Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Tak untuk di kenang


__ADS_3

Sudah beberapa hari aku kembali kerumah. Tapi ada yang belum aku sadari dari kemarin karena aku yang langsung sibuk bekerja. berangkat pagi dan pulang juga sudah jam sembilan malam. Aku tak sempat memperhatikan isi kamar. Dan pagi ini aku menyadari,ternyata semua barang pemberian Adrian masih tersimpan rapi disini. bahkan fotonya masih tergeletak di atas meja riasku.


Aku mengambil bingkai berisi foto Adrian yang sedang tersenyum. kutatap wajah itu,wajah yang selama empat tahun ini mengisi hati dan hariku. Aku tersenyum getir mendapati sebuah penghianatan yang ia lakukan. kelembutan,keromantisan,dan semua pengertian yang dulu kudapat tak lebih dari tameng untuk menutupi semua kebusukannya.


Dia yang menerimaku saat aku dengan pendirianku yang tak mau menyerahkan mahkota berhargaku. kupikir itu adalah cinta tulusnya. ternyata karena dia bisa dengan mudah menyalurkan hasrat pada wanita lain. menjijikan.


Kutelungkupkan bingkai foto,aku keluar kamar mencari adikku Lian.


" Lian " teriakku dari tangga.


"ada apa Wid ?" justru suara papa yang menyahut. karena ini hari minggu jadi penghuni rumah lengkap.


" Lian dimana pa ?" aku tak menyahut pertanyaan papa. malah mangajukan pertanyaan setelah aku mendekatinya.


" di halaman belakang kayaknya tadi pakai baju basket" jawab papa yang tak mengalihkan pandangan dari koran yang sedang di bacanya.


Langkahku meninggalkan papa di ruang tengah. di dapur mama dan mbak marni terlihat sibuk dengan masakan mereka.


" mau kemana Wid ?"


" nyari Lian ma "


" dari pada ribut sama adik kamu. bantu masak aja sini. masa anak perawan gak bisa masak "


" hehehe,,,,lain kali aja deh ma" sahutku langsung pergi dari dapur. dari pada mendengarkan ceramah dari mama. karena aku males berurusan dengan dapur. bodo amatlah kalau aku ini bukan tipe- tipe wanita idaman.


Selalu hanya ada gelengan kepala dari mama saat aku diajak berkutat dengan urusan dapur . karena aku tak pernah mau di dapur. kini aku sudah di halaman belakang melihat Lian yang begitu lihai mendrible bola dan memasukkanya ke ring.

__ADS_1


" Lian" seruku. Lian yang hendak melempar bola mengurungkan niatnya. memandangku dengan kernyitan di dahinya.


" mau duit gak ?" tawarku,pasti kalau urusan duit adikku yang matre ini pasti langsung semangat.


" maulah,mana ?"


" ambil kardus 3 di gudang terus bawa kekamar mbak " titahku


" ckk,,,jadi babu dong gue"


" mau duit gak ?"


" iya deh"


" buru mbak tunggu"


" iya bawel"


4 tahun pacaran,jelas banyak barang darinya. lima boneka tedi berbagai ukuran di ranjangku semua darinya. segera ku ambil dan ku ketakkan sembarangan di lantai kamar. foto,kotak musik,beberapa sepatu,tas,ada kalung juga cincin tanda kita jadian dulu. semua ku taruh di lantai.


" hah gila,ini apa- apaan sih mbak ?" teriak Lian yang sudah berada di kamarku yang kini persis kapal pecah.


" udah gak usah banyak omong,lo masukin tu barang ke kardus". sahutku yang kini sedang membuka lemari,baju,jaket,sweater ada dompet juga. semua kulempar dari lemari.


Adrian bukanlah orang yang pelit,jadi banyak sekali barang-barangku yang di belanjakan olehnya.


"mbak ini kalung sama cicin emas kan ya ?" tanya Lian sambil melihat kalung dan cincin.

__ADS_1


" iya itu emas putih,itu di laci ada dua jam tangan kalau di jual lumayan buat lo pergi nonton sama Virny"


" jadi ini,maksud mbak duit"


" ya,ini kan udah di kasih buat mbak,tapi sekarang mbak udah gak butuh. jadi mbak kasih ke lo. Lo jualin aja yang bisa di jual. yang gak bisa di jual bisa lo buang atau kasih siapa gitu. yang penting tuh barang- barang gak di rumah ini lagi"


" segitu bencinya mbak ?, kenapa gak dibalikin aja?"


" barang yang sudah di kasih itu gak perlu di balikin,itu udah jadi milik kita. dia kan bukan nitip, cuma mbak udah gak mau barang itu sekarang" . jawabku sambil duduk ditepi ranjang setelah selesai mengumpulkan barang- barang pemberian Adrian.


"mbak,kalau pengen nangis. nangis mbak, Lian tahu kok. ini berat banget buat mbak" bijak sekali adikku ini. bisa juga dia bersikap dewasa. Lian duduk disampingku.


" sudah cukup Ian air mata mbak,untuk nangisin orang sebrengsek dia" ucapku lirih sembari tatapan mata lurus kedepan tanpa melihat ekspresi Lian.


'' sebenarnya apa sih yang buat dia tiba- tiba ninggalin mbak dan nikah sama cewek lain ?"


" dia hamilin anak orang"


" gila,jadi selama ini dia duain mbak ?" nada pertanyaan dari mulut Lian begitu terkejut.


Aku hanya mengangguk. Rasanya mulut ini malas sekali berbicara.


" mbak,tapi mbak belum gituan kan sama Adrian ?" pertanyaan itu terdengar hati- hati tapi dengan nada menyelidik. Aku menyambar bantal dan ku timpuk wajah adikku.


" emang mbak apaan,masih ori ya.enak aja".


" kan cuma nanya mbak,kan mbak pacarannya udah lama. ya kali aja..." ucap Lian menggantung.

__ADS_1


"gak segila itu mbak Ian,udah beresin ini semua".


Lian kembali memasukkan barang yang kutumpuk di lantai kedalam kardus. Aku meski rasanya enggan,membantunya mengemas. malas sebenarnya jika harus mengingat setiap kenangan pada benda- benda ini. Hubungan yang kupikir akan berakhir indah tapi nyatanya luka yang kudapat. manusia memang hanya bisa berusaha namun hasil akhir Tuhanlah penentunya.


__ADS_2