Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Tante camer


__ADS_3

Sepi,itu yang kudapati sesampainya di rumah kak Ares. Hanya asisten rumah tangga dan pak satpam yang ada.


" kok sepi kak ?"


" mama sama papa lagi keluar. tapi nggak lama kok kata nya" . Jawab kak Ares sambil terus melangkah masuk.


" Bi, !" panggil kak Ares pada bi Mira yang sedang sibuk di dapur.


" iya den," sahutnya seraya berjalan tergopoh mendekati kami.


" buatin minum dua bi". titah Kak Ares.


" den Ares mau minum apa ?"


" kopi aja bi".


' non Widi ?"


" teh bi"


" sebentar bibi bikinin"


Bibi meninggalkan aku dan kak Ares yang masih berdiri di ruang tamu. sampai tangan kak Ares menggenggam pergelangan tanganku.dan menuntunku menuju ruang tengah. Duduk bersebelahan di sofa panjang. aku mengambil remote dan menyalakan tv.


" sepi banget sih?" gerutuku.


" mau rame ?" pertanyaan kak Ares yang membuatku memandangnya. dan mengangkat kedua alisku sebagai bentuk pertanyaan.


" bakar rumah"


" hah garing" cibirku dengan badanku yang sudah merosot dari sandaran sofa. Kak Ares tersenyum dengan tangan mengacak rambutku.


Tak berapa lama bi Mira datang dengan dua cangkir minuman dan makanan ringan di toples.


" wah bibi tahu aja ada cemilannya juga. makasih ya bi".


" sama-sama non,gak sama non Livi ?"


" gak bi,sama kak Ares doang" ucapku sambil memasukkan keripik pisang kemulutku.


" oh,ya sudah non,bibi ke belakang dulu" pamit bibi.


" iya,makasih ya".


"iya non ".

__ADS_1


Mataku kembali tertuju pada layar tv,yang sedang menayangkan acara FTV pagi. Aku asyik dengan cemilan di tangan sambil menonton tanpa mempedulikan kak Ares yang duduk di sebelahku yang sibuk dengan hpnya.


" kok aku jadi di kacangin sih". gerutu kak Ares yang tiba-tiba merebahkan tubuh dan menjadikan pahaku bantal.


" ih kak Ares,malu ah"


" sama siapa ?,gak ada orang lain juga" sahutnya. Tangannya masih asyik dengan hp yang ternyata sedang ngegame.


"protes di kacangin,sendiri asyik ngegame". ucapku yang di balas cengiran kak Ares. Aku mengambil kripik lagi,tapi belum sampai tanganku membawa keripik mendekati mulutku. tanganku di tarik kak Ares dan keripik di lahapnya.


" kak Ares ih,ambil sendiri kenapa ?, manja !"ocehku


" biarin" sahutnya cuek. dengan mata tak beralih dari layar hp.


" ehm,ehm...." suara deheman yang di buat-buat dan aku tahu pasti itu suara siapa. Aku memalingkan wajahku menatap wanita cantik yang berdiri di belakangku.


" sejak kapan Lo disitu ?". tanyaku yang langsung berdiri tanpa mempedulikan kepala kak Ares yang jatuh dari pangkuanku dengan kasar,untung di sofa. coba di lantai kan lumayan.


" aduh" teriak kak Ares sok drama padahal pasti gak sakit.


" udah lama Lo disitu Liv ?"


" lumayanlah buat lihat Lo berdua mesra-mesraan". goda Livi dengan tatapan menjengkelkannya.


" apaan sih" gerutuku.


" dah,lanjutin romantis-romantisannya" . lanjutnya dengan langkah kaki menjauh.


" Lo mau kemana ?"


" kamar,ogah jadi obat nyamuk disini gue''.


" ikut". aku meninggalkan kak Ares,mengikuti langkah Livi.


'' ngapain ?, tuh liat cowok Lo. udah mau nelen orang bulat-bulat".


Aku mengikuti arah pandang Livi,melihat tampang kesal kak Ares.


" ck.." sebuah decakan sebal terdengar dari bibirnya sembari menjatuhkan tubuh di sofa.


" bodo ah,mau ikut Lo aja. bosen gue".


" terserah,cowok Lo ngambek gue gak ikutan". Livi mengangkat kedua tangan .


" warung depan masih buka kan ?, beliin lolipop aja" ucapku bercanda. membuat aku dan Livi tertawa. Aku merangkul pundak Livi,berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Tempat yang sudah sering aku singgahi dan bahkan beberapa kali aku tidur disini. Aku dan Livi menjatuhkan diri di kasur.


" gak jalan sama Reza ?" tanyaku.


" lagi di luar kota dia"


obrolan terus mengalir dari bibir kami. sesekali tawa mengiringi candaan kami. Aku lupa sudah berapa lama di dalam kamar Livi. Sampai seseorang membuka pintu kamar Livi tanpa permisi. membuat percakapanku dengan Livi berhenti. Sosok lelaki dengan tampang datarnya muncul dari balik pintu.


" ngapain ?" tanya Livi jutek.


"Widi kesini sama aku bukan kamu. kok jadi asyik di sini." ucap kak Ares . melangkahkan kaki mendekati kami yang masih asyik tiduran diatas kasur. Ia ikut menjatuhkan tubuhnya diatas kasur tepat di sampingku.


" yaelah mas,posesif amat" ujar Livi sambil melempar bantal yang tepat mengenai wajah kak Ares.


" kenapa,masalah ?"


' ' iyalah dia itu sahabatku,aku gak suka ya, mas terlalu posesif".


Ah mulai nih berantem gak penting. apalagi kak Ares sudah mulai ikut melempar bantal. akhirnya percekcokan gak mutu terjadi juga. sampai keduanya tak menyadari aku yang meninggalkan kamar Livi. malas diantar dua kakak adik ini. gak ada yang mau ngalah. kamar Livi jadi super berantakan karena bantal yang berserakan.


Langkah tergopoh menaiki tangga,wanita paruh baya dengan wajah cantiknya. Dengan langkah cepat ia menghampiriku yang masih mematung di depan pintu.


" Widi,yang di dalem siapa,kok berisik. Livi gak lagi berantem sama Reza kan ?" selidik Tante Dhiya.


" bukan Tante,itu kak Ares sama Livi"


" ya ampun" ucap Tante dhiya dengan mimik kesal. aku memilih pergi dari sana. masih terdengar teriakan Tante Dhiya memarahi dua anaknya dan kemudian senyap.


Aku duduk di sofa kembali dengan tv yang masih menyala tapi sudah berganti acara. tak berapa lama suara derap kaki mendekat. aku menoleh dan terbahak mendapati Livi dan kak Ares yang di tuntun telinganya oleh sang mama.


" aduh ma,udah sakit" Livi mengadu.


Tante Dhiya duduk diantara kedua anaknya yang sudah tak lagi di jewer.


" sudah besar berantem kayak gitu,gak malu sama Widi ? . celoteh Tante dengan wajah masamnya.


" kamu Res,katanya pulang mau bawa calon mantu buat mana,mana ?"


deg...


tegang aku mendengar pertanyaan itu. dengan santainya kak Ares menjawab sambil menunjukku.


" lha itu".


Tante Dhiya membelalak sempurna.

__ADS_1


" Widi ?" ucapnya kaget. jujur ekspresi tante Dhiya sedikit membuatku khawatir.


Orang yang selama ini jadi Tante apa bisa menerimaku jadi mantu. jadi calon mertuaku,tante camer. ah entahlah.


__ADS_2