
Akhirnya hari ini tiba, saat aku duduk bersanding dengan lelaki yang sebentar lagi akan berubah status menjadi suami. Duduk tegang berhadapan dengan papa dan penghulu. Itu yang ku lihat dari raut wajah kak Ares. Sampai detik dimana ia dan papa saling berjabat tangan. Dan debaran jantungku pun ikut berpacu cepat .
Seiring kata sah yang menggema. Aku telah sah menjadi istri dari seorang Aresta Bayu Nugraha. Mencium punggung tangannya yang di sambut dengan kecupan lembut di keningku. Dua cincin tanda pengikat hubungan sakral ini menggantikan cincin tunangan kami. Haru itu menyeruak,ada kelegaan,kebahagiaan dan segala rasa menyatu membuat titik kristal mengalir dari pelupuk mataku.
Acara sungkeman,membuat mataku semakin membanjir. Aku memeluk mencium punggung tangan papa dan dibawanya aku dalam pelukan lelaki idolaku.Permintaan maaf atas segala kesalahan,serta rasa terima kasihku atas kasih sayang yang tiada terhingga. Disambut sebuah petuah untukku, melangkah pada sebuah jalan baru yang akan membawaku pada muara bernama rumah tangga.
" jadilah istri yang baik,jadilah pendamping yang selalu ada dalam setiap keadaan. berdirilah sebagai makmum yang patuh pada imammu." aku hanya mampu mengangguk dan kembali memeluk papa. Semua kata seakan mengendap saat harus dihadapkan pada situasi seperti ini. Hanya air mata yang tertumpah. Bahkan papa terlihat berkaca-kaca. Jangan tanya mama yang sudah banjir air mata.
Aku menghambur dalam peluknya dengan racauan permintaan maaf dalam yang keluar dari mulutku. sungguh seperti racauan karena aku yang sesenggukan.
" kamu sudah menjadi istri ada harkat dan martabat suami yang harus kamu jaga. jadilah istri yang berbakti,jangan pernah kecewakan suamimu". nasihat mama di sela tangisnya .
Berat,jelas rasa itu yang sama-sama menggelayut dalam hati kami. kedua orang tuaku jelas tak mudah melepaskan anak gadisnya yang selalu mereka jaga selama hampir 26 tahun ini. Dan aku pun sama,berpisah dengan mereka sangatlah berat. tak jauh memang tapi tetap saja aku tak lagi satu atap dengan mereka.
Beralih pada kedua orang tua kak Ares bukan tangis. tapi senyum bahagia sebagai tanda di terimanya aku dalam keluarga mereka. Aku bersyukur,pada takdir yang menggariskan ku berjodoh dengan kak Ares. Karena aku tak perlu merasa asing berada diantara mereka.
Dan kini aku berada dalam pelukan sahabatku yang sudah menangis bahagia.
" selamat datang nyonya Aresta ,kamu sudah jadi bagian sah keluar kami".
" terima kasih adik ipar" sahutku. kami melepaskan pelukan dan sebuah tawa kecil mengiringi tangis kami. Terkadang jalan Tuhan memanglah sangat mengagumkan. Terlalu indah pada akhirnya. Sahabat kini jadi iparku dan orang yang tua keduaku jadi mertuaku. Kak Ares,orang yang dulu ku pandang hanya sebagai kakak kini menjadi suamiku.
Aku beralih menghampiri adikku Lian yang hanya mampu berucap selamat dengan nada bergetar. Lama kami saling berpelukan. Adikku satu-satunya yang akan selalu menjadi bocah di mataku. Berpindah pada sanak keluarga yang lain. BI Ifa dan suami serta Ilham pun datang. Hanya ada keluarga di acara akad ini. untuk teman dan undangan yang lain akan datang pada acara resepsi . yang akan diadakan siang nanti.
__ADS_1
Dan kini aku sudah kembali kekamar dimana tadi aku di make up. Tidur terlentang masih dengan kebaya yang membalut tubuhku. seseorang telah setia mengikutiku dan ikut berbaring di sampingku. bukan,bukan kak Ares tapi sang adik ipar kesayangan.
" gak nyangka gue bakal jadi ipar Lo. ternyata rencana hidup gue meleset terlalu jauh." ucapku dengan sebuah tawa kecilku .
" iya,gue juga gak pernah kebayang Lo yang bakal jadi kakak ipar gue.Ternyata ada banyak cara Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh yang sudah di sediakan untuk kita. Dan salah satunya dengan luka".
" iya,kalau gue gak pernah terluka,gue juga gak akan pernah tau ada cinta yang menunggu gue". sahutku. mata kami sama-sama menatap langit-langit kamar. Sejenak kami terdiam bersama pikiran kami masing-masing.
"Liv,gue bisa jadi istri dan ibu yang baik gak ya ?" tanyaku yang meragukan diriku sendiri.
" pasti,Lo bakal jadi istri terbaik untuk Abang gue dan ibu hebat buat ponakan- ponakan gue". sahut Livi meyakinkan. mata kami bertemu dan seulas senyum terukir di bibir kami. semoga apa yang Livi katakan bisa aku lakukan. Tapi aku sendiri tak yakin. aku tak sebaik dan sehebat itu. tapi akan selalu ada waktu untuk belajar.
Ketika aku dan Livi terdiam,suara pintu terbuka. sosok lelaki tampan berbalut jas hitam. yang telah berhasil mengikat jiwa ragaku pada sebuah ikatan pernikahan .
' bocah ngapain disini ?" tanya kak Ares dingin seraya melemparkan jasnya di wajah Livi.
" kalau aku bocah,terus bini mas Ares apaan ?". lanjut Livi.
" beda" satu kata itu yang terucap dari bibirnya,seraya melangkah kekamar mandi. yang jelas membuat sang adik bersungut-sungut kesal.
" ah Lo Wid,ngapain jadi bini Abang gue sih,kan gue jadi gak ada temen buat ngecengin dia". lho jadi aku yang kena .
"capek berantem mulu.udah waktunya di datang-datang" celetukku asal. yang langsung dapat lemparan bantal tepat di wajahku. Aku hanya tertawa saja melihat tampang sewot sahabatku.
__ADS_1
" ya ampun dek,masih disini aja,keluar Sono!" usir kak Ares yang baru keluar dari kamar mandi.
"mau ngapain sih mas,masih siang juga" jawaban macam apa itu. mending milih diam daripada di ledekin Livi.
" terserah mas mau ngapain,udah sana keluar" titah kak Ares sambil mendorong pelan pundak adiknya.
" masih siang mas ,masih siang !". seru Livi. tapi kakinya melangkah keluar juga.
Baru sedetik menutup pintu,kepala Livi nongol lagi dari balik pintu.
" jangan macem-macem,bentar lagi MUA Dateng dandanin Widi buat resepsi".
" berisik" ketus kak Ares seraya melemparkan handuk yang sedang di gunakan untuk mengelap wajahnya. Handuknya sukses mendarat di daun pintu,dan tawa Livi didepan semakin menghilang. mungkin sudah benar-benar pergi.
Aku turun dari ranjang , risih menggunakan kebaya ini. kak Ares yang sudah duduk di tepi ranjang bersuara saat aku beranjak.
" mau kemana ?" tanya kak Ares lembut sambil meraih tanganku.
" ganti, risih. acaranya juga masih dua jam an lagi." sahutku. namun bukan di lepas,tanganku di tariknya. membuatku terjatuh pada pangkuan kak Ares.
" kak Ares" suaraku agak meninggi karena kaget.
Bukan sahutan yang kudapat tapi sebuah ciuman dibibir yang membuatku terlena. lumayan lama kami dalam situasi ini. sampai nafas kami tersengal karena tak mendapat pasokan oksigen.
__ADS_1
" i love you" lirihnya seraya menatap dalam mataku.
" i love you too".