
" bangun,bangun,bangun" suara yang sumpah bikin aku naik darah. Belum lagi lemparan bantal yang jatuh tepat di wajahku.
"Liaaaan" teriaku yang mendapati adikku yang sedang tertawa lepas. Aku langsung berdiri menerjangnya. mendorong tubuhnya hingga terjungkal di lantai.
' Sakit mbak" gerutu Lian sambil berdiri.
" lagian punya adik gak sopan banget. bangunin orang gak pake etika"
" salah mbak juga jam segini tidur"
" mbak tuh capek tau gak ?"
" gak,kan bukan Lian yang ngerasain". jawabnya yang sudah menampilkan wajah jahil.
Adikku satu ini emang usilnya kelewat. Tapi keusilannya itu yang akan membuatku selalu merindukan adikku yang berjarak 4 tahun dariku.
" dasar rese" ujarku seraya menoyor kepalanya dan berlalu menuju meja rias.
" aset nih mbak,main toyor aja. nih kalo otak gue gesrek,mbak mesti tanggung jawab" gerutu Lian yang beranjak mendudukan diri diatas ranjang.
"Emang dasar otak lo udah gesrek kali" . jawabku yang sedang menyisir rambut di depan meja rias.
" mbak "
" hmmm "
" oleh-oleh buat Lian mana ?"
" oleh - oleh ?, dari kampung ian mau bawain apa ?, keong ?''.
" yah kali aja bawa kakak ipar gitu buat gue" sahutnya santai sambil menaik turunkan alisnya.
" maksud lo apaan ?". aku menghampiri Lian setelah mengikat rambut. dan duduk disampingnya.
" kali gitu,lo kecantol cowok disana. jangan bilang lo belum move on".
Aku menghela nafas kasar. Move on,segampang itukah rasa itu ?. Kalau 4 tahun kebersamaan bisa terlupakan dalam sebulan. Lantas apa arti selama 4 tahun ini ?.
__ADS_1
" move on juga gak segampang ucapan Ian. gue juga belum berani membuka hati buat orang lain. gue justru takut kalau perasaan gue cuma sekedar pelarian dari rasa kecewa gue ".
Ada sesak didada,tanpa sadar tanganku menggenggam liontin pemberian Haris.
" ah jadi mellow gini sih ".
" lo sih pake ngomongin cowok ".
" ya kan gue juga gak mau,lo terus- terusan sedih ".
" iya gue tau adiku sayang " ujarku sambil mengacak rambutnya dengan seulas senyum di bibirku.
" oeeeek... sumpah mual gue. sayang - sayang. lo kata gue bayi apa" protes Lian yang ku sambut dengan tawa lebar.
" Widi,Lian. turun ditunggu papa di meja makan" panggil mama dari luar kamar.
" iya ma"
Kami meninggalkan kamar,menuruni tangga dan menjumpai papa yang sudah duduk di ruang makan.
" gimana liburannya ?"
" nyenengin pa " jawabku dengan melepas pelukan papa.
"paman sama bibi sehat ?''
" sehat pa"
" syukurlah"
"sudah, nanti lagi ngobrolnya. makan dulu " mama mengintrupsi obrolan kami. Saat mama datang dari arah dapur dengan semangkok sayur yang masih mengebul.
Hanya suara piring dan sendok beradu yang terdengar. Akan selalu seperti ini suasana di meja makan kami. Tanpa percakapan karena itu adalah peraturan. Bahagia rasanya menikmati kebersamaan ini setelah sebulan tak merasakan berkumpul bersama.
Selesai acara makan malam kami berkumpul di ruang keluarga. Aku dan Lian lesehan di karpet sedang mama dan papa duduk di sofa. Tv kunyalakan,acara yang akan selalu sama jam- jam segini. banyaknya juga sinetron. Dan kebetulan aku tidak terlalu menyukainya. akhirnya pilihan jatuh pada acara komedi.
" Gimana rasanya tinggal di desa Wid,betah ?" suara mama membuka percakapan.
__ADS_1
" sebenernya betah juga sih Ma,cuma ya kalau Widi kelamaan disana gak bisa kerja".
" Kata bibi, kamu kadang ikut kekebun ?"
" kadang Ma,ikut manen tanaman paman. seru juga di kebun. berasa banget didesanya. orangnya juga ramah- ramah. kalau pas makan siang di kebun pada ngumpul gitu. Saling tuker makanan,rame deh pokoknya" ceritaku antusias.
" kalau gitu Lian bakal liburan di desa juga ah" potong Lian dengan mata yang tak lepas dari kayar ponselnya.
" kelarin dulu tuh skripsi baru mikir liburan" celetukku.
" iya Lian gimana skripsi kamu ?" potong papa.
" beres pa tenang aja,waktunya sidang pokoknya siap''.
" planing lo abis wisuda ngapain ?"
" cari kerjalah mbak,masa iya mau nikah ?"
" ya kali aja Virny udah minta lo lamar". ujarku santai yang langsung dapat bekapan dari tangan Lian. karena kedua orang tuaku belum tahu adikku ini sudah punya pacar. Karena sebenarnya papa kurang suka kalau anak- anaknya pacaran sebelum pendidikannya selesai.
" Virny siapa ?" tanya mama penasaran. Aku berusaha melepas tangan Lian yang membekap mulutku.
" cewek ...mmmm" belum selesai tangan Lian sudah membekapku lagi.
" Temen sekelas Lian Ma" sahut Lian cepat. kucubit lengan Lian yang membuat dia mengadu kesakitan. saat terlepas dari bekapannya aku menjauh.
" bohong Ma,cewek Lian itu "
" mbak Widi..." teriak Lian sambil melempar bantal yang hanya mengenai tanganku.
" sudah- sudah kalian ini,kayak anak kecil saja. kalian berdua juga kan sama. sama- sama melanggar aturan papa. belum selesai kuliah sudah pacaran. Kamu juga dulu begitu kan Wid". ucapan papa yang hanya bisa kusambut dengan cengiran. Karena tahun terakhir aku kuliah sudah pacaran dengan Adrian.
" Yang penting selesaikan pendidikan kamu tepat waktu Ian. jangan masalah cinta menghambat pendidikan".
" kalau itu tenang pa gak ada masalah".
Itulah papa dengan kebijaksanaannya selalu membuat kami anak- anaknya merasa nyaman. Tidak ada tuntutan yang memberatkan kami. Mama dan Papa,orang tua yang selalu mendengar suara anaknya. tanpa pernah memaksakan kehendak. mereka hanya mendampingi dan mengarahkan pilihan kami. Tanpa menuntut kami untuk jadi apa yang mereka inginkan. Aku bangga terlahir dari orang tua seperti mereka.
__ADS_1