
Entah hubungan apa untuk menyebut hubunganku dengan Kak Ares. Dia setiap hari mengantar jemputku. motor matic kesayanganku sudah terbengkalai mojok di sudut garasi. Dan selama itu kak Ares tidak pernah mempertanyakan perasaanku. sudahkah aku mencintainya atau belum ?. Tapi ia semakin manis saja perlakuannya. mungkin kalau ia sekarang mempertanyakan tentang sebuah rasa akupun sudah mulai merasa menerima kehadirannya.
seperti pagi biasanya kak Ares menjemputku. Dengan setelan rapi siap berangkat kekantor. Dan selalu saja ia menyempatkan diri untuk turun dari mobil menyapa Mama dan berpamitan padanya. Sikap manis yang pasti membuat Mama selalu memujinya. " mantu idaman " kalau kata mama. Aku sih yang menjalani hubungan tanpa status ini. cuma berharap bisa memberikan apa yang di idamkan mama.
" Nanti pulang kerja jangan langsung pulang ya. aku pengen ngajak kamu makan di luar"
"ngajak kencan nih ceritanya ?" ucapku dengan nada bercanda.
" anggap aja iya" sahut kak Ares dengan senyum simpulnya.
" boleh." jawabku singkat. Hening,tak ada kata yang terucap dari bibir kami. pandanganku menyapu jalanan yang masih macet. sedang kak Ares lebih fokus menyetir.
" Wid " lirih panggil kak Ares tanpa menolehku. tatapannya masih terfokus pada jalanan.
" hm ?,apa ?".
Diam sejenak,aku yang menatapnya melihat ada keraguan di raut wajah itu.
" apa sudah ada aku di hati kamu ?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Aku tersenyum tipis.
__ADS_1
" Untuk mengatakan ini cinta,mungkin Widi belum berani kak,tapi Widi nyaman berada didekat kakak. dan Widi juga sudah terbiasa dengan kehadiran kakak".
Ada senyum yang terukir di bibir itu. Sekilas ia menatapku ,meraih tanganku dengan sebelah tanggannya. Dikecupnya punggung tanganku dengan lembut.
" terima kasih,dengan kamu memberi tempat di hati kamu. sudah cukup untuk kakak. Aku tidak akan meminta seluruh hatimu untukku. Dan biarkan hati kamu yakin,bahwa ada cinta itu untukku meski mungkin masih samar".
Aku tersenyum,tak menyangka ternyata kak Ares bisa sesweet ini.
" ehmm,,, romantis banget ternyata kakakku ini". ucapku,yang pasti merusak suasana yang sudah dibikin sedrama mungkin oleh kak Ares. Kak Ares melepas tanganku dan berdecak sebal.
" eleeh ngambek " ledekku sembari mengelus pipinya. yang sukses membuatnya tersenyum manis.
" kamu tuh gak bisa diajak serius ?"
"Emang kakak udah pernah ngajakin serius ?". tanyaku sambil menaik turunkan alisku dan tersenyum jail.
" kamu tuh ya". ujar kak Ares sambil memencet hidungku.
" sakit kak ".protesku sambil memukul lengan kak Ares. Dengan sebelah tanganku mengelus hidung. yang justru disambut tawa kak Ares.
__ADS_1
" kak !"
" apa ?"
" ganteng lho kalau ketawa" gombalku. Dan lucunya akan selalu ada raut wajah itu. Mimik wajah memerah,yang selalu ingin di sembunyikan oleh kak Ares. cukup menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Mungkin aku yang sudah tak tahu malu. Atau kak Ares yang terlalu kaku,di puji dikit, digombalin dikit baper dianya. Tapi aku selalu merasa nyaman disisinya tanpa perlu aku menjadi orang lain. Tak perlu berpura- pura manis untuk mendapat perhatiannya. Semua berjalan biasa saja tapi cukup membuatku bahagia.
Perlahan nama Adrian mulai terkikis di hatiku. Kak Ares,nama itu sedikit demi sedikit mengisi hati ini. Adrian tak akan tergantikan karena ia sudah terlanjur ada. Namun biarkan ia menjadi sejarah. Kutekadkan hati untuk memulai sebuah lembar baru dengan kisah baru tentunya.
Sampai juga di pelataran cafe,kak Ares menghentikan laju motornya.
" kak !"
" hmm?"
Kak Ares menoleh dan cup.... ku cium pipi kak Ares.
" makasih " ucapku yang buru- buru keluar mobil. Malu sih nyosor duluan. cuma lihat muka kak Ares yang bengong dan terlihat kaget itu lebih lucu.
__ADS_1
Yang seharusnya gak punya muka lagi tuh aku,tapi lihat justru kak Ares yang tak berani menatapku. meski aku sudah diluar mobilnya. Tanpa menoleh apalagi mengucap kata,ia langsung pergi begitu saja. Segurat senyum samar dibibirnya bisa ku lihat.
Satu kecupan yang kucuri darinya sukses membuat seorang Aresta tersipu. Kadang aku ingin tertawa sendiri. segitu poloskah kak Ares ?, seperti abege saja. Baru mengenal cinta dan dapat ciuman pertama. Hah semoga saja ini bukan ciuman pertamanya. Lupakanlah,aku melangkah masuk kedalam cafe .