Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
berbicara pada bintang


__ADS_3

Menatap kegelapan malam berteman kerlip bintang yang jauh di atas sana. Berharap luka ini segera mengering dan tak ada lagi perih yang membuatku merintih. Melihat orang yang kita cintai dengan orang lain rasanya sungguh memilukan. Aku bukan orang yang akan bahagia melihat orang yang kucintai bahagia dengan orang lain. karena seharusnya dengankulah dia tertawa,denganku dia bahagia dan denganku seharusnya ia berkeluh kesah. Aku tak setulus itu untuk mengatakan,aku bahagia melihatmu bahagia,karena sejatinya hati ini terluka.


Aku tersenyum miris menatap langit. menikmati kesunyian ,rasa kantuk tak kunjung datang mata ini masih enggan terpejam. Duduk di balkon berteman secangkir teh. Pandangan menerawang menembus angkasa. seakan diri disana menari,bercanda dan berbicara dengan bintang.


Tinggi lamunan mengungkungku dalam khayal tak berkesudahan. Inilah mungkin relita dari lirik lagu' khayalan ini setinggi- tingginya,seindah- indahnya '. Aku tersenyum getir sendiri. menyadari diri betapa lemah dan rapuhnya rasa yang kupunya.


Kulihat kalung pemberian Haris yang kini berada dalam genggam tanganku. Karena tadi aku masih berbalas chat dengannya. sekedar bertanya kabar tentang dia. Sekarang aku benar mamahami,bukan cinta yang ku miliki untuknya. sekedar rasa nyaman saat hati butuh sandaran. Karena nyatanya saat ku jauh tak ada rindu yang mencekikku.


Helaan nafas panjang,mencoba melonggarkan rongga dada yang terasa sesak. kilasan wajah Indira dan Adrian terkadang masih membayang. Sampai kapan hatiku terkurung oleh sakit ini. kusesap teh dalam gelas. Tatapan mataku masih menerawang jauh. sampai suara pintu membuyarkan lamunanku.


" Lian,ngagetin aja" gerutuku yang melihat Lian keluar dari pintu balkon kamarnya.


" ngapain mbak malem- malem masih disitu ? " tanya Lian seraya berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelahku. Karena balkon ini terhubung dengan dua kamar yang ada diatas. kamaku dan kamar Lian.


'' belum ngantuk ,lo sendiri ngapain ?"


" habis nyicil ngerjain skripsi,cari angin"

__ADS_1


" kenapa lagi sih mbak,jangan terus- terusan kayak gini dong. Lian tahu gak gampang buat ngelupain seseorang. apalagi dia sudah terlalu lama dalam hidup kita. tapi jangan terus gini dong mbak''. dewasa banget adikku ini. padahal kalau tengilnya kumat nyebelinnya minta ampun.


"Mbak juga pengen banget ngelupain semua. Tapi sepulang mbak dari desa beberapa kali ketemu dia. dan tadi malah ketemu dia sama istrinya. sakit banget Ian. Dan lagi- lagi kalau ketemu dia seperti membuka luka yang hampir mengering".


" Dan mbak itu kenapa barang masih di simpan ?" tanya Lian yang melihat kalung di tanganku.


" ini" aku mengangkatnya memperlihatkan pada Lian. " bukan pemberian dia kalau ini " lanjutku


" terus ?" Lian memasang tampang penasarannya.


" Ini dikasih Haris..." belum selesai menjelaskan Lian keburu memotong.


" temen mbak waktu di desa. dulu temen sekolah dan temen main mbak. terus pas kemarin mbak ke desa ketemu dia lagi"


Lian mangut- mangut mendengar penjelasanku.


" kalau ngasihnya aja kayak gitu. pasti dia suka sama mbak. kenapa gak mbak pacarin aja ?"

__ADS_1


"Lian,Lian. yang gak LDR mbak di selingkuhin. lha ini mbak dimana dia dimana. Lagian kalau saat ini mbak pacaran. kesannya pelarian banget gak sih ?"


" kalau menurut Lian gak masalah. oke mungkin saat ini mbak belum bisa memberikan hati mbak seutuhnya karena nama Adrian masih ada. Tapi siapa yang tau awal pelarian jadi cinta beneran. kata orang cinta bisa datang karena terbiasa ".


" egois banget gak tuh ?"


" kita berhak egois mbak"


Aku tersenyum menatap adik lelakiku.


" kadang- kadang lo bisa dewasa juga ya"


" yaelah mbak lo kata gue anak kecil. udah 21 mbak"


" udah layak disebut dewasa ya" selorohku.


" iyalah"

__ADS_1


Malam semakin larut,kami masih asyik ngobrol. Hampir tengah malam baru aku dan Lian masuk kamar masing- masing. Terlelap dalam tidur berharap keyika bangun esok pagi ada lembar baru yang lebih indah untukku.


__ADS_2