Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
nonton bareng kak Ares


__ADS_3

Melihat kak Ares yang masih duduk disana,aku berjalan mendekatinya. sekilas,hanya sekilas mata itu menatapku yang berdiri di hadapannya. selebihnya kembali pada layar ponsel di tangan.


" belum pulang kak ?"


" nunggu kamu''


" wih baik banget nunggu Widi segala" ucapku sambil duduk di depan kak Ares.


' motor kamu belum beres"


Kalau cuma masalah motor kan sebenernya aku bisa naik taksi atau ojek . Tapi sudahlah,hargai niat baiknya.


" sudah selesai urusan kamu ?" kali ini kak Ares mengangkat wajahnya menatapku. ponsel yang sedari tadi di tangan ia masukkan ke dalam saku celana jeansnya.


" sudah"


" yuk aku anter pulang" ajaknya seraya berdiri dan melangkah keluar cafe. aku mengikuti saja di belakangnya.


" kakak mau beli sesuatu sebentar gak apa- apa kan ?" tanya kak Ares setelah masuk ke dalam mobil. tanpa menoleh padaku yang sedang memakai sabuk pengaman.


" gak apa- apa. lama juga boleh. minggu ini sekalian jalan- jalan gitu" jawabku sambil tersenyum.


" memang mau kemana ?" wah ditanggapi pernyataanku.


" kalau kak Ares mau neraktir nonton,Widi gak nolak lho" sahutku sembari menatap wajah datar itu. Tak ada jawaban,tatapan matanya pun hanya fokus pada jalan.

__ADS_1


kuhempaskan punggungku disandaran kursi.


" kak,kakak punya pacar gak ?" aku memulai lagi percakapan. bosan dengan hening ini


" ngapain nanya-nanya ?"


" penasaran,pengen tau aja,cewek kayak apa gitu yang bisa bikin manusia satu ekspresi seperti kakak jatuh cinta"


"hmm... kamu itu cerewet persis Livi"


" kan sahabatnya. tinggal jawab aja kakak,punya pacar gak"


" gak "


Aku mangut- mangut menyiapkan bully an untuknya.


Dengan mata yang masih fokus kedepan ,tangan kiri kak Ares membungkam mulutku.


" bawel"


" kak Ares" teriakku setelah tangannya lepas dari mulutku. ku pukul lengan kak Ares yang sudah kembali memegang setir.


Tipis sangat tipis tapi aku melihat garis senyum di bibirnya.


" widiiih... senyum ?, aiiih kalau aku jadi taruhan sama Livi. menang banyak nih" celotehku yang tak lagi di gubris olehnya. Sampai di sebuah mall kak Ares memarkir mobilnya.

__ADS_1


Jangan harap akan ada adegan romantis saat kak Ares membuka pintu untukku. karena itu tak kan terjadi. Lihat saja dia yang sudah keluar mobil. menyuruhku ikut turunpun tidak. Aku sih sudah tidak kaget,itulah kak Ares dengan karakter dingin dengan wajah datarnya.


Tak perlu menunggu titah kak Ares aku turun dari mobil. Tahu aku sudah turun,kak Ares menekan tombol,mengunci mobil. Aku mengejar kak Ares mensejajarkan langkah.


" mau nonton,apa makan dulu ?"


" serius kak mau nonton ?" ucapku memastikan dengan senyum mengembang di bibirku.


" hmm"


" nonton,aku belum laper" sahutku semangat.


Memang sih kak Ares jarang tersenyum,apalagi tertawa. tapi dia orang yang baik dan pengertian. dan lagi ,sedingin apapun dia. dia bukanlah orang yang emosian. tak pernah aku melihatnya marah meski sering aku dan Livi meledeknya.


" mau nonton apa ?"


" komedi aja kak"


kak Ares membeli tiket,sementara aku membeli cemilan dan minuman. Tak terlalu lama kami menunggu. bioskop di buka,aku dan kak Ares duduk bersebelahan. Lampu dipadamkan,layar bioskop mulai menayangkan filmnya. aku memberikan sebungkus cemilan dan sebotol minuman untuk kak Ares.


film dimulai,pandanganku tertuju pada layar begitu pula kak Ares. namanya juga komedi banyak part yang membuatku tertawa lepas. tapi saat ku lirik kak Ares hanya tersenyum.


Kalau senyum begitu sungguh menambah nilai kegantengan kak Ares. namun sayang jarang sekali ada senyum di bibirnya. Ah,setelah sekian tahun mengenalnya baru sekarang aku sadar akan kadar kegantengan kak Ares yang sebenarnya melebihi kegantengan Adrian.


Aku tertawa sendiri,menertawakan pemikiranku yang sedang mengagumi wajah kak Ares. Kak Ares menatapku heran,karena bukan part yang perlu di tertawakan di layar depan sana.

__ADS_1


Lampu menyala kembali tanda film sudah selesai. Aku keluar bioskop dengan tangan tanpa sadar memegang lengan kak Ares. Kak Ares pun tak protes sehingga aku pun nyaman saja.


" Widi " suara orang memanggilku. membuatku menoleh kebelakang dan melepas tanganku dari lengan kak Ares. Kak Ares ikut menoleh mencari asal suara. Aku hanya bisa mendesah sebal dengan apa yang kulihat.


__ADS_2