
Sampai di sebuah pusat perbelanjaan,tanganku masih dalam genggaman kak Ares. Langkah tegap kak Ares tanpa peduli jika hampir semua mata wanita yang berpapasan dengannya menatap kagum. Aku pun terus mengikuti langkahnya ,meski terkadang risih dengan tatapan-tatapan kekaguman itu.
Berjalan pasti menuju salah satu toko perhiasan tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. Aku juga tak ada niatan untuk memulai percakapan.
" selamat datang mas ,mbak " sapa ramah salah sat pelayan. kak Ares hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
" mbak pesanan saya kemarin sudah ada ?" tanya kak Ares,to the point.
" maaf atas nama siapa ya mas?" tanya pelayan memastikan .
" Aresta Bayu Nugraha"
" sebentar saya ambilkan" pelayan itu beranjak dari hadapan kami.
" kak,kita gak mau nyebrang kan ya ?". tanyaku setelah pelayan itu pergi. kak Ares menyipitkan matanya,tak mengerti mungkin dengan apa maksudku. Aku mengangkat tanganku yang masih dalam genggamannya. ada senyum tipis dibibirnya. Bukan melepas tanganku tapi justru genggamannya semakin erat. Aku hanya menghela nafas. menikmati keposesifannya.
" ini mas,pesanan anda " suara pelayan setelah kembali dengan kotak perhiasan di tangannya. Baru tanganku ia lepas, ia membuka kotak itu memastikan isinya. cincin yang cukup simple dengan berlian kecil sebagai pemanisnya. cukup tahu dia dengan seleraku yang tak terlalu suka dengan hal yang mewah.
"sayang gimana ?"
" bagus".
" suka ?"
Aku mengangguk,ada senyum cerah di wajahnya. Kak Ares menyelesaikan transaksinya,sedang aku iseng melihat- lihat perhiasan di balik etalase.
" Ares kan ?" suara seorang wanita membuatku menatap kearah asal suara.
Cantik. satu kata yang tergambar dari sosok yang tersenyum begitu manis di hadapan kak Ares yang tampak tak perduli .
" apa kabar Res ?" tanya wanita dengan tubuh bak model itu.
__ADS_1
" baik" sahut kak Ares dingin,bahkan tanpa basa-basi menanyakan kabar si wanita.
Aku masih diam di tempat. memperhatikan wanita yang menurutku sempurna. kaki jenjang dengan porsi tubuh proporsional,dengan kulit yang begitu putih dan mulus. rambut hitam legam yang tergerai indah.
" sama siapa ?" lagi-lagi suara wanita itu bertanya. kak Ares menatapku yang sedikit berjarak dengannya.
" sayang "panggil kak Ares. aku mendekatinya,ada tatapan yang tak ku mengerti dari mata wanita itu.
"siapa kak ?" tanyaku setelah berada di samping kak Ares.
" temen" singkat jawabnya.
" hai,Widi" ucapku memperkenalkan diri dengan senyum kukembangkan di bibir semanis mungkin. disambutnya tanganku yang terulur.
" meila" sahutnya dengan senyum yang terlihat kaku ." pacar Ares ?" sambungnya,aku hanya mengangguk dengan senyum yang masih mengembang di bibirku.
" calon istriku" sela kak Ares,sungguh terdengar sangat pamer.
" sayang,ayo !"ajak kak Ares,menarik tanganku pergi tanpa mengucap pamit pada wanita yang katanya teman itu.
" duluan mbak,mari " ucapku. hanya ada anggukan darinya. dan entah mengapa aku merasa tatapan itu begitu tak menyukaiku.
" cantik banget" kataku setelah menjauh .
" siapa ?"
" itu temen kamu ,tapi aku gak percaya sih kalau cuma temen. mantan kan ?" selidikku. jujur ada rasa tak nyaman melihat wanita secantik itu. dan bisa ku pastikan kalau dia bukan sekedar teman kak Ares. Terlihat jelas dari tatapan wanita itu padaku .
" iya,dia mantan kakak. " cuek sekali jawabnya. bahkan tanpa menoleh sedikitpun padaku.
" kenapa putus ?" selidikku.
__ADS_1
" gak cocok''
" alasan klasik"
Tiba-tiba langkah kak Ares terhenti. di tatapnya aku,yang membuat salah tingkah sendiri tanpa berani menatap sorot mata itu.
" sayang,kamu gak lagi cemburu kan ?".
" hemm,enggak". jawabku sedikit terbata. sebenarnya ada rasa minder mendapati mantan pacar kak Ares begitu sempurna cantiknya.
" mau tahu alasan sebenarnya aku tak mau melanjutkan hubungan dengan Maili ?".
" apa ?"
" kamu .karena aku tak mau membohongi diri sendiri dan orang lain dengan berpura- pura mencintainya. sedang hatiku masih tak mau berpaling dari kamu".
Terdengar gombal,tapi cukup membuatku yakin atas pilihanku . Aku menghambur dalam peluknya tanpa perduli kini aku sedang berada di pusat keramaian.
" tetima kasih ". ucapku saat aku melepas pelukan.
" untuk?"
" cintamu"
" aku akan selalu mencintai kamu. jadi tidak perlu terima kasih."
Beginikah cinta ?, ketika sebuah rasa itu ada. maka tak kan perduli berapa dalam kita terluka olehnya. berapa perih hati tersayat mendapati cintanya hanya sendiri. tetap akan ada senyum saat cinta itu datang. meski terlambat menyadari. aku merasa luar biasa mendapati cinta kak Ares untukku. Aku tak lagi ragu untuk menjatuhkan seutuhnya hatiku ini.
" i love you ". bisikku saat kami melangkah kembali. Aku telah bergelayut manja pada lengan kokohnya.
" i love you so much" . balasnya dengan sebuah senyum sehangat mentari pagi. senyum yang tak kan rela ku bagi dengan siapapun. ah,kenapa aku jadi seposesif ini ??.
__ADS_1