Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
pelukan terakhir


__ADS_3

Aku menyandarkan kepalaku,menelan kecewa ini. untuk terakhir kalinya bahkan tak ada sedikit waktu Haris untukku. Tak terasa air mataku mengalir sudah. Sesekali ku lihat hpku berharap ada satu pesan darinya tapi tetap saja hanya harap yang ada. kenapa ?, untuk sekedar membalas pesanku pun ia tak bisa.


Mobil yang ku tumpangi semakin jauh .nafas kuhela dalam mencoba menetralkan rasa kecewa ini. mata ini ku pejamkan berharap air mata ini berhenti mengalir.


tin tin tiiiiin


nyaring suara klakson motor di belakang sana. sebel juga rasanya,kalau mau nyalip tinggal nyalip aja. nggak tahu apa ini dada lagi nyesek banget. setidaknya hanya di dalam hati aku mengoceh sendiri.


Tapi klakson itu tak juga berhenti berbunyi. dengan rasa kesal aku menoleh kebelakang. Namun yang kulihat disana membuatku mengurungkan rasa kesal dan sebal ini. Haris,akhirnya dia muncul juga.


" pak berhenti dulu pak" pintaku pada pak sopir.


" baik mbak" jawab sang supir yang langsung menepikan mobilnya.


Lega,ternyata dia tak melupakan aku. Aku segera turun dari mobil,Haris menghentikan laju motornya dan segera menghampiriku.


" aku pikir kamu gak mau nemuin aku" ucapku yang langsung menghabur dalam pelukannya. Air mataku kembali membanjir.


" maaf,ibu masuk rumah sakit sejak semalam" ucap Haris yang masih mendekapku.


"kok gak ngabarin aku?"


" gak sempet"


Aku melepaskan diri dari dekapan Haris. kutatap wajah itu,wajah yang selalu bisa membawa keteduhan untukku.


" jangan nangis,kita pasti ketemu lagi " . Haris menghapus air mata yang masih mengalir di pipi. Sebuah senyum kupaksakan.anggukan kecil dariku,mencoba meyakinkan diri. suatu saat kita akan bertemu lagi.


Haris menatapku dalam,ada sebuah rasa yang tersampaikan dari tatap itu. rasa yang mungkin tak bisa ia ucap dengan kata. Aku memahami,tapi aku memilih seolah tak mengerti. saat ini jujur ingin sekali kudengar kata itu darinya. Tapi ia tetap bungkam.


Haris mengambil sebuah kotak dari sakunya.

__ADS_1


" untukmu,semoga kamu suka"


Aku mengambil kotak kecil itu.


" makasih ya,oh iya ada kenang- kenangan buat kamu juga ,aku titip di tempat bibi"


" makasih,jangan kamu buka sekarang,nanti aja " ucap Haris saat mendapatiku hendak membuka kotak pemberiannya . Hanya sebuah anggukan sebagai jawaban.


" makasih ya buat hari- hari indah yang udah kita lewatin bareng''.


" sama- sama,aku seneng bisa ketemu kamu lagi".


" aku pamit,salam buat ibu. kamu baik- baik ya"


" iya kamu juga hati - hati "


" boleh peluk ?" . tak ada jawaban. direngkuhnya tubuhku dalam peluknya. Sedetik saja andai waktu ini berhenti. ingin ku nikmati pelukan terakhirnya .


" hati- hati"


Berat,meninggalkannya terasa membebaniku. masuk kembali kedalam mobil. menatap Haris yang masih mematung. Lambaian tangan tanpa lagi ucapan. jauh dan semakin menjauh laju mobil meninggalkan Haris yang masih saja berdiri di sana ,menatap mobil yang ku tumpangi. Hingga tak lagi terlihat.


Mataku beralih pada kotak yang masih ada di tangan. Dari bentuknya kelihatan kotak perhiasan. dan benar saja kalung mas putih dengan liontin dua hati. cantik,aku mengalungkannya di leher. terselip selembar kertas di dalam kotak.


*untuk Widi


hadirmu seperti angin


menyejukkan kegersangan hatiku


menyirami kelayuan hati

__ADS_1


menumbuhkan kembali tunas yang hampir pupus


kau keindahan yang Tuhan tawarkan


Namun diri tak berani mengakui


terlalu hina diri untuk memiliki


cukup didalam hati ini mengagumi


biarkan keindahanmu hanya kunikmati dalam ilusi


tak mungkin ku ikat kau disini bersama keegoanku


sementara tak ada bahagia yang bisa kutawarkan untukmu


maaf atas rasa yang tak seharusnya ada.


tapi diri ini tak mampu memungkiri


jika rasa ini telah mengisi sudut hati


terima kasih kau telah singgah disini


meninggalkan cerita yang begitu berarti.


dari seorang sahabat yang akan selalu mengharap rindumu


Haris*


Hanya air mata yang tumpah,rasanya aku ingin kembali. memeluk Haris dan tak kan kulepaskan dia. sedalam ini rasa yang dia miliki. dan dia memilih diam. sebenarnya kalau aku boleh mengakui aku pun memiliki rasa yang sama. tapi mungkin akan sama dengan Haris. Dia takut tak layak untukku dan aku takut jika ini adalah rasa sementara. Biarkan saja waktu yang akan membawa hati akan kemana. saat itu tiba maka hati akan tahu tempatnya bermuara.

__ADS_1


__ADS_2