
Saat ini aku tak peduli Kak Ares membawaku kemana. Pikiranku kalut,aku hanya bisa menangis,menangis dan menangis sampai tissu di dasbor mobil kak Ares hampir habis. Tapi lelaki disampingku tetap saja seperti patung,tak ada sepatah katapun terucap untuk sekedar basa- basi menghiburku.
Sampai kak Ares menghentikan laju mobilnya. Aku baru menyadari kemana kak Ares membawaku ternyata bukan cafe atau rumahku. justru di bawanya aku kesebuah apartemen yang membuatku mengernyitkan dahi. bingung.
" kok kesini ?, ngapain kak ?" tanyaku disela isak tangis dan kebingunganku.
" turun,ikut saja" katanya dingin. aku terpaku diam. kak Ares turun dan membuka pintu mobil untukku.
" ayo turun " ajaknya.
Aku hanya menurut tanpa mengerti mau kak Ares. Kak Ares berjalan didepanku,aku mengekor di belakangnya. air mataku masih mengalir meski sudah kutahan sekuat hati. kami menasuki lift dan keluar di lantai tiga. dengan diam aku mengikuti langkah kak Ares sampai di sebuah pintu dan kak Ares menekan tombol untuk membukanya.
" masuk" perintah kak Ares saat aku mematung di depan pintu. Sebuah ruangan yang cukup besar. ruang tamu dengan satu set sofa,terlihat dua pintu mungkin kamar. ruangannya rapi dan bersih. Aku tak peduli kak Ares yang entah sudah menghilang kemana. aku duduk di sofa,menyandarkan tubuh. kupejamkan mata yang masih saja mengalirkan air mata.
" minumlah" segelas air putih disodorkannya untukku. Kutatap tajam wajah itu,tanpa mengambil gelas ditangannya.
" apa semua laki- laki itu sama ?, menyebalkan ?".
Kak Ares menghela nafas,meletakkan gelas di meja. dan duduk disampingku,menatapku dengan tatapan dinginnya.
" menangislah sepuasmu,tapi setelah itu jangan lagi kamu menangisi sesuatu yang tak pantas kau tangisi".
Aku terbengong sejenak,tapi rasa sesak didada membuatku menangis lagi. kali ini benar- benar menangis tersedu dengan dua telapak tangan menutupi wajahku.
Tangan Kak Ares menarik tubuhku ke dalam pelukannya. kini kepalaku bersandar di dada kak Ares. sampai hem hitam yang di pakainya basah oleh air mataku.
Entah berapa lama aku dalam posisi ini. Rasa sesak di dada perlahan mulai terasa lega. Meski tanpa kata,ternyata apa yang dilakukan kak Ares cukup membuatku merasa nyaman. Si kaku ini ternyata peka juga.
__ADS_1
" makasih ya kak "
ucapku melepaskan diri dari pelukannya. hanya anggukan dengan ekspresi datarnya. Aku menghirup nafas dalam.
" kamar mandi dimana kak ?"
"itu" tunjuknya pada sebuah pintu di dekat pantry. Aku beranjak meninggalkan kak Ares. Masuk kekamar mandi,membasuh wajahku.mataku sembab dan terlihat merah saat kulihat diriku di cermin. betapa hancurnya diriku ini. menyedihka.
" Dia,di apertemen mas"
Suara kak Ares yang sedang berbicara entah dengan siapa.
" gak usah teriak,mas gak ngapa- ngapain dia. kamu kesini saja jemput dia" ucapnya lagi. Tak kudengar lawan bicaranya. ternyata ia sedang menerima telephone. Dan hpku yang berada di tangannya.
" siapa kak ?" tanyaku saat melihat kak Ares telah memutus sambungan telephone.
" Livi nyari kamu. sebentar lagi dia kesini " jawabnya,diletakkannya hp di atas meja. kemudian langkah kak Ares menuju sebuah kamar. aku kembali duduk di sofa. meminum air putih yang tadi di ambilkan kak Ares.
" mau makan ?" tawar kak Ares.
" gak laper,tapi kalau ada cemilan. boleh" sahutku.
kak Ares berjalan menuju lemari di dekat meja makan. Diambilnya beberapa bungkus snack dari dalamnya.
" nih". benar- benar pelit kata laki- laki ini. aku mengambil bungkusan snack dari tangan kak Ares dan membukanya. Aku sudah menghabiskan dua bungkus dan kak Ares hanya diam sambil fokus pada laptop yang kini sudah di pangkuannya.
tok tok tok
__ADS_1
suara ketukan pintu. kak Ares meletakkan laptopnya di meja dan pergi membuka pintu.
" mas ngapain juga sih bawa Widi ke apartemen. awas aja kalau mas macem- macem" cerocos Livi yang sama sekali tak dapat tanggapan dari kak Ares.
" Wid,lo gak apa- apa kan ?" tanya Livi yang langsung menghampiriku.
" ya ampun Widi,lo diapain sama mas Ares. kok sembab gini" Livi menangkup wajahku. belum aku menjawab dia sudah nyerocos dengan tatapan tajamnya pada kak Ares.
" kak kamu apain Widi,kok jadi gini sih"
" Liv,ini bukan salah kak Ares" selaku.
" terus ?" Livi kembali menatap wajahku.
" gue ketemu Adrian" jawabku lirih.
" bener- bener minta dicincang tu orang ya" emosi Livi meledak.
" sudah sana anterin Widi pulang. mas mau kekantor" potong kak Ares
" ke cafe aja Liv,gue belum mau pulang"
" ya udah yuk"
Aku memasukkan hpku kedalam tas dan segera berlalu meninggalkan kak Ares yang masih duduk di sofa.
"kak Ares,makasih ya" kataku sembari memberi senyum meski yang kudapat hanya jawaban singkat tanpa ekspresi.
__ADS_1
" ya" hanya itu.
Aku dan Livi meninggalkan apartemen kak Ares. sepanjang perjalanan Livi terus mengoceh menanyakan pertemuanku dengan Adrian hingga aku bisa berada di apartemen Kak Ares .