
Pagi ini terakhir ku melihat mentari terbit di desa ini. Sejuk embun pagi ini tak lagi bisa kurasa saat aku kembali ke kota.nyanyian kicau burung tak mungkin bisa lagi ku dengar. Aku akan sangat merindukan suasana menenangkan ini.
kuhirup nafas dalam mencoba merasakan udara sejuk ini hingga dasar paru- paruku. Menikmati setiap detik waktu terakhir disini. Kupejamkan mata merasakan sentuhan angin lembut ini. Andai ada alasan untuk aku tetap disini. mungkin aku akan menetap. nanti suatu saat ketika diujung senja hidupku,aku akan disini.
Menghabiskan masa tuaku penuh dengan kedamaian jauh dari hiruk pikuknya kota. Bersama orang yang kucintai menua bersama disini. Ah sungguh khayalan yang indah. Tapi dengan siapa ?, tunggu Tuhan memberi jawaban. Dan akan datang waktu itu saat cinta menghampiriku memberikan kebahagiaan bukan sekedar iming- iming janji manis yang ternyata hanya luka yang tertinggal.
Cinta . akan ada banyak cerita tentang rasa ini. tawa,canda,bahagia,luka dan juga kecewa. cinta mungkin bukan segalanya. Tapi bukankah segala hal yang kita kakukan harus dengan cinta ?.
Hah,sudahilah semua renunganku tentang rasa yang baru saja memporak porandakan hatiku. saatnya aku menata kembali kepingan puzzle hati ini. mengutuhkanya kembali dan siap menyambut cinta baru di hati.
" Wid" sentuhan tangan bibi di pundakku membawa kesadaranku kembali.
" eh bibi" ucapku seraya menatap bibi yang menampakan seulas senyum dibibirnya. Bibi beranjak duduk di sampingku di bangku taman.
" kenapa ?" sebuah pertanyaan meluncur darinya. mungkin bibi sudah sedari tadi memperhatikanku yang melamun di sini.
" Widi bakal kangen tempat ini bi "
" ya sudah,gak usah pulang tinggal saja sama bibi di sini".
Aku tersenyum getir.
" pengen sih bi,tapi ada tanggung jawab pekerjaan yang sudah Widi tinggal sebulan ini".
Bibi membelai lembut rambutku.
"Kalau gitu,kalau ada waktu sering- sering kesini. bibi seneng kalau kamu di sini. bibi jadi ada temen"
__ADS_1
" iya bi,Widi usahakan ".
" oh ya Wid,ini kemarin bibi ketemu Aji. dia nitip ini buat kamu. katanya gak bisa nemuin kamu hari ini" . ucap bibi seraya memberikan paperbag padaku.
" iya bi,makasih ya. Aji juga sudah kirim pesan gak bisa kesini ada kerjaan di desa lain katanya ". jawabku seraya menerima bungkusan itu.
"barang- barangmu sudah selesai di kemas ?"
" sudah bi"
" jam berapa travelnya datang ?"
Aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
" setengah jam lagi mungkin sampai"
" iya bi " jawabku sembari menganggukan kepala.
Bibi berlalu meninggalkanku yang masih duduk di bangku taman. Aku membuka papar bag pemberian Aji. sebuah sweater rajut berwarna biru. dan sebuah note terselip di sana.
teruntuk Widi
Terima kasih kamu sudah singgah di hidupku meski hanya sejenak,tapi kamu sudah memberi warna indah di hidupku.
maaf hanya ini yang bisa ku berikan sebagai kenang- kenangan. Aku gak tau barang apa atau warna apa yang kamu suka. semoga kamu selalu mengingatku.
temanmu Aji
__ADS_1
Aku tersenyum,ku pakai sweater pemberian aji untuk membalut dress yang sudah kupakai. Terima kasih Aji,kamu adalah hal yang tidak akan aku lupakan.
Akhirnya sesuai perjanjian travel yang ku pesan datang. setelah memasukan koper dan dua kardus entah berisi apa ke dalam bagasi,karena bibi yang menyiapkan. Aku berpamitan pada bibi dan paman.
" Widi pamit bi,makasih banget bibi sudah sangat- sangat baik nerima Widi di sini ".
" sama- sama Wid,bibi pasti kangen kamu. sering- sering berkunjung" .
" Widi usahain bi " ucapku seraya memeluk bi Ifa.
" kamu hati- hati di jalan ". petuah bibi sambil melepas pelukan. aku mengangguk dan berucap.
" iya bi".
Beranjak kusalami paman yang berdiri di samping bibi.
" Widi,pamit paman. terima kasih untuk semuanya".
"sama-sama. hati- hati di jalan. salam untuk bapak ibumu".
" iya paman,akan Widi sampaikan".
Dengan berat hati kulangkahkan kaki masuk kedalam mobil. Aku akan kembali lagi kesini. setidaknya janji itu yang terselip di hatiku. Kami saling melambaikan tangan sampai aku benar- benar meninggalkan halaman rumah bibi dan hilang dari pandangan mereka.
Sebenarnya ada yang masih mengganjal di hatiku. Haris. Tentang lelaki itu,entah dimana dia. sudah dari tadi malam aku mengiriminya pesan. bahwa aku benar- benar pulang pagi ini. tapi tak tampak batang hidungnya. walau hanya sekedar untuk mengucap satu kata pisah. Ada rasa kecewa ini,tapi aku yakin dia punya alasan. dan seperti yang kamu bilang padaku. alasan untuk didengar dan sua kembali padaku untuk memaafkan atau melupakan.
Tapi tetap saja ada sesak ini di hati. aku ingin melihatnya. sebentar saja,untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Harap tinggallah harap nyatanya dia tak juga ada. Ris,aku pergi. semoga suatu saat ada waktu untuk kita bertemu lagi.
__ADS_1