
Cukup lama aku,Aji dan Haris bercengkrama. bertukar cerita dan sekedar bebagi canda. sampai suara handphone ku berdering. sebuah nama tertera di layar "kak Ares" . Aku langsung menggeser tombol hijau.
" ada apa kak ?" tanyaku tanpa ada sapaan basa-basi apalagi sapaan manis ala-ala orang pacaran .
" lagi dimana ? " bukan jawaban yang kudapat tapi sebuah pertanyaan.
" di coffe shop ,kenapa ?"
" coffe shop ?,sama Livi ?"
" nggak,sama Haris sama Aji". jawabku jujur. aku tahu kak Ares cemburuan. tapi tidak akan membuatku berbohong. aku hanya ingin dia pelan-pelan memahami. ada batasan antara cinta dan pertemanan. dan dia lama-lama bisa menerapkan rasa cemburunya di tempat yang tepat.
" Aji ?" aku tahu ia sudah di buat was-was dengan sebuah nama yang baru saja ku sebut .
" ehem,temenku dan Haris,kakak tumben telpon jam segini ada apa ?".
" mama telpon, kita disuruh nyusul ke butik".
" ya udah kakak jemput aku di coffe shop aja,aku kirim lokasinya"
" oke,kakak tutup ya"
" oke"
Kak Ares menutup sambungan telponnya,aku segera mengirim lokasi keberadaan ku .
" tunangan kamu mau kesini Wid ?" tanya Aji.
" he'em"
" penasaran aku kayak apa sih tampangnya kok Haris sampai ngeri gitu".
" matanya ngeri,beneran" sahut Haris aku tertawa kecil .
" tenang sebuas-buasnya singa kalau udah ketemu pawangnya aman".
" parah,ngatain calon suami sendiri singa" celetuk Aji.
" terlalu banyak julukan dari gue buat dia. tembok,beruang kutub,es batu sampai es krim . bolehlah sekarang yang agak serem,singa".
__ADS_1
" banyak amat julukannya,sudah berapa lama saling kenal?"
" dari gue SMP".
" temen kamu sekolah ?" . aku seperti diintrogasi Aji,Haris hanya diam memperhatikan.
" bukan,adiknya yang temen gue. gak nyangka juga sih akhirnya gue bakal nikah sama dia,gak pernah terbayangkan" sahutku
Tak sampai setengah jam,lelaki berjas biru senada dengan celananya tampak memasuki coffe shop,tak lupa kacamata hitamnya yang masih ia pakai. Aku melambaikan tangan seraya tersenyum saat matanya yang tak kelihatan itu tampak melihat kearah ku.
" itu tunangan kamu Wid ?" tanya Aji.
" yes,keren gak ?" tanyaku dengan nada jenaka.
" melempem aku,kirain bisa sedikit berbangga diri" celetuk Aji yang membuatku tertawa.
Langkah pasti kak Ares menghampiri kami bertiga. dibukanya kacamata hitam yang menyuntikan manik hitamnya.
" siang mas" Aji berdiri,mengulurkan tangan yang langsung disbut oleh kak Ares.
" Aji temen Widi"
" kok gue ngerasa kayak diruang sidang ya,tegang bener . itu muka gak bisa di lenturin dikit kak ?, kaku amat kayak abis tarik benang aja" celetukku yang melihat kak Ares yang masih saja kaku di depan temanku.
Tak ada jawaban hanya tatap tajamnya menusuk mataku.
" udah,gak usah gitu liatnya ,ngopi dulu sini" ucapku yang masih duduk anteng di tempat .
" mama udah nunggu di butik" sahutnya datar.
" oh,ya udah ayo berangkat".. aku berdiri mengambil tas yang ku taruh di kursi .
" gue cabut dulu ya,kapan - kapan ngopi lagi" pamitku .
" ok" sahut Aji seraya mengacungkan jempol. Aku meninggalkan dua temanku diikuti kak Ares yang bahkan tak mengucap pamit. seribu kali ku tegaskan mereka teman sepertinya tak akan mengubah ekspresi menyebalkan di wajah kak Ares itu.
Setelah kami sama-sama di mobil. tanganku yang sudah gregetan mencubit pipi kak Ares.
" apa sih Wid ?" tanya kak Ares ketus .
__ADS_1
'' sebel tau gak,biasa aja kenapa sih kalau didepan temen aku. toh kita gak berduaan juga ". cercahku sebal.
" kan kamu sudah tau,aku gak suka kamu jalan sama laki- laki".jawabnya datar.
" terserahlah,pusing aku" .
Memilih diam,dongkol rasanya. biar bagaimanapun Haris dan Aji ikut ambil andil dalam pemulihan hatiku yang luluh lantak. dan sekarang setelah hatiku berhasil di reparasi maunya hanya dimiliki seorang Ares. wow,tidak tahu terima kasih sekali diriku. cukup dengan aku tidak membalas perasaan mereka. tapi untuk tidak berteman,rasanya terlalu kejam.
Sampai di butik tempat dimana aku dan Livi membeli gaun di acara lamaran. selain pegawai dan pemilik butik kedatangan kami disambut Tante Dhiya yang sudah menunggu disana. Aku yang masih sebal dengan tingkah kak Ares yang tak bisa menerima temanku. Berjalan cepat menghampiri Tante Dhiya tak peduli dengan kak Ares yang tertinggal .
" Tante,sudah lama ?" tanyaku sambil mencium punggung tangannya.
"belum baru sekitar 15 menit" jawab Tante Dhiya bersamaan dengan kak Ares yang berjalan mendekat.
" Res,temenin Widi milih gaun di lantai atas buat foto prewed kalian" titah Tante Dhiya pada anak sulungnya.
" mari mbak saya antar" seorang pegawai mempersilahkan .
Tanpa banyak kata aku dan kak Ares mengikuti langkah pegawai itu. deretan gaun mewah terpampang nyata di lantai dua. aku terkagum- kagum. luar biasa apa yang kulihat. sementara aku asyik melihat dan memilih kak Ares memilih duduk di sofa yang berada di sudut ruangan. matanya sudah sibuk menatap layar hp. entah apa yang di kerjakanya.
Aku masuk ruang pas dengan gaun yang tadi kupilih,ada beberapa gaun yang akan kucoba. nanti menurut kak Ares yang paling pas,itu yang kupilih. ganti pertama .
" kak gimana ?" tanyaku sambil berputar- putar. jangan harap akan ada adegan melongo takjub dari seorang Aresta. karena nyatanya dia hanya memandang sejenak dengan satu kata " bagus" dan kembali fokus dengan benda di tangannya.
Mencoba gaun lain lagi,dua kalu,tiga kali bahkan empat kali ganti respon sama yang kudapat. Gedeg banget rasanya.
" kak,menurut kakak dari empat yang aku coba. mana yang paling bagus ?" tanyaku setelah berganti dengan bajuku lagi.
" heh ?'' tampang bingungnya jelas terlihat. aku tahu dia tidak memperhatikanku . membuatku yang sedang sebal bertambah ribuan kali lipat sebalnya.
" gak merhatiin aku kan dari tadi ?"
" maaf sayang,ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan''
" bahkan hanya untuk beberapa menit merhatiin aku gak bisa ?"
" maaf"
" terserah" satu kata ribuan makna kuucap sebagai bentuk protesku. Aku melangkah meninggalkan kak Ares dengan kesalnya. hah,sudah dapat orang yang katanya cinta saja kadang semenyesakkan ini.
__ADS_1