
Sesampainya di cafe masih sepi. baru beberapa yang datang. mereka sedang merapikan meja kursi,bersih- bersih dan segala rutinitas sebelum cafe buka.
" pagi mbak Widi,tumben mbak pagi bener ?" sapa nindi yang sedang mengepel.
"pagi ,iya nih,soalnya cuma nebeng. motor lagi di bengkel, anterin minum ke ruanganku ya Ndi"
" oke mbak"
Aku bergegas ke ruanganku duduk di belakang meja kerja. mulai membuka map berisi laporan. Ketukan pintu terdengar tak lama berselang setelah aku masuk ruangan.
" masuk" titahku. Nindi dengan secangkir kopi mendekat padaku.
" nih mbak kopinya" ucapnya sambil meletakkan cangkir di meja kerjaku.
" makasih ya ndi "
" sama-sama mbak"
Nindi berlalu meninggalkanku. ku minum sedikit kopi yang masih terasa panas di lidahku. Kunyalakan laptop dan mulai berkutat dengan pekerjaanku.
Sedang fokus- fokusnya dengan pekerjaan. pintu terbuka,Livi muncul dari balik pintu.
" eh kakak ipar,pagi bener''
Aku mengernyit bingung,Livi malah justru tertawa.
" lo"ucapnya sambil menunjuk padaku.
" gue ?"
" yes "
__ADS_1
" ngaco lo,". kulempar pulpen yang berada di depanku. sayang tak mengenainya karena langsung di tangkap Livi.
" jangan pikir gue gak tau, lo kemarin jalan kan sama mas Ares" . ucap Livi dengan mimik wajah menyebalkannya.
" kak Ares cerita sama lo ?''
" gaklah sejak kapan mas Ares mau cerita. kebetulan aja kemarin gue di mall yang sama". sahutnya sembari duduk di kursi kerjanya.
" katanya lo kemarin dirumah Reza"
" gak seharian juga kali gue disana. jadi ada waktulah gue mergokin lo kencan sama abang gue" cicitnya dengan nada meledek.
"kencan apaan,motor gue mogok Liv,terus kak Ares minta gue nemenin belanja baju kerja".
" gak perlu dijelasin Wid,gue seneng lho kalau kalian jadian". ledeknya dengan mata di kedip- kedipkan. Rasanya pengen banget ku jitak tuh kepala.
" au ah"
" terus aja teruuuus" .teriakku. tawa Livi meledak membuatku mencebikkan bibir. jengkel dengan kelakuan sahabatku ini.
" oh Wid,yang kemarin katanya mau bikin acara ultah gimana ?"
" gue belum ambil keputusan. masalahnya bikin acaranya itu malem. bubar paling gak jam duaan. nah gue kan butuh persetujuan yang lain. pada mau lembur gak. kalo gue ijin bokap mungkin bolehlah sekali gue pulang pagi. ntar minta di temenin Lian".
Livi tampak mangut- mangut.
" ya udah kita kumpulin aja buat rapat mumpung belum rame ini"
Livi berdiri dari duduknya,aku juga segera beranjak mengikuti Livi keluar ruangan.
" Liv,lo ngasih nomer gue ke kak Ares"
__ADS_1
" gak kakak ipar" santai banget dia jawab gitu. aku memandangnya dengan tatapan tajam yang cuma di balas dengan cengiran.
" gue sumpel juga tuh mulut pake sambel"
" santai Wid,santai. abang gue jomblo ini. lo juga jomblo jadi don' t worry be happy".
" eh tapi kalau bukan dari lo terus dari siapa dia dapet nomer gue ?"
Livi mengangkat bahu,sepertinya ia benar tak tahu.
"esti !" panggil Livi pada kasir di cafe kami.
" ada apa mbak ?" tanya Esti setelah berada di hadapan kami.
" kumpulin anak- anak ya. suruh ngumpul disini"
" baik mbak"
Tak menunggu lama,semua sudah berkumpul di depan kami. Livi memimpin, memulai menyampaikan maksud kami mengumpulkan mereka. sebagian besar gak keberatan untuk lembur. hanya ada dua orang yang katanya sudah terlanjur ada acara malam itu. jadi dengan kesepakatan bersama kami menerima bookingan tempat untuk ulang tahun itu.
Tamu mulai datang kami kembali ke posisi masing- masing. aku dan Livi kembali keruangan,menyelesaikan tugas dan mulai memikirkan tata ruang untuk acara yang akan berlangsung tiga hari lagi.
Pekerjaanku selesai sudah,tinggal bersantai. Aku merenggakan otot- ototku yang terasa pegal. Berdiri dan hendak keluar ruangan.
" gue ke depan dulu Liv "
" oke kakak ipar" sahutnya tanoa menoleh kearahku. ku ambil buku yang tergeletak diatas meja kerjaku. dan ku gunakan untuk menyambit Livi. mendarat dengan sempurna di lengannya.
" sakit Widi" teriak Livi.
" bodo amat" celetukku sebal sambil berlalu meninggalkan Livi yang memasang muka cemberutnya.
__ADS_1