
Kangen,pasti. sebulan sudah aku tak menginjakkan kaki disini. Tapi semua masih sama. mataku mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan. cafe masih sepi karena ini juga masih terlalu pagi. baru beberapa karyawan yang datang.
" pagi mbak Widi " sapa Elis yang baru datang. aku mengalihkan pandanganku menatapnya dengan senyum yang ku buat seramah mungkin.
" pagi Lis " sahutku.
" pulang kapan mbak ?. kok pagi banget udah disini ? " tanya Elis tang mulai menyibukkan dirinya dengan sapu.
" pulang kemarin,kangen cafe Lis. gimana selama aku tinggal rame gak ?". ucapnku seraya duduk tak jauh dari elis yang sedang bersih- bersih.
" rame seperti biasa mbak. mau Elis bikinin kopi mbak ? "
" boleh,kalau gak ngerepotin. sekalian sama cake ya Lis" sahutku dengan cengiran.
" takut ngeropotin kok malah request. mbak,mbak"
Elis beranjak pergi meninggalkanku yang tertawa sendiri. Ku ambil ponsel dalam tas. ada banyak notifikasi chat yang belum ku baca. Aji dan Haris yang menyakan kabarku. Ada bibi,Ilham juga Livi. Livi menanyakan kepulanganku karena aku belum mengabarinya. satu persatu chat ku balas. sampai Elis kembali membawa secangkir moccachino dan cake cokelat. Yang sudah lama kerja disini seperti Elis tak perlu lagi bertanya kesukaanku karena mereka sudah hafal.
" makasih Elis".
" sama- sama mbak". jawab Elis yang segera beranjak meninggalkanku dan kembali dengan kesibukannya. sedang aku menikmati sarapan pagiku. karena tadi sengaja belum sarapan di rumah.
Aku yang sedang santai menyeruput kopiku menangkap sekelebat bayangan dari balik kaca. seseorang yang sedang memperhatikan motor matic ku yang ku parkir di depan cafe. sosok yang tak asing namun tak ingin ku temui. Adrian.
" Lis !" panggilku dengan lambaian tangan memintanya mendekat.
" ada apa mbak ?" tanyanya setelah di dekatku.
" Lis,kamu lihat kan lelaki itu yang di dekat motorku".tunjukku
Elis mengikuti arah pandangku dan mengangguk.
" pacar mbak kan ?''
" mantan"
__ADS_1
'' hah,kok bisa ?" raut wajah Elis menyiratkan keingintahuan.
" gak usah kepo,tugas kamu jangan sampai itu makhluk masuk sini".
Hahaha.... tawa Elis pecah mendengar ucapanku.
" yah malah ketawa"
" lagian mbak ngomongnya gitu banget. makhluk. kaya makhluk jadi- jadian gitu".
" emang iya. udah sana kamu usir dia. terserah mau pake cara apa yang penting dia pergi dari sini" .
" oke mbak"
Aku memperhatikan Elis yang keluar dari pintu cafe. tampak Adrian langsung menghampirinya. Tak begitu lama keduanya berbincang dan Adrian pergi. masuk mobil dan meninggalkan parkiran cafe. aku tersenyum lega. kalau boleh jujur ingin aku menemuinya bahkan memeluk tubuh itu. munafik jika ku katakan aku telah melupakannya. namun rasa sakit,rasa kecewa dan patah hati ini,menyisahkan luka yang sulit ku obati.
" misi sukses mbak Widi"
" good job"ucapku sambil mengacungkan jempol.
Elis hanya tersenyum dan mengangguk,aku berlalu masuk keruanganku. cukup lama aku terdiam disini. di mejaku bersih tanpa ada berkas apapun. Livi pasti sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku tersenyum tipis,mengingat betapa baiknya sahabatku itu.
Suara pintu terbuka dan muncul sosok yang sudah sangat ku rindukan.
" Widi,lo kok pulang gak bilang- bilang " ucap Livi yang langsung menghampiriku yang saat ini berdiri di samping meja kerjaku. Dia langsung memelukku yang kusambut dengan pelukan erat.
" kangen" ucap Livi
" sama gue juga kangen banget."
" kok lo balik gak ngabarin sih ?," tanya Livi melepas pelukannya.
" kan surprise" sahutku.
Aku dan Livi duduk di sofa.
__ADS_1
" gimana di desa ?" tanya Livi antusias.
" nyenengin,sejuk,damai''.
" jadi pengen liburan ke desa".
" kapan- kapan kita liburan berdua kesana"
" asyik kayaknya itu. terus gimana ?, udah move on kan ?"
Aku menghela nafas. tak semudah itu. meski luka ini begitu dalam. tapi tak semudah itu untuk kata melupakan.
" jangan sedih gini dong " ucap Livi yang memelukku dari samping saat aku hanya terdiam dengan ucapannya.
' 'terlalu sulit ternyata Liv,apalagi saat gue harus lihat dia"
" lo pasti bisa. gue yakin lo bakal nemu orang yang beribu kali lebih sempurna dari dia". aku tahu itu hanya sebuah penghibur hati ini. tapi aku bersyukur ada sahabat yang selalu ada di sisiku. aku hanya bisa tersenyum kecut mendapati diriku yang terlalu rapuh karena cinta.
" tadi adrian kesini Liv" ucapku yang membuat Livi melepas pelukan dan duduk tegak menatapku.
" lo ketemu dia ?"
Aku menggeleng" Elis gue suruh buat nemuin dia" sahutku yang membuat Livi nampak bernafas lega.
" hampir tiap hari dia nyariin lo''
" menurut lo ,gue mesti nemuin dia gak sih ?"
" kalo menurut lo masih ada yang perlu lo selesain ya lo temuin. kalo menurut lo udah selesai ya gak lo temuin gak apa- apa"
" buat gue semua udah selesai. tinggal melepaskan dan mengikhlaskan"
Tatapan kami bertemu,senyum manis Livi terukir di bibir tipisnya. Lagi- lagi dia memelukku.
' apapun yang terbaik buat lo,gue selalu dukung " lirih Livi yang membuatku tersenyum.
__ADS_1