sahutku yang disambut dengan cebikan bibir Livi.


Karena Reza,tunangannya memang jarang sekali bisa menghabiskan waktu bersamanya. waktu Livi lebih banyak bersamaku.


" gak usah di jelek- jelekin gitu muka lo,yuk jalan" ucapku yang melihat bibir manyun Livi. Aku berdiri menyambar tasku dan berjalan keluar ruangan. jelas saja Livi langsung mengikuti langkahku.


"pake mobil aja ya". ujar Livi yang sudah menyamakan langkah di sampingku. Aku hanya mengangguk.

__ADS_1


" Dit,lo handle cafe ya. kita mau jalan dulu" titah Livi pada Adit yang hanya di jawab dengan acungan jempol dan seulas senyum.


Dengan menggunakan mobil Livi,kami meninggalkan cafe menuju mall yang sering kita datangi. kadang untuk berbelanja,nonton atau sekedar nongkrong.


"gimana petualangan lo di desa ?" tanya Livi sambil menyetir mobil dengan tatapan tak beralih dari jalanan.


" yah gitu deh,cukup bisa bikin gue terhibur tanpa harus mikirin manusia yang udah bikin gue ngerasa dunia runtuh".


" duh bahasa lo" ucap Livi dengan gelengan dan senyuman." terus temen masa kecil lo gimana ?" lanjut Livi yang sekilas menatapku dan menaik turunkan alisnya.


"dia itu baik banget ,kalau gue gak lagi patah hati. gue pacarin dia "


" nah justru itu,seharusnya lo pacarin aja. biar lo bisa cepet move on'


" terus kira- kira lo pangkas cabang hati lo kapan biar lurus"


aku hanya mengangkat bahu,aku sendiri tidak pernah tahu kapan hati ini bisa melepas dan ikhlas. muda kata itu terucap tapi sulit sekali untuk berkompromi dengan hati.


Setelah menerobos jalanan yang sedikit macet. akhirnya sampailah kita di sebuah gedung yang menjulang tinggi. diparkirnya mobil dan setelah keluar dari mobil langkah kita sejajar memasuki mall yang sudah cukup ramai.


" mau ngapain dulu kita ?" tanya Livi

__ADS_1


" ngabisin duit shooping,sebulan gue gak belanja" sahutku yang pasti dapat persetujuan dari Livi.


Dimulai dari toko baju,aku dan Livi mulai belanja hari ini. bukan barang dengan brand terkenal dengan harga selangit yang kita beli. brand- brand lokal dengan harga yang tidak terlalu membebani kantong. yang penting bagus dan nyaman di pakai. karena aku juga bukan milyarder. Livi yang notabene tajir melintir juga tidak terlalu suka berbelanja barang berharga fantastis.


Lumayan lama kita muter- muter mall dari toko baju,tas,sepatu dan make up. Baru terasa kaki ini pegel setelah kita duduk di salah satu cafe .


" capek banget' ucapku seraya menyandarkan tubuh di kursi.


" tapi gue puas" sela Livi dengan raut wajah bahagianya.


sesaat pelayan datang. kami yang memang sudah lapar segera memesan makan dan minum.


" habis ini mau ngapain lagi ?" tanya Livi setelah pelayan pergi.


" pulang aja,capek gue".


" temenin gue kerumah nyokap yuk !" ajak Livi,karena Livi memang tak tinggal serumah dengan kedua orang tuanya. dia memilih tinggal di apartemen. belajar mandiri alasannya.


" boleh deh,lama juga gue gak ketemu tante" jawabku menyetujui.


Makanan sudah terhidang segera aku dan Livi melahapnya. tak butuh waktu lama untuk memghabiskan makananku. begitu juga dengan Livi. selesai acara makan siang,kami segera keluar dari mall dengan menenteng beberapa paper bag di dua belah tangan kami.

__ADS_1


Sedang asyik bercanda seraya melangkahkan kaki kami kearea parkir. tiba- tiba sebuah tangan mencengkeram tanganku dan membuatku berpaling memandang sang pemilik tangan.


" kamu mau apa ?" tanyaku di tengah keterkejutan.


__ADS_2