Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Mengerti


__ADS_3

Jam makan siang suasana cafe ramai seperti biasanya. Untuk kesekian kalinya Haris datang saat jam istirahat . Aku duduk di sebelahnya yang sedang menikmati makan siang.


" gimana Ris,sama Nindi ada kemajuan belum ?"tanyaku,karena beberapa hari yang lalu Haris sempat meminta no handphone Nindi padaku.


" ya,sekedar bales-balesan chat".


" dia tahu kan kalau yang nge chat itu Lo ?"


Haris nyengir sambil menggeleng " belum"


" ya elah" ucapku sebal.


" gercep dong Ris,disamber orang baru tahu rasa Lo".


" udah tahu rasanya " ucapnya cuek seraya meminum jus alpukat di hadapannya.


" ckk,jangan gitu dong Ris. jadi gak enak nih gue".


Haris tertawa lirih. Aku sedikit mendekat padanya meletakkan lengan kananku di pundak kirinya.


" ajak kencan dong Ris,nonton gitu. atau jalan kemana. jangan malah Lo sembunyiin identitas Lo" protesku.


" nantilah,santai." ucapnya seraya melihatku. tapi raut wajahnya sedikit berubah. senyum kaku tersirat di bibirnya.


" Wid,tangan kamu di kondisikan". ucapnya sambil menurunkan lenganku dari pundaknya. Aku mengernyit bingung.


" gini doang ,kenapa ?' ucapku santai.


"kamu gak mau kan temenmu ini babak belur".

__ADS_1


"hmm???" aku bingung sendiri. Tapi Haris memberi kode dengan bibirnya. aku mengikuti arah pandang Haris.


lelaki berdiri tegap dengan kedua tangan berada di saku celananya. menatap horor padaku.


" eh sayang,ketahuan deh.udah lama ?" tanyaku tanpa rasa bersalah.


" em" jawabnya dingin. bahkan tanpa kata ia berlalu.


" yah mode ngambek on. tinggal dulu ya Ris. bye". Pamit ku yang disambut senyum lebar Haris di sertai gelengan kecil di kepalanya.


Aku menyusul kak Ares yang sudah duduk di sofa di sudut ruangan cafe. tempat biasa aku dan Livi nongkrong.


Tak di gubrisnya aku yang duduk disebelahnya. Ia fokus pada hp di tangan. untuk beberapa saat aku memilih ikut diam.


" kak!" aku mencoba bersuara setelah cukup lama diam .


" jadi marah beneran nih ?" . tak ada jawaban yang ada tatapan tajam dari kedua bola mata itu.


" hah, posesif banget sih jadi orang. lagian ya kak,kamu juga udah kenal siapa Haris. harus cemburu juga gitu ?,'' cerocosku kesal.


" harus sedeket itu sama temen ?". tanyanya ketus.


"aku cuma nyampirin tangan doang di pundak dia,kecuali aku pelukan mesra,cium-ciuman. baru kalau kakak mau cemburu. Lagian ya kak,bego banget kalau aku mau selingkuh disini. "


Oke disini yang seharusnya marah sebenarnya siapa ?. Aku gak terlalu peduli,yang jelas aku bete. segitu gak percayanya dia sama aku ?.


" terserah kakak sekarang mau gimana. aku bete. kalau kakak gak percaya sama Widi,ya udah". kesalku sambil berdiri dan berlalu. sekilas kulirik kak Ares yang mengusap kasar wajahnya. namun masih diam di tempat,sedang aku masuk ruanganku. dengan sebal kututup pintu dengan membanting menimbulkan suara agak keras.


Livi yang ada di dalam berjengit kaget. Aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa.' kenapa ?'' tanya Livi seraya beranjak dari kursinya dan menghampiriku.

__ADS_1


" bete''.


" mas Ares ?"


Aku mengangguk malas. Livi duduk disampingku.


" yang kayak gini nih Liv ,yang bikin gue masih ragu buat cepet nikah''.


" sampai kapan pun juga kalau ego masih jadi raja diantara kalian. bakal kayak gini terus".


" ya habis,kak Ares gitu banget. posesif nya itu lho".


" oke,permasalahannya gimana ?''


Aku menceritakan akar masalah yang akhirnya justru aku yang di buat sebal sendiri.


" gini ya Wid,gue gak mau bela siapa-siapa disini. cuma menurut gue. kalian cuma butuh saling ngerti. kalian berharap untuk di mengerti tapi kalian belum saling ngerti. itu masalahnya".


" terlalu banyak perbedaan gue sama kak Ares,Liv".


' sebenernya,perbedaan dalam hubungan itu bukan masalah. yang masalah justru kalau sama. sama- sama diem kapan ngomongnya. sama- sama keras kapan lunaknya. kalau yang satu jadi api yang satu harus bisa jadi air,yang satu keras kayak batu,yang satu harus bisa jadi debu".


Diam,mencoba mencerna ucapan Livi. yah mungkin selama ini aku terlalu ingin di mengerti. sementara aku belum bisa mengerti kak Ares. Aku yang mudah akrab dengan orang bahkan lawan jenis. bukan berarti sama dengan kak Ares. bahkan mungkin dia tak punya teman wanita. belajar untuk saling mengerti itu yang harus kita lakukan.


masih dalam diam,aku mengambil tas di meja kerjaku. Pandangan Livi tak lepas,terus memandangiku yang sedang memasukan hp dan dompet kedalam tas.


" mau kemana ?" akhirnya Livi bertanya saat aku hendak keluar ruangan.


" semedi dulu,buat instrospeksi diri" jawabku asal. seraya ngeloyor pergi. Tak ada respon dari Livi,aku meninggalkan cafe. mencoba untuk merenungi ini semua.

__ADS_1


__ADS_2