Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Sahabat


__ADS_3

Sama dengan pagi- pagi biasanya. Aku pergi ke cafe diantar kak Ares. Tapi kali ini agak kesiangan. Itu karena kak Ares yang memintaku menemaninya sarapan terlebih dahulu. Sampai di cafe Livi sudah duduk santai di sofa sambil bermain hp.


" pagi" sapaku.


" hei pagi,tumben agak siangan. gak dianter abang gue".


" gara- gara abang lo jadi kesiangan".


" kok bisa,biasanya dia pagi jemput lo".


" iya,tapi pake acara di suruh temenin sarapan dulu" ucapku sambil duduk di kursi depan meja kerjaku.


" Hahaha.... segitu manjanya dia sama lo. biasanya juga sarapan sendiri".


" Heran kadang gue ama abang lo,dulu aja dinginya kayak es batu. Eh sekalinya meleleh jadi es cream deh".


" es cream ?" Livi mengernyitkan dahi.


" iya,manis''. sahutku dengan mimik bercanda.


" hahaha......" tawa kami berdua menggema di ruangan yang memang tak terlalu luas.


" bisa aja lo" celetuk Livi.


Sejenak kami terdiam,aku memeriksa map yang tergeletak di mejaku. laporan stok barang dan pengeluaran. Aku memeriksa laporan yang sepertinya sudah tersusun rapi dan tak ada kesalahan.


" laporannya udah oke nih,tapi lo cek lagi aja dulu. kali aja ada yang gak sesuai". ucapku sambil memberikan map pada Livi yang masih asyik dengan dunia mayanya.


" oke" sahutnya seraya meletakkan ponsel diatas meja.


" kata lo kemaren abang gue ngambek kenapa ?" tanya Livi dengan pandangan mata tertuju pada kertas di hadapannya.


" gue ketahuan lagi peluk Haris".

__ADS_1


" Haris ?" Livi menoleh padaku dengan tanda tanya yang terlihat dari sorot matanya.


" iya,temen gue di desa. lupa gue belum cerita sama lo,dia sekarang kerja disini. terus kemarin dia kesini pas makan siang dan kebetulan gue lagi rada galau gara- gara istri Adrian nemuin gue kemarin. dan dia cerita kalau anak yang di kandungnya itu bukan anak Adrian,dia bilang dia mau balikin Adrian buat gue. karena ternyata dia gak bisa dapetin hati Adrian walaupun mereka sudah menikah. jujur gue rada gimana gitu denger ceritanya dan tiba- tiba ada Haris di depan gue. reflek gue peluk dia,eh ternyata abang lo lihat,cemburu dianya". ceritaku pada Livi yang terlihat serius menatapku.


" terus lo mau balik sama Adrian ?".


" gaklah gila aja,dia udah hianatin gue,udah nyakitin gue. kalau sekarang dia hancur bukan salah gue. dia sendiri yang bikin perkara".


" bagus deh kalau lo gak terpengaruh dan balik sama dia".


" gak akanlah Liv. lo takut gue nyakitin abang lo ?''.


Livi menggelengkan kepalanya. kemudian berujar" bukan mas Ares yang gue khawatirin. tapi lo,sekali orang udah gak setia. gak jamin kedepannya gimana ".


"Liv,kalau seandainya suatu saat ada masalah gue sama kak Ares dan gue nyakitin dia. lo jangan benci gue ya". tuturku serius,terkadang ada ketakutan di sisi hatiku. saat aku menjalin hubungan dengan kakak dari sahabatku sendiri. Kehilangan pacar mungkin lebih baik untukku tapi sahabat ?, tak pernah terbayangkan olehku.


" lo ngomong apa sih ?"


" iya gue tahu,dan apapun yang terjadi diantara kalian. lo akan tetep jadi sahabat gue dan mas Ares akan tetep jadi abang gue. kalau gue bisa jadi penengah bakal gue lakuin,kalau gak, gue akan pura- pura gak tahu apa- apa"


jawab Livi membuatku tersenyum dan memeluknya.


" lo emang sahabat terbaik gue" ucapku sambil memeluknya.


" selamanya" sambung Livi yang membalas pelukanku.


" ehmm" suara deheman seseorang yang baru masuk ruangan kami tanpa permisi membuat kami melepas pelukan. sesosok lelaki bertubuh tinggi dengan setelan jas kerjanya dan kacamata bertengger di pangkal hidung mancungnya. perpaduan antara ketampanan dan kecerdasan terpancar dari aura wajahnya.


" apa sih mas,ganggu orang lagi romantis- romantisan aja" celetuk Livi sok sewot pada tamu yang tak diundang yang tak lain adalah abangnya.


" ck,gini ternyata kalian" ucapnya sok jijik dengan kaki melangkah mendekati kami yang masih duduk di sofa.tanpa di suruhpun kak Ares duduk di hadapan kami.


" ngapain ?" tanya Livi ketus.

__ADS_1


" gak nyari kamu" jawab kak Ares dengan tampang datarnya. Aku memilih jadi penonton dulu dengan dua kakak beradik yang berbeda karakter ini.


" hah,yang udah jadi bucin emang gitu ya".


" ada masalah?"


" banget,ini tempat kerja ya".


" bilang aja iri,Reza gak pernah kesini".


" enak aja..."


" heh,kalian berdua sebenarnya ngeributin apa sih ?" selaku membuat keduanya terdiam dan memandangku.


" dan kak Ares ngapain kesini ?"


" ini hp kamu tadi ketinggalan di mobil" sahutnya sambil merogoh saku celananya dan memberikan hp milikku.


" hmm,giliran ngomong ama Widi,lembut beneeeer"


'' keberatan ?"


" gak "


" ngapain protes''


"kalian lanjutin deh berantemnya,gue mau ngopi dulu". ucapku seraya berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.


" aku juga mau kekantor" Kak Ares ikut beranjak.


" Wid,ikut" Livi mengejar langkahku dan menggandeng lenganku. Kak Ares masih berjalan di belakang kami tanpa lagi ada pedebatan.


Aku dan Livi duduk santai dengan secangkir kopi ditemani kentang goreng. sementara kak Ares kembali lagi ke kantornya. Disini aku dan Livi,bercanda,berbagi cerita yang tak akan pernah ada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2