
Hari ini aku dan kak Ares sepakat untuk menjenguk Adrian. jam makan siang kak Ares hendak menjemput ku di cafe. sekarang aku sedang mengecek beberapa laporan di dalam ruanganku.
" jadi Lo mau jengukin Adrian ?" tanya Livi yang juga sedang disibukan beberapa map di hadapannya.
" iya,kak Ares setuju untuk jenguk" sahutku tanpa mengalihkan pandanganku dari laptop.
" yakin Lo ,mas Ares gak bakalan cemburu ?. diakan cemburuan banget"
" gak tau juga sih,sama Haris aja bawaannya cemburu Mulu. ini malah ketemu Adrian. sebenernya gue juga gak terlalu yakin ".
" lha terus gimana ?"
" yah lihat aja nanti,seberapa dewasa sih mereka ".
Tampak Livi mangut-mangut. pekerjaanku selesai sudah. saat sebuah pesan masuk di hpku.
kak Ares
" sayang,aku udah di depan. kamu kesini ya,aku gak masuk"
me
" oke aku keluar"
" Liv,cabut dulu ya,Abang Lo udah di depan "
" oke,ati-ati jangan sampai ada korban jiwa" selorohnya aku hanya menanggapinya dengan senyum. Sampai di parkiran,mataku terpanah pada sosok yang bersandar di pintu mobil . pakaian serba hitam dari Hem yang lengannya tergulung sampai siku. celana serta sepatupun hitam. hanya dasi yang sudah mengendor itu yang bercorak belang . kacamata hitam pun dikenakan menutupi mata elangnya.
" kak,ini nengokin orang sakit ya. bukan melayat " ucapku setelah didepannya. senyum manis tersungging dari bibir tipisnya sambil memperhatikan penampilannya sendiri.
__ADS_1
" gak nyadar kakak Wid pake item- item,udah yuk berangkat !".ucapnya. membukakan pintu mobil untukku.
Sebenarnya gak ada yang salah dengan penampilan kak Ares. dimataku justru terlihat maskulin and perfect.
" mau bawa apa,bunga atau buah ?" tanya kak Ares setelah sama- sama naduk dalam mobil".
" mawar merah" celetukku,yang jelas memancing tatapan horor kak Ares. aku tertawa renyah mendapati kak Ares yang menatapku di balik kacamata hitamnya.
" buka dong kak,kacamatanya biar tambah jeng- jeng gitu." selorohku.
" iseng aja kamu . jangan suka mancing-mancing kenapa sih ?"
" lha kok jadi aku yang salah,kakak yang tanya juga buah apa bunga."
" ya tapi...." belum selesai ucapannya buru- buru ku potong.
Kak Ares melajukan mobilnya perlahan tak lagi membalas ucapanku. yang pasti tak akan berujung kalau terus di jawab. sikap cemburuan juga posesif kak Ares justru terkadang menjadi hiburan tersendiri,meski terkadang juga terasa menyebalkan. Tapi entah kenapa aku merasa nyaman dengan sikapnya yang menyebalkan itu.
Mencintai kak Ares adalah hal yang tak pernah terlintas sedikitpun dari benakku. namun nyatanya cinta itu kini benar-benar telah mengisi seluruh hatiku. mungkin sebenarnya tak ada alasan untukku menilik masa lalu. seharusnya dengan cinta yang telah kumiliki saat ini,menghindar dari masa lalu akan lebih baik.
Tapi aku hanya ingin menyelesaikan semua kisah yang memang telah usai. Aku hanya ingin tak ada lagi sebuah cerita yang membawaku pada cerita lalu saat ku putuskan membangun mahligai rumah tangga. aku hanya ingin mengikhlaskan dan di ikhlaskan,melepaskan dan di lepaskan.
semoga tak ada lagi cerita tentang cinta yang masih tersisa. dan semoga ini yang terakhir aku menemuinya,dengan sebuah rasa yang masih ada dalam dirinya. aku ingin esok saat takdir membawa kita pada jalan yang sama. cukup kita saling menyapa tanpa lagi ada beban bernama cinta.
" sayang ,diem aja" suara kak Ares membuyarkan lamunanku. aku menoleh dan tersenyum menatapnya.
" mikirin apa ?" lanjut kak Ares.
" gak ada" bohongku.
__ADS_1
" gak mungkin,jangan bilang kamu lagi mikirin mantan kamu ?" sambungnya lagi tanpa menatapku.
" ih kok tau,punya indera keenam ya ?"ucapku dengan senyum meledek. tapi sukses membuat kak Ares menghentikan laju mobilnya.
" kaaaak..." teriakku.
" gak jadi jenguk,pulang ".
" hahaha.... kak- kak . mancing sendiri,marah sendiri. minggirin dulu mobilnya,gak denger itu klakson usah pada teriak-teriak".
kak Ares menurut,meminggirkan mobil dengan muka masamnya. setelah berhenti di tepi jalan ,aku keluar berjalan menuju toko buah yang tak terlalu jauh dari tempat berhenti. Kak Ares ikut turun. meraih pergelangan tanganku membuatku berhenti dan menatapnya.
" kenapa ?" tanyaku lembut.
" jangan sekarang ya ke rumah sakitnya. aku belum siap". aku tersenyum mendengar pernyataan kak Ares .
" sayang,aku harus menyelesaikan semuanya. aku gak mau saat kita sudah melangkah lebih jauh,masih ada krikil masa lalu yang mengganggu langkah kita. sakit Adrian masih ada hubungannya denganku . itu menurut cerita mamanya. aku hanya ingin melepas dan di lepas. percaya sama aku. hati aku ini cuma buat kamu" .
Kak Ares meraih tubuhku membawaku dalam pelukannya .
" maaf kakak yang terlalu pencemburu " lirihnya .
" sudah biasa ". sahutku dengan seringaian diwajahku. kak Ares melepas pelukannya.
" punya cewek,susah diajak serius"
"ih,diajak nikah aja mau. kurang serius apa coba ?"
Dan terjadilah perdebatan gak mutu di pinggir jalan.
__ADS_1