
Ares lelaki dingin,yang hampir tak pernah memperlihatkan senyum di wajahnya. kadang aku berpikir,bagaimana bisa dua orang yang terlahir dari rahim yang sama memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Livi dengan kehangatan dan keceriaan sedang kak Ares beku,dan selalu tampak datar. Bahkan aku tak tahu saat ia sedang marah,bahagia,kesal atau apalah. karena hanya wajah seperti itu yang selalu terlihat.
" Mas Ares,tuh mata gak capek apa dari tadi cuma buat lihatin gadget aja" celetuk Livi yang duduk di sofa sebelah kakaknya. sedang aku yang dari tadi cuma ngikutin Livi,sekarang duduk di sofa yang berhadapan dengan Livi.
"hmm,berisik ganggu mas kerja aja" terdengar ketus,tapi hampir setiap suara yang keluar dari mulut Ares begitu nadanya.
" owh lagi kerja tho,kirain Livi lagi ngegame"
" emang kamu''
" emang Livi kenapa ?"
" main terus"
" eh sorry ya kak,Livi juga punya kerjaan kali".
" temen kamu kenapa diem aja,sariawan ?" .duh gila manusia datar satu ini. sekalinya ngomong sinis bener. Bahkan melirikku pun tidak.
" bukan sariawan kak,sarilangit" ceketukku tak kalah sinis.
" hahahaha....' tawa Livi membahana di ruang tengah.
" bisa ae lo jawabnya Wid" lanjut Livi. tapi dasarnya makhluk yang berada di samping Livi itu entah terbuat dari apa. tetep aja tuh muka datarnya terpasang dengan rapi.
" mas,mas kenapa sih jadi orang gitu amat. diem aja kayak batu. kalo gini mah sampe ubanan juga gak dapet cewek"
" bukan batu Liv,batu sih masih ada yang menonjol atau berlubang. lha ini datar kaya tembok, rata" timpalku. yang di ejek gak juga bereaksi.
" bener lo Wid,mas lo masih demen cewek kan ya ?,perasaan dingin banget jadi orang.''
" takut kali cewek yang mau ngedeketin."
" iya ya,gue juga kalo ketemu cowok model mas Ares ogah banget".
__ADS_1
" mau ganteng kayak apa juga kalau gak bisa senyum,kan ngeri".
Aku dan Livi terus saja mengomentarinya,tapi Ares masih tetap fokus dengan gadgetnya. Sampai akhirnya dia meletakkan gadget di meja.
" yang kalian omongin itu di depan mata dan gak tuli". ucap Ares tiba- tiba.
" kalau ngomongin orang di depannya kan bukan ngegosip kak. ya gak Liv ?"
" tul," jawab Livi yang langsung mendapat lemparan bantal sofa tepat di mukanya. Ares berdiri,menatapku tajam yang kusambut dengan senyum. Entah kenapa aku tidak pernah takut melihat wajah itu.
" mas mukanya gitu amat'' ucap Livi sambil membalas melempar bantal. tapi ditangkis tangan Ares.
Ares meninggalkan kami berdua yang justru tertawa melihatnya pergi.
" heran gue sama kakak lo. dapet gen dari siapa coba. nyokap lo baik,bokap lo juga gak kaku gitu'' celetukku masih mengomentari kak Ares yang sudah menghilang dari hadapan kami.
" dari papanya Wid,papa dulu juga gitu". sela tante Diyah yang ternyata sudah di belakangku.
" masa sih tan,perasaan om gak gitu amat?" aku penasaaran.
" berarti kak Ares perlu di cariin istri yang kayak tante"
" kayaknya lo cocok Wid buat mas gue" sela Livi.
"hah,biar gue beku gitu" sahutku yang di sambut tawa mereka.
" Rame banget tumben" suara seseorang yang membuat kami bertiga menatap asal suara. Tante Diyah langsung beranjak menyambut suaminya.
"sudah pulang pa ?" tanya Tante
"iya,kebetulan kerjaan sudah beres. Tumbem Liv inget pulang ?"
" hehehe...." Livi hanya menampilkan cengirannya seraya beranjak mendekati sang ayah untuk menyalaminya begitu juga denganku.
__ADS_1
" sering- sering pulang kasihan mama kesepian. kamu juga Wid gak pernah kelihatan ?"
" nona rumahnya gak pernah ngajak main om" jawabku.
"kan Livi juga sibuk pa'' Livi membela diri.
" alasan saja kamu. ini pada ngumpul si Ares gak kelihatam. dimana ?"
"ngambek pa di ledekin Widi sama Livi" terang tante Diyah.
" siapa yang ngambek memang Ares anak kecil" suara Ares menyela. membuat kami semua tertuju pada lelaki berkaos oblong hitam dan bercelana pendek selutut dengan rambut yang masih basah. tampan,jelas raut wajah lelaki yang kini sedang menuruni anak tangga.
" eh,beruang kutub turun gunung" ledek Livi.
" emang kutub gunung Liv ?" tanyaku
" gak tau belum kesana juga. anggap aja gitu"
" iyain aja deh" sahutku. tawa kami pecah. kecuali kak Ares yang langsung ngeluyur dan duduk di sofa.
" papa mau keatas dulu". pamit om Arya yang segera berlalu diikuti tante Diyah yang sudah menenteng tas kerja dan jas om Arya.
" mau taruhan gak Wid ?" tanya Livi saat kami sudah duduk di posisi semula.
" apa ?"
" kalo lo bisa bikin nih orang tersenyum gue beliin tas gussi terbaru" ucap Livi sambil menunjuk Ares yang sedang membuka majalah bisnis.
" beraaaat,mending gak"
plaak.... majalah di tangan Ares mendarat sempurna di kepala Livi yang membuat Livi mengaduh kesakitan. dan aku hanya bisa ngakak. tapi...
Bruuk... bantal sofa tepat sekali mengenai wajahku. Tersangakanya adalah Livi yang tidak terima aku tertawakan.
__ADS_1
"jelas- jelas orangnya di depan mata mau di jadiin taruhan" gerutu Kak Ares kesal. seraya bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkan aku dan Livi yang tertawa senang. karena meledek kak Ares menjadi kesenangan tersendiri semenjak dahulu.