
Sepulang dari rumah sakit,aku mengajak kak Ares makan bakso langganan ku. Menikmati semangkok bakso panas. Dengan sesendok sambel cabe rawit rasanya sungguh luar biasa nikmat. keringat membasahi wajahku,akibat panas bercampur rasa pedas .
" sayang,sambelnya jangan banyak-banyak. kalau sakit perut gimana ?" kak Ares mengingatkan. seraya mengelap keringat didahiku.
" kurang mantap kalau gak pedes kak". sahutku cuek. tak perduli juga dengan kak Ares yang mengelap keringat yang masih terus keluar di keningku dengan tissu,di sela- sela ia menghabiskan baksonya.
Aku yakin orang yang melihatku,pasti berpikir sungguh beruntung diriku. Dan ku akui memang iya,aku sungguh beruntung. apa yang kurang dari seorang Aresta ?, dia bahkan nyaris sempurna. tampan ,mapan,setia meski harus diselipi keposesifan dan pencemburunya itu.
" ikut kakak ke kantor dulu ya Wid". kata kak Ares setelah menghabiskan bakso dalam mangkoknya.
" ngapain ?" tanyaku setelah meminum es teh sampai tandas. mencoba menghilangkan rasa pedas yang bersarang di tenggorokan.
" ada berkas yang mesti kakak tanda tangani"
" aku bisa balik ke cafe pakai taksi online kok".
" gak ,ikut kakak. gak usah balik ke cafe".
" iya,iya. " jawabku pasrah saja .
Kak Ares berdiri,menghampiri penjual bakso dan membayar apa yang telah kami makan.
" yuk !" ajaknya seraya mengulurkan tangan. aku menyambut uluran tangan itu. Jalan beriring dengan tangan saling bertaut. hal-hal kecil seperti inilah yang membuatku terasa nyaman. kak Ares bukanlah sosok romantis. tapi bagiku semua perhatian kecilnya adalah keromantisan. tak pernah ada setangkai mawar yang ia persembahkan apalagi makan malam romantis. aku pun tak mengharap hal itu darinya . cukup dia dengan caranya mencintaiku.
Kak Ares membawa mobilnya dengan laju sedang. menyusuri jalan yang lumayan lengang. Langit tampak mendung,mentari bersembunyi di balik awan yang menghitam. mungkin sebentar lagi hujan turun. Hawa sejuk ini sedikit membuatku mengantuk ditambah perutku yang kenyang. sesekali aku menguap.
" sayang,ngantuk ?" tanya kak Ares yang melihatku menguap .
" hu'um,sejuk kenyang lagi, jadi ngantuk deh"
" tidur aja,nanti aku bangunin"
" gak ah,bentar lagi juga nyampe". sahutku. menegakkan badanku,menyalakan radio . menikmati alunan musik yang sedang di putar . meski aku kurang tahu siapa penyanyinya apalagi lagunya. aku tidak terlalu up date soal musik.
Lebih banyak diam dalam perjalanan. aku asyik mengganti Chanel radio. sedang kak Ares lebih fokus pada jalanan. sekitar 30 menit perjalanan,sampai di perusahaan kak Ares. Kak Ares lebih dulu turun dan membuka pintu mobil untukku.
Dengan santainya kak Ares mengenggam tanganku dan sebelah tangan lainnya ia masukkan dalam saku celana. kacamata hitamnya sudah kembali bertenger diatas hidung. Hampir semua orang yang melihat kami. memperhatikan bosnya yang dengan percaya dirinya,berjalan tegap seakan memamerkan diriku.
" kakak pasti belum pernah bawa cewek ke kantor " tebakku saat kami berada dalam lift.
__ADS_1
"emang kenapa ?" tanyanya heran. tanganku masih setia dalam genggamannya.
" pegawai kakak kelihatan banget pada kaget lihat kakak gandeng aku". kak Ares hanya tersenyum sebagai tanggapan.
Berjalan beriringan ,saling menggenggam tangan. sudah seperti abg yang sedang kasmaran. sampai di ruang sekretarisnya kak Ares berhenti sejenak.
" apa jadwal saya sore ini ?" tanyanya tegas.
" sore kosong pak. nanti malam ada undangan dari pak Zidan".
" oke,panggilkan Adit untuk keruanganku ".
" baik pak "
Mbak sekertaris seksi itu menelpon seseorang yang di maksud kak Ares. Sedang kak Ares langsung membawaku masuk ruangan. Masih sama seperti aku datang waktu itu.
" ini mau di pegangin terus kak tangan Widi ?". tanyaku. kak Ares tersenyum,melepas genggaman tangannya. mengusap kepalaku,aku melangkah menuju sofa yang terletak di pojok ruangan. sedang kak Ares sudah duduk manis di singgahsananya. mengganti kacamata dengan kacamata minusnya.
" sayang mau minum apa ?"
" jus jeruk "
Suara ketukan pintu terdengar,membuatku duduk. tidak etis rasanya berada diruangan direktur asyik rebahan .
" masuk " titah kak Ares.
seorang lelaki berpawakan cukup ideal,dengan paras lumayan tampan. tunggu !!,kayaknya aku kenal deh. aku bangkit dari dudukku mendekati lelaki yang kini sudah duduk di hadapan kak Ares membahas pekerjaan.
" Wira bukan sih ?" ucapku sesaat setelah mereka selesai membahas pekerjaan. Orang yang menurutku Wira itu hendak beranjak. Seketika tatapan kami bertemu.
" Widi ?"
" iya,Lo kerja disini Wir ?"
" iya,Lo kok disini. apa kabar ?,gak sama Adrian ?''
" baik ,gue udah gak sama Adrian. dia juga udah nikah".
" serius Lo ?, sama siapa ?"
__ADS_1
" Indira sekretarisnya. ". jawabku,dia menganggukan kepala.
" lha Lo ngapain disini ?".
" lagi di suruh ngintilin calon laki gue".
" siapa ?"
" tuh,belakang Lo" sahutku sambil memberi isyarat dengan mataku. Dan terlihat jelas tatapan tak suka kak Ares yang melihat obrolan kami berdua yang berdiri di hadapannya.
Wira terbengong,menoleh perlahan kearah kak Ares yang sedang menatapnya tajam.
" pak ,permisi " . Wira yang tak enak mungkin dengan Ares memilih berpamitan.
" nomer hp Lo dong,biar bisa kabar- kabaran". pintaku seraya menyodorkan hpku. agar Wira menyimpan sendiri nomernya. agak ragu tapi ia menerimanya.
" ekhm" kak Ares berdehem .
" apa sih kak,keselek pulpen ?". ucapku yang paham maksudnya.
" mari pak ,Wid" pamit Wira setelah mengembalikan hpku.
" bay Wir,sampai ketemu lagi ". sahutku enteng tanpa di balas Wira yang sudah buru- buru kabur dari ruangan kak Ares.
" dia itu temen kuliah dulu kak. gak usah horor gitu deh lihatnya" . aku melangkah mendekati kak Ares berdiri di depannya bersandar pada meja.
" aku gak suka kamu deket-deket Adit "
" Adit ?"
"Wira Aditya,pakai minta nomer hp segala." kesalnya. baru aku tahu namanya Wira Aditya,dari dulu yang ku tahu cuma Wira. karena kita memang tidak satu jurusan.
Aku menangkup pipi kak Ares dengan kedua tanganku.
" sayang,dia temen aku. hanya itu gak lebih . cemburu boleh kak,tapi jangan berlebihan juga dong. aku tak sesempurna itu untuk kamu cemburui setiap aku deket cowok. gak semua yang aku kenal ,suka sama aku. mereka bukan saingan kamu di hatiku kak". tanpa berdiri kak Ares meraih pinggangku memelukku dengan kepala berada di perutku.
" kakak selalu gak rela,kamu dekat lelaki lain". sahutnya.
kalau memang sudah sifat bawaan susah dirubah. sifat pencemburu kak Ares mungkin bawaan dia. semoga pelan-pelan bisa sedikit mengurangi sikap pencemburunya itu. Acara berpelukannya berakhir setelah seorang OB mengetuk pintu dan masuk dengan nampan berisi dua gelas minuman pesanan Kak Ares tadi.
__ADS_1