Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Rumah Livi


__ADS_3

Rumah megah bak istana,berdiri di atas lahan yang begitu luas. Memasuki gerbang di sambut taman luas dengan berbagai jenis tanaman. bunga- bunga indah tertata rapi. Sudah cukup sering aku datang ke rumah ini. Rumah yang akan membuat siapapun takjub. Tapi tidak dengan Livi yang justru lebih suka tinggal di apartemen daripada di istananya.


" Eh non Livi,tumben non pulang ?" sapa pak Bahrudin yang masih setia jadi satpam di rumah Livi.


" hehehe... kangen mama pak, gimana pak aman ?" tanya Livi dengan nada bercandanya.


' aman terkendali non" Sahut pak Rudin dengan mengacungkan jempol.


" siiiip,Livi mwsuk dulu pak"


"iya non"


Itulah Livi dengan keramahannya. tak pernah ia menunjukkan sikap nona besarnya. ia selalu baik kepada siapapun. semua orang yang bekerja di rumah ini pun dianggapnya keluarga. Aku terus mengekor di belakang Livi yang membuka pintu utama dan segera memasuki rumah.


Masih seperti saat aku berkunjung terakhir kali. ruang tamu luas dengan prabot mewah disana.


" non Livi, pulang non" sapa wanita paruh baya. bi mira yang setahuku sejak pertama aku main kerumah ini dia sudah bekerja di sini.


"iya bi,kangen lama gak ketemu mama"


" iya dong non harus sering pulang,kasihan ibu. ada non Widi juga. lama gak kelihatan non"


" iya nih bi,habis yang punya rumah juga jarang pulang" sahutku sambil melirik Livi , yang di sambut tawa bi Mira.


"mama di mana bi ?"


" di taman belakang non. kalau den Ares di ruang tengah tadi"


" mas Ares di rumah ?, tumben ".


" pulang kemarin den Ares nya".

__ADS_1


" bikinin jus jeruk 2 ya bi,nanti anter ke taman. Livi mau nemuin mama dulu"


" baik non"


Aku mengikuti langkah Livi menuju taman belakang. saat melewati ruang tengah ,sosok lelaki yang selalu menampakkan wajah datarnya terlihat sibuk dengan gadget di tangannya.


" tumben mas di rumah" suara Livi membuatnya berpaling dari benda pipih itu. sekilas hanya sekilas ia menatap adiknya.


" kamu yang tumben inget pulang" sahutnya dengan tatapan yang kembali fokus pada benda di tangannya.


" kebelakang aja yuk Wid,beku entar disini" ajak Livi yang terlihat sudah malas berbicara pada kakaknya yang memang dingin. Mendengar namaku di sebut Livi membuat Kak Ares mendongakan kepala menatapku sejenak ,mungkin tadi dia tak menyadari keberadaanku. Tapi tak ada kata yang terucap,aku pun memilih diam.


Livi melangkahkan kaki menuju taman belakang. Disana terlihat wanita yang masih terlihat begitu cantik di usia yang sudah lima puluh lebih. Wanita itu tampak sedang menikmati waktu santainya dengan secangkir teh dan majalah di tangan.


" mama" seru Livi membuat tante Diyah mengangkat kepala memandang kedatangan kami berdua.


" anak mama inget pulang juga akhirnya". sambut tante Diyah dengan wajah sumringah.


" hallo tante" sapaku menghampiri tante Diyah dan menyalaminya setelah Livi melepas pelukan dan duduk di samping mamanya.


" ini juga Widi gak pernah main kerumah"


" habis udah gak pernah diajak main lagi sama yang punya rumah tante" jawabku sambil duduk di depan tante Diyah.


" emang ini anak tante kebangetan Wid,masa sekarang jarang banget pulang"


" sibuk ma,lagian jarak rumah sama cafe kejauhan jadi ya Livi males ma. kalau tiap hari mesti macet- macetan di jalan". alasan Livi.


"banyak alasan aja kamu,sekarang tante itu kayak sebatang kara Wid. bayangin aja si om pulangnya sering malam, ini si Livi sebulan pling 2,3 kali pulang. Ares juga sekarang lebih sering di apartemen" keluh tante Diyah. aku hanya bisa menanggapi dengan senyum.


"Makanya itu mas Ares suruh nikah biar ada menantu yang nemenin mama"

__ADS_1


" hah,kaya gak tau masmu aja. pernah bawa pacar pulang aja gak"


Tak lama Bi mira datang dengan nampan berisi dua gelas jus jeruk sesuai pesanan Livi dan makanan ringan.


" makasih bi" ucap Livi dengan senyum mengembang.


" sama-sama non"


" bi,mumpung masih siang ke supermarket belanja. mumpung anak- anak dirumah . masak yang banyak,nanti makan malam bareng ".


" baik bu"


" minta anterin mang Yanto bi"


" iya bu,saya pamit dulu"


Anggukan dan senyum ramah tante Diyah sebagai jawaban.


" nanti Widi ikut makan di sini ya. kalau perlu ikut nginep disini"


" iya tante, tapi nginepnya kayaknya gak bisa tante".


" Livi juga mau ke apartemen ma"


" gak,kalau kamu mesti nginep''


"tapi Widi kan gak bawa kendaraan"


" gitu doang bingung Liv,ojol banyak" celetukku. " kasihan tante sendirian terus" lanjutku.


"tuh Widi bener,alasan saja" gerutu tante Diyah.

__ADS_1


Kami bertiga terus melanjutkan obrolan diselingi canda dan tawa. terlihat pancar kebahagiaan di raut wajah tante Diyah. ternyata bahagia itu bukan seberapa kaya dirimu tapi seberapa kamu bisa mensyukuri apa yang kamu miliki. Livi terlahir dari keluarga kaya raya ternyata mamanya kesepian karena anak- anaknya yang tak pernah punya waktu. sedang aku terlahir dari keluarga biasa- biasa saja,tapi tak pernah ada kesepian di rumah kami.


__ADS_2