
Sosok yang ingin sekali ku hindari kini tiba- tiba di hadapanku. mencengkeram tanganku dan menatapku dengan sebuah tatapan yang tak ku pahami.
" aku ingin bicara" suara itu,suara yang dulu selalu ku rindukan,suara yang ingin ku dengar. tapi kini suara itu terdengar begitu memuakkan.
" gak ada lagi yang perlu lo bicarain" ketus Livi seraya melepas genggaman tangannya dari lenganku. Dan dengan wajah penuh amarah Livi menarik tanganku menjauhkanku dari Adrian.
" please kasih kesempatan aku buat ngomong". Adrian mengikuti langkah kami. Livi menghentikan langkahnya berbalik dengan wajah murka.
" kesempatan lo bilang,4 tahun Widi kasih kesempatan baik buat lo. dan apa yang lo lakuin ?, lo hancurin dia dalam sekejap"
" aku perlu ngomong sama Widi bukan kamu" ada nada tak kalah emosi dari mulut Adrian. Senyum sinis Livi tampak di bibirnya.
" Dan gue gak ngijinin lo ngomong sama dia" ucap Livi seraya melangkah pergi masih dengan tangan menarikku. Aku seperti orang bisu yang terdiam dalam kebekuan. Begitu banyak rasa yang berkecamuk di dadaku. Sakit ini lebih terasa perih.
" Wid,dengerin penjelasan aku" Adrian meraih tanganku yang sebelah lagi. aku tetap diam,dan memilih untuk tak menatap wajah itu.
" lepasin tangan Widi atau gue bakal teriak. lo udah ngelecehin sahabat gue"ancam Livi yang ternyata berhasil.
" Liv,please biar aku ngomong sebentar sama Widi"
__ADS_1
" Gak"
Aku menatap Livi dengan isyarat mataku. biarkan aku yang bicara. ku beranikan diri menatap wajah yang dulu selalu memberi ketenangan untukku.
" 1000 penjelasan kamu gak akan membuat 1 rasa percayaku untuk mempercayaimu lagi. jadi semua yang terjadi di antara kita sudah selesai. silahkan kamu jalani kehidupan kamu. dan aku dengan hidupku. tak perlu kamu mencariku untuk sebuah alasan yang tidak bisa aku terima"
Kutekan emosi dalam setiap kata. berharap jangan sampai air mata ini tumpah. aku tak ingin lemah di hadapannya.
" tolong Wid,jangan benci aku. aku masih mencintai kamu. sampai kapanpun perasaanku gak akan berubah".
" simpan semua kata cintamu. aku sudah tak berhak untuk mendengarnya. dan aku juga tak ingin lagi mendengar. yang berhak untuk rasa itu hanya istrimu"
" stop atau gue bakal bener- bener teriak panggil satpam"
Adrian memilih menghentikan langkahnya. Aku dan Livi berjalan menuju mobil. setelah meletakan belanjaan di jok belakang aku masuk kedalam mobil. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Beberapa kali aku menghela nafas. mengatur rasa yang begitu menyesakkan dada.
"nangis aja gak usah di tahan" Livi menggenggam tanganku lembut.
Aku menghambur dalam peluknya. Air mata ini tak lagi bisa ku tahan. Livi mengelus punggungku tanpa kata. sedang aku hanya bisa terisak. Kenapa melepaskan sesakit ini rasanya ?.
__ADS_1
Beberapa saat kami dalam posisi ini. Sampai aku bisa mengendalikan perasaanku dan bisa menghentikan tangis.
"gue akan selalu ada buat lo Wid" ucap Livi tulus penuh kelembutan.
" thanks lo selalu jadi sahabat terbaik gue". sahutku berusaha tersenyum.
" selamanya Wid,kita akan tetap jadi sahabat". senyum Livi cukup menenangkanku.
" jadi sekarang kemana ?, kerumah gue atau lo pengen kemana gitu ?"
" rumah lo aja gak apa- apa"
'' oke"
Livi segera melajukan mobilnya perlahan meninggalkan mall. menyusuri jalanan yang lumayan lebih lengang dari pada tadi pagi.
Aku masih beruntung setidaknya saat ada satu cinta meninggalkanku. ada banyak cinta yang masih ku miliki. Satu luka yang menggores hati tapi banyak pelukan yang akan membuatku tetap kokoh berdiri. Tangis ini akan menjadi senyuman. luka ini akan membawa kebahagiaan. Dan sakit ini akan menjadi keindahan. ku pasrahkan pada waktu untuk mengubah semuanya.
sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Aku tahu Livi memberiku waktu untuk menenangkan diri. Lama waktu yang sudah kita lewati bersama. membuat kita saling mengerti satu sama lain. Kehadiran kami akan selalu saling menguatkan.
__ADS_1