
Tak terasa air mataku sudah membanjir. kak Ares terus mengenggam tanganku dalam diam. di bawanya aku keluar dari cafe lewat pintu belakang. Rasa kecewa,menghimpit dadaku. seperti inikah cinta ?, ketika keegoisan lebih menguasai. Bukankah seharusnya Adrian membiarkanku melupakannya ?. agar lara yang ia berikan bisa terkikis bersama berlalunya waktu.
Namun apa yang kudapat kini,egonya menginginkan aku untuk tetap dengannya. sedang ia tak lagi sendiri. Cintanya melukai harga diriku,seakan ia memintaku untuk jadi orang ketiga dalam rumah tangganya.
" apa kamu masih begitu mencintainya ?" dingin pertanyaan itu keluar dari bibir kak Ares setelah kami berada dalam mobil kak Ares. aku terdiam tak mengerti maksud pertanyaan kak ares.
"apa belum cukup air matamu untuknya ?",aku mengerti sekarang. kuhela nafas dalam. menggapus sisa air mataku. bahkan aku tak tahu untuk apa air mata ini harus mengalir.
" aku sendiri tak tau kak. jika aku mengatakan tangisanku karena aku masih terlalu mencintainya. itu sangat tidak adil untukku. mungkin aku hanya kecewa,kecewa pada diriku sendiri. kecewa karena terlalu sulit untukku menghapus sakit ini"
sunyi,tak ada kata yang terucap dari kami.tatapanku nanar menatap ke depan. perlahan air mata ini mengering. tiba- tiba tangan kak Ares menggenggam telapak tanganku. Lembut dan terasa hangat genggaman tangannya.
" apa masih ada ruang kosong di hatimu yang bisa ku tempati?'' tatap mata kami bertemu. dalam keremangan kulihat sorot mata itu. ada ketulusan,tapi justru aku yang takut, takut menyakitinya.
" aku tidak memintamu untuk menempatkanku dihatimu sekarang. tapi ijinkan membuatmu menerimaku,menempatkanku di hatimu dan membuatmu mencintaiku"
" kak" lirihku,telunjuk kak Ares mengatupkan bibirku.
" aku tak menginginkan jawabanmu sekarang,tunggu saat aku bisa membuatmu mencintaiku".
Aku menghambur dalam peuknya. merasakan kenyamanan dalam kehangatan dekap itu. ketenangan tersalur lewat belai lembut tangannya yang membelai rambutku.
" kuantar kamu pulang" . aku menarik diri melepas pelukan.
__ADS_1
" sudah malam kak,aku sudah ijin sama papa buat nginep di apartemen Livi".
" ya sudah,aku antar kesana".
" tapi acaranya ?"
" biar nanti aku hubungi Livi,kalau kamu masuk lagi. dia masih disana. Dia itu temannya Tian".
Aku menurut saja,malas jika harus bertemu lagi dengannya. dihidupkannya mesin mobil dan perlahan melaju meninggalkan cafe. Lengang jalanan karena sudah malam. Dengan kecepatan sedang mobil kak Ares terus melaju membeka pekat malam.
Rasa kantuk menyerangku,aku yang jarang tidur malam membuat kantukku tak tertahan. Akhirnya aku terpejam, terbuai dalam mimpi.
Mataku mengerjap,mencoba membuka mata yang masih terasa berat. Kamar ?, aku mencoba mengingat. bukankah tadi aku tertidur di mobil ?. Tapi ini,dikamar yang asing bagiku. bukan kamar Livi terlihat dari cat dan perabotnya. Dan ini tangan siapa ?. Kaki yang menindih kakiku juga tangan diatas perutku.
Kugeser kaki Livi yang menimpaku dengan gerakan kasar.
" apaan sih ?"
" lo tuh yang apaan ? ,tidur meluk- meluk gue segala. jijai banget " . gerutuku kesal. Livi mengerjapkan mata,dan ikut duduk disampingku setelah kesadarannya terkumpul.
'' kok lo gak teriak sih. padahal semalem tuh gue udah ngebayangin lo histeris kaya di film- film itu. pas lo tau tidur dimana. dan tiba- tiba ada orang di samping lo."
" sayangnya sebelum teriak gue udah mastiin dulu siapa yang ngelonin gue, taunya lo". ucapku sambil melemparkan bantal kearah Livi dan beranjak dari ranjang.
__ADS_1
Kubuka korden kamar,ternyata sudah terang benderang.
"kok gue gak inget kapan gue nyampe sini ya ?, masa iya gue di gendong kak Ares ?"
" gue juga gak tau,kemungkinannya dua. lo jalan sambil tidur atau emang lo digendong kak Ares".
" malu banget kalau digendong gue".
" malu juga gak akan balik kan kejadian semalem".
" iya sih,ini kamar kak Ares ?, terus lo kok disini ?". cercahku sambil menatap Livi yang masih bersantai di atask ranjang.
" iya ini kamar kak Ares,semalem dia telpon gue. katanya lo ketemu Adrian dan di bawa pulang kesini. terus kak Ares nyuruh gue buat tidur disini".
Aku cuma ber" oh oh" saja mendengar penjelasan Livi. Setelahnya aku ke kamar mandi membasuh mukaku bergantian dengan Livi.
Keluar kamar terlihat kak Ares dengan kaos polos pendek berwarna hitam dan celana pendek. duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.
" gak kerja kak ?" tanyaku yang ikut duduk disampingnya.
"entar siang - siangan aja ke kantor. Livi mana ?" jawabnya dengan tatapan terfokus pada layar laptop.
" masih di kamar"
__ADS_1
Pengen nanya sih semalem aku masuk apartemen ini di gendong atau gimana ?. Tapi malu juga,mending diam ajalah. sambil sesekali ngelirik kak Ares. Lelaki ini yang semalam bilang akan membuatku mencintainya ,benarkah ?. bahkan sekarang dia terlihat biasa- biasa saja. kembali pada satu ekspresinya. Datar .