
Masih dalam diam,aku duduk berhadapan dengan Haris. yah seseorang yang tiba- tiba datang adalah Haris. Kami masih bungkam, ada rasa yang tak ku mengerti menghampiri bilik kecil hatiku. mendengar Adrian terpuruk,entah kenapa ada rasa tak tega. tapi sungguh tak ada secuil keinginanku kembali padanya. meski mungkin rasa itu belum sepenuhnya hilang dari hatiku. namun kembali padanya tak pernah ada dalam rencana hidupku.
" ada apa sebenarnya Wid ?" Haris membuka suara.
" adrian Ris'' jawabku lirih.
"dia kenapa ?"
" tadi istrinya menemuiku dan dia mengakui semuanya,tentang kehamilannya yang ternyata bukan anak Adrian. Dia memintaku untuk kembali pada Adrian''.
" dan kamu akan kembali padanya?"
Aku menggeleng lalu berucap " tak pernah ada niatanku untuk kembali Ris,dia lembaran kisah laluku dan biarkan tetap menjadi masa lalu. hanya saja hatiku masih belum seutuhnya menghapus namanya. mendengar dia hancur saat ini ada sedikit luka di hatiku Ris".
Haris menggengam tanganku,menyalurkan sebuah rasa nyaman di dadaku.
"biar bagaimanapun dia adalah bagian hidupmu di masa lalu. tak mungkin kamu menghapusnya,dan cinta yang pernah ada tak mungkin bisa hilang secepat kita mengedipkan mata. beradaptasi dengan apa yang kamu miliki sekarang itu yang harus kamu lakukan. mungkin kamu belum bisa mencintai sepenuh hati dengan pasanganmu sekarang. tapi berjalannya waktu tak ada yang tak mungkin. cinta bisa datang karena terbiasa".
Aku tersenyum menatap lelaki yang selalu saja bisa meneduhkanku. Dia begitu dewasa,terlepas dari semua rasa yang mungkin ada di hatinya. dia adalah orang yang mampu menempatkan diri sebagai sahabat yang baik.
" makasih Ris ".
" sama- sama, gunanya temankan saling menguatkan". sahutnya seraya melepas genggaman tangannya dan tersenyum manis padaku.
satu yang kuharapkan sekarang,agar hati ini tak berpaling pada sosok lelaki yang kini di hadapanku. Aku sedang belajar mencintai dan menerima Ares dalam hidupku. namun justru disaat aku mulai merasakan sebuah getar berbeda pada Ares kini aku di hadapkan pada sosok lelaki mengagumkan. Tapi biarkan ia tetap pada posisinya menjadi sahabatku. dan Ares,tunggu sampai aku bisa memberikan sepenuh hatiku untukmu.
__ADS_1
" Wid,kayaknya aku harus balik ketempat kerja . ini waktu istirahatku hampir habis". ucap Haris seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"duh jadi belum makan siang kamu".
" gak apa- apa".
" tunggu sebentar deh,biar dibungkusin makanan"
" gak usah"
" jangan nolak rejeki Ris"
"oke tapi jangan yang ada nasinya,gak bisa entar makannya".
" oke"
" Ndi tolong bungkusin cake buat mas ini ya". pintaku seraya menunjuk Haris yang berdiri di sampingku.
" oke mbak,cake apa nih ?"
" apa Ris ?"
"terserah apa aja"
"siap" ucap nindi seraya berlalu.
__ADS_1
" lho mbak Widi,tadi
di cari mas Ares kok sekarang mas ini '' ucap Dimas yang baru saja dari dapur.
" Kak Ares ?, emang kak Ares kesini ?". tanyaku yang tak melihat kedatangan Ares dan sekarangpun tak tahu lelaki itu dimana.
" iya tadi kesini,aku kasih tahu mbak di belakang"
" mampus gue,habis sudah. pasti salah paham" gumamku pada diri sendiri.
" jelasin deh secepetnya,kalau dia gak percaya nanti kamu kabarin aku. biar aku yang jelasin". saran Haris.
" iya deh,kalau gitu aku pergi dulu " lanjutku yang langsung bergegas pergi. mengambil tas dan mencoba menghubungi kak Ares yang ternyata panggilanku di abaikan olehnya.
" eh eh,mau kemana lo ?" tanya Livi yang baru saja masuk cafe dan berpapasan denganku yang sedang buru- buru melangkah keluar.
" nyari abang lo yang lagi ngambek ".
" hahaha.... kayak anak kecil aja pake ngambek kasih permen Wid biar udahan ngambeknya".
" ah lo becanda mulu,beneran nih abang lo lagi ngambek,telpon gue aja gak diangkat ".
" emang ada masalah apa ?" tanya Livi dengan nada serius.
" cemburu,udah entar gue jelasin. gue mau nusulin dia kekantor dulu. biar gak tambah panjang urusannya".
__ADS_1
" iya deh,semangat kakak ipar" ucap Livi sembari mengepalkan tangan dan mengangkatnya. seolah memberi semangat orang yang akan lomba maraton saja.
" rese lo ah'' ucapku yang hanya di sambut tawa Livi yang segera berlalu masuk cafe. sementara aku menghampiri taksi online yang sudah ku pesan dan pergi menuju kantor kak Ares.