
Malam tampak cerah,ribuan kerlip bintang terlihat menghiasi pekatnya langit malam. bulan sabit melengkung indah diantara bintang. Pemandangan yang akan membuatku betah untuk terus menikmatinya. Kini aku disini bersama kak Ares bermalam minggu,di pinggir jalan menikmati kuliner nusantara yang banyak di jajakan di warung- warung tenda pinggir jalan. Hal yang akan selalu ku sukai makan di pinggir jalan. melihat keramaian dan juga pemandangan yang di suguhkan alam.
Selesai menikmati makan malam,aku dan kak Ares duduk di bangku taman. mataku tak lepas menatap langit yang begitu indah malam ini.
" segitu tertariknya sama langit" . ucap kak Ares yang ikut mebengadahkan kepalanya.
" he'em,karena langit memiliki teka- teki yang tak terbaca. terkadang begitu cerah tapi dalam sekejap bisa saja hujan turun. bahkan saat panaspun kadang tiba- tiba hujan. kadang sudah mendung gelap ternyata tak ada hujan. seperti takdir. kadang kita sudah berencana dengan apa yang sudah terlihat dalam hidup kita sekarang. nyatanya sering takdir berkata lain". sahutku tanpa mengalihkan pandanganku dari langit.
" karena takdir sudah tersurat untuk kita. kita tinggal menjalani skenario yang Tuhan siapkan. untuk menjadi rangkaian kisah dalam hidup kita. ada luka,kecewa,sedih,tangis,tawa,dan bahagia. semua sudah Tuhan siapkan. Kita tinggal siapkan mental untuk menjalani semuanya".
Aku tersenyum menatap kak Ares yang kini menatapku. Lembut tatapan itu,sebuah tatapan yang dulu tak pernah ku dapati di manik matanya.
" kak"
" apa ?"
" boleh tahu ?"
" soal ?"
" kenapa kak Ares tiba- tiba tertarik sama Widi ?".
" mungkin buat kamu tiba- tiba Wid,tapi gak buat aku. sejak kamu sering main kerumah,kamu sudah ada di sini" ucapnya sambil menunjuk dadanya sendiri.
__ADS_1
Tunggu dulu,aku sering kerumah dia kan sejak smp,apa mungkin selama itu ?. itu berarti sejak kak Ares SMA.
" sejak aku sering kerumah ?, selama itu kak ?" tanyaku tak percaya. tapi senyum dan anggukan kak Ares menjadi jawaban.
" dan selama ini kakak memilih diam ?".
" yah,waktu kamu masuk SMA aku pernah denger kamu ngobrol sama Livi. kamu gak di bolehin pacaran sampai kuliah selesai. setelah kamu selesai kuliah,aku pikir itu kesempatan aku buat deketin kamu.tapi ternyata kamu sudah punya Adrian waktu itu".
oke,aku kaget mendapati kenyataan ini. jadi selama ini. secara gak langsung aku sudah menyakiti hati yang tanpa ku tahu ternyata menungguku.
" sorry kak,kalau selama ini tanpa ku sadari aku sudah menyakiti kamu".
" kamu gak salah,aku yang selama ini terlalu pengecut. memilih mengagumimu dalam diam. dan mungkin aku orang yang paling bahagia mendengar kamu putus sama Adrian ".
" iyalah,kan aku gak perlu nikung kamu dari Adrian,udah dia lepas sendiri."
Kak Ares merengkuh tubuhku membawa kepalaku bersandar di pundaknya. Lembut tangannya membelai rambutku yang tergerai.
" Wid,apa kamu sudah bisa melupakan Adrian ?" lemah suara itu.
" kalau Widi gak amnesia ,mana bisa lupa kak."
" bukan itu maksud kakak Wid".
__ADS_1
Aku mengangkat kepalaku yang bersandar di bahunya. menatap dalam mata kak Ares.
" kak,mungkin aku gak akan pernah bisa ngelupain Adrian. karena biar bagaimanapun dia sudah terlanjur ada dalam kisah hidupku. tapi untuk mencintainya lagi. itu gak akan pernah terjadi.''
Kak Ares menggenggam tanganku dan mencium punggung tanganku dengan lembut.
" ternyata kalau es batu jadi es cream gini ya ." celetukku.
" maksudnya ?".
" iya kakak kan dulu es batu. keras dan tawar,tapi sekarang jadi es cream. lembut dan manis".
" suka- suka kamulah,mau es batu,si kaku,muka datar kaya tembok, sekarang es cream".
" hahaha... inget aja kak".
" ingetlah orang tiap ketemu di ledekin terus sama kamu".
Kak Ares, cerita hidup baru untukku. akan ku jalani bersamanya,semoga cerita ini berakhir indah. Biarkan yang lalu menjadi sejarah dan yang baru kan ku ukir cerita bahagia.
" kakak udah pernah coba buka hati buat cewek lain belum ?" tanyaku yang kini sudah kembali menyandarkan kepalaku di bahunya.
" pernah,cuma berjalan beberapa bulan. karena nyatanya saat aku melihat kamu perasaan ini gak bisa berubah".
__ADS_1
" segitunya ya,jadi sayang". ucapku sambil memeluk pinggang kak Ares. dan sebuah kecupan ia daratkan di keningku.