
Seharian penuh,aku dan Lian menghabiskan waktu berdua. kembali pulang kerumah saat hari mulai petang. Bahkan,aku baru menyadari sekarang ,sekedar bunyi handphone pun tak terdengar. sungguh hari yang benar-benar ter khusus kan untukku dan Lian. Tapi heran juga seharian handphone bisa tak bersuara padahal biasanya kak Ares menghubungiku. walau sekedar untuk mengingatkan makan.
Sampai di halaman rumah mobil hitam yang sudah ku tahu milik siapa terparkir di sana.
" kak Ares ngapain disini,kok gak ngabarin ya ?" celetukku seraya membuka helm setelah Lian menghentikan laju motornya di samping mobil Kak Ares.
" Lo aja gak tau apalagi gue" timpal Lian menjawab ucapanku.
Aku menyerahkan helm pada Lian. Langkah kakiku sedikit ku percepat,meninggalkan Lian yang sedang memasukkan motor dalam garasi.
" malem" sapaku saat melihat kedua orang tuaku serta kak Ares di ruang tamu.
" nah itu anaknya" suara mama terdengar. bangkit dari duduknya menatapku dengan tatapan tajam. aku melangkah mendekat. menyalami kedua orang tuaku dan mengecup punggung tangan mereka bergantian. duduk disamping kak Ares yang menatapku dengan tatapan yang tak ku mengerti.
"ada apa sih ma?" tanyaku yang tak tahu dengan situasi yang sedang terjadi. mama sudah kembali duduk disamping papa.
"kamu itu darimana ?"
" main sama Lian " jawabku santai.
" kenapa gak pamit ?"introgasi mama,sedikit mulai kumengerti situasi yang terjadi.
" lha,mama udah pergi tadi pas aku bangun tidur" belaku.
" buat apa punya hp Wid,kalau pamit aja mesti ketemu mama dulu". skakmat,mau bantah apalagi coba ?, aku hanya tersenyum kecut.
" kasihan nak Ares bolak-balik nyari kamu" papa sekarang yang bersuara. aku menatap kak Ares yang masih setia dengan diamnya.
" kok gak telpon aja kak ?"
" puluhan kali Wid tapi gak nyambung chat juga gak masuk".sahut kak Ares.
__ADS_1
Aku tergagap mengambil hp dari tas punggungku. senyum kecutku mendapati hp dalam mode gelap tanpa daya.
" lowbat,sorry" lirihku . menatap kak Ares yang sedari tadi tampak tak bersahabat.
" eh lagi ngumpul. malem semua" suara riang Lian saat mendapati kami diruang tamu.
"ini juga,di telpon kenapa gak diangkat ?" omel mama. membuyarkan senyum Lian. tangannya merogoh saku celana. senyum getir terpampang di wajahnya.
" maaf ma,silent" sahut Lian. mama menggelengkan kepala seraya mendengus kesal.
" kalian ini..."
Tanpa aba- aba Lian langsung melarikan diri.
" ya sudah Tante,om,Widi nya sudah pulang. saya pamit ".
" makan malam dulu disini nak " ucap mama dengan suara lembutnya. tak seperti saat mengintrogasi ku .
" terima kasih Tante,lain kali saja" ucapnya sopan seraya berdiri menyalami kedua orang tuaku. tanpa mengucap sepatah kata untukku.
" mari om,Tante . selamat malam"pamitnya.
" iya,hati- hati nak ".
Kak Ares melangkah keluar,aku bangkit dari dudukku,mengejar langkahnya. sampai di dekat mobil milik kak Ares,aku meraih tangan itu. memaksa sang pemilik berbalik menatapku.
" maaf" hanya kata itu yang tersimpan dalam memori ku.
" apa segitu gak pentingnya aku buat kamu Wid ?" pertanyaan yang sungguh sangat menyesakkan untukku.
" bukan gitu kak,lagian aku juga cuma pergi bareng Lian" sertaku,berharap mata elang itu sedikit meredup.
__ADS_1
" bukan dengan siapa kamu pergi yang aku khawatirin Wid. tapi seenggaknya bisa kan kamu kasih aku kabar ?" menjedah sejenak. tatapan itu masih sama tajam menghunusku.
" kenapa kamu gak pernah menghubungiku dulu,kenapa harus selalu aku yang menghubungimu ?.apa hanya ada aku dalam hubungan ini,tanpa ada kita ?". pertanyaan yang membuatku menelan ludah. keluh bibirku,perasaan bersalah merayap didadaku.
" maaf " hanya kata itu yang bisa ku ucap.
" kamu tahu seberapa panik dan khawatirnya aku saat berkali-kali menghubungimu tak tersambung ?, dan saat aku tanya Livi dia tak tahu keberadaan kamu. aku balik 3 x kesini untuk mastiin kamu sudah pulang dan baik-baik saja." nada bicaranya tidaklah meninggi tapi cukup membuatku terintimidasi.
Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku,tanpa berani menatap manik hitam yang sedang menatapku tajam.
" seharian aku cari kamu,semua tempat yang sering kamu kunjungi aku datangi Wid". lanjutnya. Aku tak tahu harus mengatakan pembelaan seperti apa . aku memilih memeluknya,dan tak terasa air mataku tumpah ,dengan segala rasa salah yang mengungkung dalam dada.
" aku salah kak,maaf " lirihku. terasa tangan kekar kak Ares membalas pelukanku.
" kamu tahu ?, aku takut,takut kamu pergi karena belum siap dengan pernikahan kita". ucapnya dengan nada lebih lembut.
" gak ada alasan aku ninggalin kamu kak " sahutku masih dalam pelukannya. aku melepaskan diri dari pelukannya. menatap netra itu.
" aku bener-bener minta maaf kak,janji gak bakal kayak gini lagi"
Senyum manis itu mengembang dibibir merahnya. anggukan kecil nampak terlihat.
" iya kakak maafin. maaf juga kakak marah-marah".
" kakak gak salah".
terpaku sejenak dengan mata kami yang saling menatap. pelan wajah kak Ares semakin mendekat. sentuhan lembut bibirnya menempel di bibirku. pegerakan perlahan mengecap bibirku membuatku membalasnya.
Cukup lama kami dalam posisi itu,lupa sedang ada di mana. sampai sebuah suara membuat kami tersentak kaget.
" gak lihat gue"
__ADS_1
aku mendongak kearah balkon.
" Liaaaaaan..." teriakku. sedang Lian sudah kabur kedalam kamar. Malu jadi tontonan gratis Lian. kak Ares segera pamit pulang .