
Menikmati secangkir kopi dan kentang goreng sambil bersantai di sofa yang terletak di sudut cafe. menatap lalu lalang kendaraan di jalanan lewat dinding kaca . Hari ini Livi belum menampakkan diri di cafe,ada urusan dengan sang kekasih katanya. sebuah notifikasi chat masuk di hpku. Nama yang setiap hari selalu hadir di hidupku,kak Ares nama itu yang tertera di layar hp. Sebuah perhatian kecil sekedar tanya sedang apa,atau sudah makan belum. Namun sesuatu yang sebenarnya biasa tapi terasa luar biasa karena ini dari kak Ares. manusia dingin berwajah datar yang kini mulai menghangat dan berekspresi di wajahnya.
" mbak Widi,ada yang nyari" suara Dimas mengalihkan perhatianku yang sedang asyik dengan hp.
" siapa dim ?"
" gak tahu mbak,cewek lagi hamil" sahut Dimas membuatku mengerutkan dahi.
" Dimana ?"
" meja nomer 15 mbak"
" oke sebentar"
" ya mbak"
Dimas berlalu meninggalkan aku yang sebenarnya masih di selimuti rasa penasaran siapa yang mencariku. aku bangkit dari dudukku,melangkah mencari seseorang yang duduk di meja nomer 15. Ada rasa tak percaya dengan apa yang kulihat. Wanita cantik yang sedang berbadan dua. duduk sambil mengaduk- aduk jus tanpa meminumnya. tatapan itu nanar keluar cafe. aku menghampirinya dengan rasa heran yang masih hinggap di hatiku.
" permisi " ucapku sambil duduk dikursi di hadapannya. tatapan mata itu tertuju padaku,sebuah senyum yang terlihat begitu getir ia berikan padaku.
__ADS_1
" benar kamu mencariku ?" tanyaku dengan nada tak percaya. anggukan ia tujukan sebagai jawaban.
" ada perlu apa ?" tanyaku.
" aku mau minta maaf ".
Aku memicingkan mata. Tak percaya dengan apa yang kudengar. dihadapanku kini seorang Indira tiba- tiba meminta maaf.
" mungkin sudah terlambat bagimu permintaan maafku. tapi aku merasa benar- benar bersalah sama kamu. anak yang aku kandung bukan anak Adrian". Indira memberi jeda pada ucapannya. jujur aku kaget. tapi aku coba sembunyikan. Aku memilih diam,membiarkan ia melanjutkan ucapannya.
" aku menjebak Adrian agar dia mau mengakui anak ini,dan dia mau menikahiku. karena aku mencintainya. aku pikir semua akan berakhir indah,ternyata aku salah. aku tetap tak bisa menjadi wanita yang di cintainya. bahkan dalam tidurpun namamu dalam igauannya".
Entah rasa apa yang kini menjalar di hatiku. marah ,kesal atau entahlah aku bingung. bahkan aku tak tahu harus berkata apa.
" aku tidak pernah meminjamkannya dan aku tidak pernah ingin mengambilnya".
" tapi adrian butuh kamu. dia hancur saat ini,jangankan untuk mengurus perusahaan. mengurus diri sendiripun ia tak punya semangat lagi. aku mencintai dia Wid,dan aku ingin melihatnya bahagia,dan kebahagiaannya adalah kamu".
" kamu istrinya,terlepas dari kenyataan anak yang kamu kandung anak dia atau bukan.tapi kamu adalah istri sahnya,buat dia mencintai kamu itu jauh lebih baik dari pada aku yang kembali padanya".
__ADS_1
" tapi yang dia mau itu kamu bukan aku".
" dia pernah egois yang tiba- tiba memutuskan aku dan menikahimu,sekarang aku yang akan egois. sudah terlalu banyak waktu yang ku buang untuk melupakan masa lalu. dan aku tak ingin kembali ke masa itu. biarkan aku menata hidupku dengan lembaran baru. apapun yang terjadi pada Adrian bukan urusanku lagi".
" tapi Wid,Adrian sangat mencintai kamu. dia butuh kamu".
" aku juga pernah sangat mencintainya dan membutuhkanya. tapi tidak saat ini sudah ada cinta lain di sini" ucapku sambil menunjuk dadaku sendiri.
Aku sudah bertekad untuk mengubur semua kisah tentang Adrian dalam hidupku. cukup sudah rasa sakit yang kurasa, aku hanya ingin bahagia. Dengan sebuah kisah baru.
'' Wid " lirih ucap itu. seraya tangan Indira mengengam tanganku. tatapan penuh pengharapan ia berikan.
" beri Adrian kesempatan. aku akan benar- benar pergi dari hidup kalian".
" maaf Ra aku gak bisa. mungkin anak itu bukan anak Adrian,tapi kalian pernah melakukannya kan ?" pertanyaanku membuat Indira tertunduk.
'' tetap saja dia sudah menghianatiku,dan aku tidak akan pernah bisa kembali padanya". pungkasku seraya berdiri dan berlalu meninggalkan Indira yang masih membisu di tempatnya.
Disaat aku mulai bisa mengikis rasa cinta dan mengganti dengan cinta yang lain. kenapa harus ada kenyataan yang membuat rasa ngilu dihatiku. Andai tak pernah ada kebohongan ini aku mungkin sudah menjadi nyonya Adrian tanpa harus saling melukai seperti ini. Tuhan,aku hanya ingin benar- benar melepas rasa cinta ini. Aku hanya ingin memberi seutuhnya hati ini untuk Ares. Tak ingin lagi ada kebimbangan di hati ini.
__ADS_1
Dengan sesak yang tiba- tiba membelit hatiku. aku berjalan gontai menuju teras belakang cafe. sebuah tangan memegang pundakku,membuatku berbalik.
" kamu kenapa Wid ?". tanyanya yang melihat air mata yang telah mengalir di pipiku. tanpa kata aku memeluknya yang berdiri diam terpaku.