
" kerjaan lo beres belum Liv ?"
" udah,kenapa ?" Livi balik bertanya
" temenin gue ke butik yuk !" ajakku yang kini sedang merapikan meja kerjaku.
" ngapain ?, tumben".
" gak inget Lo ,besok malem gue di lamar Abang Lo. belum ada baju nih gue".
Livi menepuk jidatnya sendiri seraya bergegas merapikan meja.
" sumpah,lupa gue. gue aja belum beli baju."
" nah lho,moment penting buat sahabat Lo bisa lupa ".
" bukan cuma sahabat,Abang gue juga. tapi kalau lupa apa mau dikata." ucapnya sok dramatis.
selesai membereskan meja kerja. Aku dan Livi bergegas keluar ruangan. Sampai di dekat meja bartender terlihat Haris yang sudah duduk manis.
" Lho,belum jam istirahat udah disini aja Ris ?" tanyaku saat melewatinya.
" mau ketemu klien disini"
" sambil menyelam minum air nih"
Haris tersenyum manis,tak lama Nindi menghampirinya dengan secangkir kopi.
__ADS_1
" gue tinggal dulu ya" pamitku pada Haris. "Ndi,layanin dengan baik ya pelanggan istimewanya" ucapku dengan senyum meledek.
" apa sih mbak " ucapnya kikuk sendiri .
" duluan ya" aku melambaikan tangan yang dibalas dengan anggukan oleh Haris .
Aku baru sadar ternyata Livi sudah tak lagi di sampingku. ternyata dia memilih menunggu didalam mobil di parkiran . Aku menyusul masuk ,duduk disamping Livi yang sudah duduk manis dibelakang kemudi .
" yuk " ucapku setelah memasang sabuk pengaman . Livi menghidupkan mobil,melaju perlahan menembus siang yang cukup terik.
" Wid kayaknya rencana kita buka cabang cafe batalin aja kali ya" Livi membuka percakapan.
" kenapa ?" tanyaku penasaran.
"gue gak yakin habis nikah Lo di bolehin kerja sama Abang gue. secara dia posesif banget sama Lo. kalau kita buka cabang,repotlah gue ngurus sendiri "
" bener juga si Lo " ucapnya setengah bergumam.
Mobil terus melaju diiringi obrolan kami berdua. sesaat pikiranku sedikit terganggu dengan ucapan Livi,yang mungkin setelah menikah aku tak di ijinkan bekerja,mungkinkah ?, selama ini aku belum pernah membicarakan hal sejauh itu.
menjadi nyonya Aresta,walau aku hanya duduk santai di rumah tak mungkin kekurangan. tapi aku bukan wanita yang akan betah duduk santai menunggu suami pulang. untuk ngumpul- ngumpul dengan para sosialita itu bukanlah aku. bahkan satu-satunya teman dekatku hanyalah Livi. untukku tak perlu banyak sahabat yang perlu adalah sahabat setia. dan Livi tak diragukan kesetiannya. ia yang dari tingkat sosial jauh diatasku tak pernah memandangku rendah.
" Hay,bengong. kenapa ?" Livi bersuara mendapati aku yang terbengong .
"kepikiran omongan Lo,gue."
" yang ?"
__ADS_1
" kemungkinan kak Ares gak ngebolehin gue kerja. Lo kan tahu gue bukan orang rumahan."
"ya,coba Lo omongin dulu. kali aja gue salah. lagian mas Ares kayaknya bisa ngalah buat Lo ."
Aku hanya mengangkat bahu dengan tatapan mata lurus kedepan . Livi pun fokus menyetir mobilnya. Kami memilih diam,menikmati pikiran kami sendiri. melihat keposesifan dan kecemburuan yang sering kali kak Ares perlihatkan . Ada kemungkinan aku akan di jadikan ibu rumah tangga yang cukup mengurus dan menunggunya dirumah. Tapi aku bukanlah ibu rumah tangga ideal,bahkan masak dan beberes aku tak becus.
Dan tak pernah pula dlam cira-citaku untuk menjadi ibu rumah tangga. sebenarnya tak ada salahnya dengan ibu rumah tangga. yang salah adalah aku yang tak bisa diandalkan untuk hal itu. ah,,ternyata ketika kita memutuskan untuk mengakhiri masa sendiri. Baru menyadari akan kodrat sesungguhnya seorang wanita,menjadi istri dan pastinya menjadi ibu.tak bisa lagi ego menguasai diri hanya untuk memenangkan ketinggian hati.
" ternyata segalau ini ya memikirkan pernikahan ?"
" kenapa ?, Lo belum cinta sama mas Ares?"
Aku menggeleng,bukan itu. cinta ?, rasanya aku sudah mencintainya. bodoh jika aku harus menggantung hati pada orang yang telah melukai sementara di depan mata ada cinta tulus yang menerimaku sepenuh hati.
" terus kenapa ?" lanjut Livi.
" berumah tangga pasti bakal ada masalah kedepannya dan kadang gue masih belum terlalu siap untuk itu. gue ngerasa masih terlalu egois untuk bisa menyatukan pemikiran".
" masalah udah pasti ada. karena masalah ada untuk mendewasakan kita. jalani aja,gak usah terlalu dipikirin toh Lo nikah juga sama orang yang udah deket sama semua keluarga."
" jangan pernah ngejauhin gue ya,kalau nanti kedepannya ada masalah di keluarga ." ucapku seraya memegang lengan Livi. segurat senyum di bibir Livi .
" gak usah khawatir,gue akan selalu jadi Livi Lo ."
Selalu ada ketenangan saat sahabat meyakinkan kita bahwa tak akan ada yang berubah meski waktu membawa kita semakin menua. aku bersyukur ditakdirkan Tuhan menjadi sahabat seorang Livi dan juga akan menjadi bagian dari keluarganya.
Perlahan mobil Livi memasuki parkiran sebuah butik . Aku mengikutinya saja. karena ini bukanlah butik yang kadang kudatangi. sepertinya ini butik langganan keluarga Livi. Livi masuk yang langsung disambut pelayan disana. wow,,,dari pakaian dan gaun yang di pajang pastilah ini akan sedikit menguras isi ATM ku. Baiklah sedikit menghamburkan uang untuk acara spesial.Tak apalah.
__ADS_1