Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Lamaran


__ADS_3

Tiba juga saat ini,saat dimana seluruh keluarga berkumpul kecuali bi Ifa adik papa karena cukup jauh jadi untuk acara lamaran bi Ifa gak datang. mungkin besok di acara nikahan baru bi Ifa sekeluaga di boyong kesini. Aku masih sibuk di kamar,memakai kebaya yang kemarin ku beli bersama Livi. Merias diri tanpa bantuan MUA. Aku cukup percaya diri dengan kemampuan make up ku meski tak se wow artis papan atas hasilnya.


ckrek...


suara pintu terbuka tanpa ketukan pada daun pintu ,aku menoleh sekilas. sosok Lian muncul dari balik pintu. Aku mengacuhkan kembali pada kegiatanku merias wajah. Lian berjalan mendekati ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ada kegalauan tampak di raut wajah itu .


" Kenapa Ian ?" tanyaku tanpa menatap dirinya langsung,hanya lewat pantulan pada cermin riasku .


" mbak,kalau mbak udah nikah . mbak gak tinggal disini lagi dong". lirih Lian dengan ekspresi sedihnya.


"iyalah mbak kan harus ikut suami,kenapa ?" tanyaku seraya bangkit menghampiri Lian dan duduk disampingnya yang sedang terletang dengan mata menatap langit- langit kamar.


" sepi dong mbak,kok rasanya gue belum ikhlas ya Lo ninggalin gue"


" lebay deh Lo dek, gue masih di kota ini. belum ke alam barzah . lagian ini juga baru lamaran" . jawabku .


" tapi tadi gue denger dari mama,pernikahan Lo gak lama lagi. bakal di tentuin malam ini juga katanya".


" Lo sebenernya kenapa sih,mbak gak ngerti deh. masa iya mbak mesti jadi perawan tua buat tetep disini bareng Lo".


" ya jangan juga sih. kasian Lo dong kalo mati masih jomblo".


aku menggeleng,nggak ngerti aku apa maunya bocah satu ini. datang tiba-tiba dengan wajah memelas. ngomong gak jelas,entah kesambet apaan .


" mbak besok jalan yuk,sebelum mbak jadi istri orang ". ajak Lian. aku tersenyum tipis.


" iya,besok kita jalan." sejenak diam,aku menatap wajah yang kini memejamkan mata.

__ADS_1


Mungkin ada rasa takut kehilangan dalam diri Lian . biar bagaimanapun akulah saudara satu-satunya yang ia miliki. orang paling dekat dengannya,tempat dia berkeluh kesah dan juga jadi korban segala keisengannya.


" dek,sampai kapan juga mbak akan tetep jadi mbak kamu. gak ada yang berubah". tuturku lembut.


" tapi kan mbak gak di sini lagi. sepi" keluhnya.


" sini peluk".


Lian bangkit dan langsung memelukku.


" bahagia ya mbak !, kalau mbak gak bahagia bakal Lian bawa pulang kesini lagi".


" iya mbak pasti bahagia".


pintu terbuka dengan aku dan Lian yang masih berpelukan.


" keluarganya Ares sudah pada dateng itu,ayo buruan turun" lanjut mama.


" iya ma" sahutku sambil berdiri dan kembali ke depan cermin. merapikan sedikit rambutku yang hanya ku gerai saja.


" ayo cepet sayang" tarik mama pada lenganku.


Dengan mama di sampingku dan Lian di belakangku,aku menuruni tangga. Hampir semua orang di ruang tamu menatap ke arahku . tak terkecuali lelaki tampan yang kini berbalut batik,menatapku dengan tatapan yang membuatku tersipu sendiri kala mata kami bertemu .


memang bukan acara mewah untuk lamaran ini. hanya berada di ruang keluargaku. Kak Ares yang menawari untuk di hotel ku tolak mentah-mentah. aku hanya ingin menikmati moment ini bersama keluarga dan orang terdekat saja. mataku mengedarkan pandangan,Haris berdampingan dengan Nindi,Livi jelas dengan Reza. ada pancar kebahagiaan di mata mereka,cukup untuk menjadi sebuah restu untuk perjalanan cintaku yang akan naik satu level.


Langkahku di tuntun mama untuk duduk diantara keluargaku. Para orang tua berhadapan,ada keakraban di sana.

__ADS_1


" Karena sudah berkumpul semua,saya hendak mengutarakan niat kedatangan kami kesini" suara om Arya serius setelah sebelumnya mengobrol santai dengan papa. sedikit berjedah ucapan om Arya.


"Maksud kedatangan kami untuk melamar putri pak Hendra untuk anak kami Aresta Bayu. untuk di persuntingnya menjadi istrinya. bagaimana pak Hendra,apakah lamaran kami di terima ?".


" saya sebagai orang tua,saya serahkan kepada anak saya yang akan menjalani rumah tangga".


Kini semua mata tertuju padaku. grogi itu yang menghinggapi diriku.


" Mas Ares lamar langsung dong Widinya." celetuk Livi . kini mata yang tadi menatapku berganti menatap kak Ares yang tampak begitu tenang. Dan tanpa suara ia berdiri menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk ku sambut.


Aku menurut saja saat tanganku yang dalam genggamannya di giring berjalan di depan para tamu. Kak Ares menghentikan langkah,menggenggam kedua tanganku dengan tatapan yang membuat jantungku berdetak begitu kencang.


"terima kasih sudah datang dalam kehidupanku,terima kasih sudah memberi warna dalam hidupku,dan terima kasih telah mempercayakan hatimu untukku. Di depan seluruh keluarga kita. aku memintamu untuk bersamaku,mendampingiku dan menjadi ibu dari anak-anakku. apa kamu bersedia ?" lancar kata itu meluncur dari bibir kak Ares. sementara lidahku keluh tak ada kata yang bisa ku ucap. Hanya anggukan dan setitik air mata bahagiaku sebagai jawaban.


Kak Ares menyematkan cincin di jari manis ku. bergantian denganku yang menyematkan cincin di jari manisnya. dan sebuah pelukan hangat mengakhiri sesi tukar cincin. suara tepuk tangan dan sorak sorai menyeruak. Kak Ares melepas pelukannya,dan pelukan tubuh lain langsung menubruk ku. siapa lagi kalau bukan Livi.


"selamat ya,akhirnya Lo tunangan juga. bentar lagi resmi jadi ipar gue"


" baek-baek Lo sama gue,gue bakal jadi senior Lo". sahutku,membuat Livi langsung melepas pelukannya dan menatapku tajam.


" iiiih,,,,,,sialan Lo" celetuknya yang hanya ku tanggapi dengan tawa kecil. Livi beralih pada abangnya. meninju pundak sang kakak dangan pelan.


" bangga aku sama kamu mas,gak nyangka bisa romantis juga". kak Ares hanya tersenyum. Livi langsung memeluk tubuh sang kakak.


" bahagiain Widi mas,jangan pernah sakiti dia. sakali mas nyakitin dia . mas yang bakal aku pecat jadi Abang". ancam Livi dalam dekapan kakaknya.


" dasar,,,,. mas gak akan nyakitin dia. tenang aja". lirih suara kak Ares namun masih ku dengar.

__ADS_1


Dan bergantian anggota keluargaku dan keluarga kak Ares memberi selamat. Dan setelahnya acara makan - makan dimulai. Disela makan malam ada pembahasan pernikahan . Untuk penentuan waktu aku hanya bisa pasrah pada orang tua. nyatanya protespun tak di gubrisnya. akhirnya penentuan sebulan lagi masa mudaku berakhir.


__ADS_2