
Sepulang dari butik,aku dan Livi tak kembali ke cafe. melainkan ke rumahku,sudah lumayan lama Livi tak singgah ke rumah. dulu selagi masih sekolah dan kuliah setiap akhir pekan kalau bukan aku pasti Livi yang menginap. Tapi setelah bekerja dan telah memiliki kekasih,akhir pekan kami tak lagi sama. akhir pekan untuk pasangan . dan semua cerita yang biasa terbingkis indah yang kami ceritakan di malam akhir pekan,beralih di cafe setiap ada waktu senggang. kami tetap sama,tak akan berubah.
" siang Tante,makin cantik aja" sapa renyah Livi saat menjumpai mama yang sedang asyik di depan Tv.
" nah ini nih yang gak pernah kelihatan. sudah lupa sama Tante" ucap mama dengan nada dibuat kesal. Livi menampilkan senyum termanisnya seraya menyalami mama dan mencium pipi mama.
" mana mungkin Livi lupa sama Tante paling cantik sedunia" seloroh Livi.
" pinter ya ngerayunya" selaku sembari menyalami mama dan mencium punggung tangannya setelah Livi duduk di sebelah mama. Livi hanya nyengir.
" kemana aja,gak pernah kerumah ?'' tanya mama yang kini berada di tengah,diantara aku dan Livi.
" sibuk Tante"
" sibuk pacaran " selaku.
" itu mah elo"
" sudah gak usah berantem,mumpung disini. nanti makan malam di sini sekalian. mau Tante masakin apa ?"
" apa ya,terserah Tante aja deh ,apapun yang Tante masak pasti enak" . pinternya sahabatku ini mengambil hati mama. aku yang anaknya tak pernah di tanya mau makan apa. yang ada kalau urusan dapur aku akan selalu diajak berkutat disana.
" ya sudah,Tante mau masak buat makan malam" . ucap mama sambil beranjak.
" oke tante" .
Dan tinggallah dua gadis tak tahu diri,aku dan Livi. kenapa tak tahu diri ?, bagaimana mau di bilang tahu diri saat mama masak untuk makan malam. kami justru asyik disini . Kami berdua sama. sama-sama tak suka berkutat dengan urusan dapur. meski karena hal itu hampir setiap hari mama mengomel.
" Wid,Lian udah hampir wisuda kan ya ?"
" bulan depan kayaknya,kenapa ?" tanyaku yang sedang sibuk mengganti channel tv.
" gimana kalau bantuin di cafe ?"
" ya kalau dia mau,gue sih setuju aja"
__ADS_1
" sekarang dimana anaknya ?" tanya Livi. membuatku menoleh dan menghembuskan nafas pelan.
" eh non,dari tadi gue sama Lo,mana gue tau" protesku dengan tatapan jengah.
" iya ya " ucap Livi.
Sesaat hening,hanya suara tv yang terdengar. Livi asyik dengan ponselnya. aku masih sibuk dengan remot tv. Tak ada yang menarik. suara langkah kaki terdengar memasuki rumah. aku menoleh,Lian dengan tas di punggungnya memasuki rumah dengan langkah santainya.
" tuh anaknya" ucapku pada Livi. Livi meletakkan ponsel dimeja.
" Hay Ian" panggil Livi saat Lian hendak menaiki tangga menuju kamarnya. langkahnya terhenti ,menatap Livi yang masih menatapnya dengan seulas senyum manis.
" eh Mbak Cantika "sahut Lian dengan senyum sumringahnya. Langkahnya kini menuju kami yang sedang duduk di ruang tengah.
" masih dipertanyakan juga nih cantiknya mbak ?" seloroh Livi.
Yah Lian dari dulu suka memanggil Livi dengan mbak Cantik. dan Livi merasa namanya mempertanyakan kecantikannya. padahal kan Cantika bukan Cantikah ?.
" kalau cantiknya mbak mah udah paripurna gak perlu di pertanyakan apalagi diragukan" gombal Lian.
" adik ?, yah. kecewa aku nya" ucap Lian seraya menghempaskan tubuhnya diatas sofa ditengah antara aku dan Livi. tempat dimana tadi mama duduk.
"lha kenapa kecewa ?"
" mbak Cantik,bisakah kau melihatku sebagai pria dewasa ?" ucap Lian dengan nada penuh drama.
" hahaha...." tawaku meledak begitu juga Livi.
" Oh my God,gemes gue dengernya. Lian ....Lian." ucap Livi seraya mencubit pipi Lian sedang aku langsung menimpuk kepala Lian dengan bantal sofa.
" ah KDRT" . teriak Lian sambil mengusap pipinya,dengan tampang di tekuk.
'' sejak kapan sih adik gue ini udah dewasa ?" tanya Livi dengan nada jenakanya.
" sejak mengenal cinta. I love u mbak Cantik" sahut Lian yang sudah mengubah raut wajah dengan mode tengilnya. senyum jail dan alis yang di naik turunkan,membuatku ingin menjitak kepalanya.
__ADS_1
" love you too boy"
" duh mbak ini masih di bumi kan ya ?"
" kenapa ?"
" berasa di luar angkasa. melayang."
lagi-lagi tawa pecah . tak ada yang serius,hanya ketengilan Lian yang sedang kambuh.
" duh Lian,sejak kapan ?". tanya Livi
"apanya mbak ?"
" gilanya ". jawab Livi,Lian pura-pura memberengut karenanya.
" udah becandanya,gue mau ngomong serius nih" . lanjut Livi setelah jeda beberapa saat. sambil menatap Lian dengan tatapan seriusnya.
" Lian belum siap mbak buat serius''
" Lian". sentak Livi yang membuat Lian nyengir. Aku memilih diam cukup menyaksikan.
" iya mbak iya,Lian dengerin".
" gini Ian,Lo bentar lagi kelar kan kuliahnya. Lo bantuin mbak ngurus cafe ya. rencananya mbak mau buka cabang".
Sesaat Lian terdiam,matanya memandangku. seakan mempertanyakan pendapatku.
" mbak gak maksa,senyamannya Lo aja. kalau gak nyaman di cafe ya gak apa-apa" . ucapku
" gimana kalau Lian coba dulu. tapi mbak jangan marah ya. kalau misalnya Lian di tengah jalan ngerasa gak nyaman". sahut Lian dengan nada seriusnya.
" iya gak apa-apa" jawab Livi.
setelahnya kami bertiga bubar dari ruang tengah,menyisakan tv yang masih menyala tanpa penontonnya. Lian kekamarnya,aku dan Livi kekamarku. Hendak membersihkan diri. Hari mulai petang aku dan Livi berada di kamar sampai waktu makan malam.
__ADS_1
Sekedar rebahan sambil bercerita dan bernostalgia. mengingat kenangan yang telah lalu. masa-masa indah yang kini tinggal cerita. mengingat begitu banyak waktu yang telah kita lalui bersama. dan aku bahagia sampai di titik ini. masih dengan sahabat yang sama. yang akan tetap menggenggam tanganku dan menuntunku dalam segala rasa.