
Di bawah terang lampu taman,suasana masih lumayan ramai. Aku berjalan beriring dengan kak Ares yang menggenggam jemariku. setelah sebelumnya kami makan di warung tenda sesuai keinginanku. karena aku suka dengan suasana malam di luar. Kerlip bintang tampak begitu indah menghiasi malam dengan langit pekatnya.
Beberapa saat kami terdiam menikmati belaian angin yang terasa dingin. Menyusuri jalan setapak diantara bunga yang tertata rapi. Ada beberapa pasang remaja duduk di kursi taman.
Rasanya tiba- tiba aku ingin tersenyum sendiri.
" kenapa ?" tanya kak Ares yang mendapatiku senyum sendiri.
" kaya abege aja kita ya kak,jalan- jalan di taman,gandengan tangan. sweet banget''.
"gak apa - apa biar kakak tahu rasanya anak abege ''
" emang abege dulu gak pernah begini ?"
Selidikku yang mendapat jawaban gelengan kepala. Aku mencondongkan kepala menatap wajah yang menyiratkan senyum tipis.
" kakak sich terlalu serius belajar,jadi sampai gak pernah pacaran".ucapku santai.
" bukannya kamu juga dulu pas sekolah belum boleh pacaran ?"
Aku tertawa lirih,ternyata kak Ares tahu larangan itu.
__ADS_1
" kalau ketahuan sih gak boleh, tapi kalau gak ketahuan siapa yang larang" sahutku cuek. Kak Ares mengeratkan genggaman pada tanganku. Langkahnya terhenti membuatku ikut berhenti. menatap wajah yang juga menatapku.
" berapa banyak mantan kamu ?" kok aku serasa di introgasi ya. apalagi wajahnya sudah dalam mode datar.
" satu kak,dulu waktu sekolah cuma sekedar temen seru- seruan aja". aku berusaha sesantai mungkin. ada kilat ketidaksukaan pada tatap itu.
Tiba- tiba sebelah tangannya yang tak menggenggam tanganku,menyentuh bibirku dan mengusapnya perlahan. aku tertegun,detak jantungku tiba- tiba berpacu dengan cepat. Bahkan lebih cepat daripada dulu saat aku mendapat ciuman pertamaku.
"siapa yang pertama ?" tanyanya seraya menurunkan tangannya.
" heh ?" aku mengernyit,gugup sendiri.
Dengan kedua tangan yang di masukkan dalam saku celana kerjanya,ia ikut duduk di sebelahku. Hening sesaat,kutatap jernihnya air yang memantulkan cahaya lampu taman.
" kak !" lirihku membuka suara tanpa menatap kak Ares.
" hmm ?"
" aku bukan lagi gadis polos yang tak tersentuh.sebelum terlalu jauh,mungkin ada baiknya kakak pertimbangkan untuk kedepannya".
Kak Ares menghela nafas,menengadah menatap langit. kemudian berujar tanpa menatapku.
__ADS_1
" kalaupun seandainya kamu....,maaf gak virgin lagi. kakak gak akan mempermasalahkan itu". Aku tersenyum tipis,aku tak tersinggung dengan ucapannya.
" kalau untuk itu,Widi masih menjaganya kak"
Tatapan kami bertemu,senyum mengembang dibibir kami. Direngkuhnya tubuhku,disandarkannya kepalaku pada dada bidangnya. Kurasakan detak di dadanya,terasa teratur dan menenangkan. Belaian lembut tangannya di kepalaku membuatku merasa damai.
Saat seperti inilah cinta tak lagi butuh kata. cukup rasa yang mewakili semuanya. biarkan diam ini menikmati sentuhan lembut bahasa cinta. Kehadiran kak Ares adalah obat yang perlahan menyembuhkan luka yang mengangah.
Cinta akan selalu tahu jalannya. Meski terkadang harus berlubang,naik turun dan berkelok. namun pada akhirnya cinta akan menemukan rumahnya. Mungkin panjang sudah jalan yang kulalui dan kini mungkin saatnya aku berhenti untuk menepi. Dan menemukan rumah yang seharusnya ku tinggali.
" sudah malem yuk pulang " ajak kak Ares,menyadarkanku yang terbuai dalam dekapannya.
" ayuk" sahutku menegakkan badan yang sedari tadi masih nyaman bersandar didadanya. Kak Ares berdiri mengulurkan tangannya di hadapanku. Aku menyambutnya sambil tersenyum.
Beriring sejajar,merasakan deguban irama nada dalam dada. Aku tak bisa lagi mengelak,bahwa cinta telah menyapaku dan tak kan lagi ku pungkiri rasa ini benar adanya. untuk pria yang kini di sampingku.
" kak,makasih ya"
" untuk ?"
" malam ini".
__ADS_1