Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Di segerakan


__ADS_3

" jadi beneran ,kamu mau sama anak Tante Wid ?". tanya Tante Dhiya yang tadi dengan ekspresi kaget kini berganti dengan senyum sumringahnya.


" ya,kalau Tante kasih restu ".


" jelas Wid,kalau gitu langsung nikah aja. gak usah pacar-pacaran,kalian kan sudah kenal lama". ujar Tante Dhiya semangat. yang pasti membuatku melongo kaget.


" ya,ya gak gitu juga dong tant". selaku terbata.


" lho emang kenapa ?, kalian kan sudah sama-sama dewasa".


" paling gak,kasih waktulah buat kita saling ngerti. ya kan kak " . aku cari pembelaan yang ternyata jawaban kak Ares tak sesuai harapanku


" aku sih ikut maunya mama aja". jawabnya cuek. membuatku ingin sekali memukul kepalanya.


" what ,...!!,yang bener aja deh kak" gerutuku seraya menyenderkan punggung di sandaran sofa.


" ckk,itu sih mas Ares yang udah ngebet". Livi menimpali.


" kalau iya kenapa ?". tanya kak Ares ketus.


" ya gak apa-apa juga sih,aku juga dukung".


" aisssh,terus yang dukung gue siapa ?." ucapku frustasi. Livi hanya nyengir. kak Ares tak bergeming. Tante malah merencanakan hal yang pasti akan membuatku semakin tak dapat dukungan.

__ADS_1


" Tante mau bilang sama om,biar nanti diomongin sama papa kamu. biar di segerakan" .


Kalau sampai ketelinga papa sudah pasti papa setuju rencana Tante Dhiya ini.


''ah akhirnya ,aku punya mantu. bisa cepet punya cucu". ucap Tante Dhiya sumringah seraya berlalu dari ruang tengah. Aku melongo heran. segitunya Tante Dhiya?.


" udahlah Wid,jalanin aja,mas Ares juga udah bucin gila sama Lo." ledek Livi.Aku mendengus kesal. menutup wajahku dengan kedua tangan. memang menikah semudah itu ?. Benar memang aku dan kak Ares sudah kenal lama. Tapi untuk mengenal lebih jauh satu sama lain juga butuh waktu.


"udahlah Wid,restu udah dapet. apalagi coba ?, tinggal jalanin".


" Lo aja belum berani". sahutku kesal.


' bukan belum berani. gue nunggu mas gue duluan yang nikah" .


sesaat aku dan Livi berdebat kecil. Kak Ares memilih diam. jujur untuk menikah saat ini belum ada dalam keinginanku terlalu cepat untukku. Bukan aku ragu pada kak Ares. Tapi lebih ragu pada diri sendiri. Apa aku bisa menjadi pendamping yang baik untuk kak Ares ?.


"Aku tinggal dulu Wid " pamit Livi,aku hanya mengangguk. Sesaat kutatap langkah Livi menjauh. Dia tahu aku butuh ruang untuk membahas ini berdua dengan kak Ares. Kak Ares berdiri,dan duduk di sampingku. Di genggamnya telapak tanganku dengan lembut.


" kalau kamu belum siap,aku gak akan maksa."


Aku bungkam. siap ?, ditanya untuk itu entah kapan aku siap. menikah,menyatukan dua kepala manusia dengan segudang ego yang berbeda. sudah bisakah aku,mengekang egoku sendiri ?.


" kenapa ?" suara lembut kak Ares seraya membelai rambutku.

__ADS_1


" dilema". dibawanya kepalaku bersandar di dada bidangnya.


" gak usah, terlalu di pikir. nanti aku yang ngomong sama mama kalau kamu belum siap. kakak akan nunggu sampai kamu siap".


"kak,kakak yakin Widi pilihan yang tepat buat kakak ?". tanyaku yang kini dipenuhi rasa keraguan.


" yakin. atau kamu yang gak yakin sama kakak ?"


" Widi yakin sama kakak. tapi Widi yang gak yakin sama diri sendiri. apa Widi bisa jadi pendamping yang baik buat kakak?".


Kecupan lembut dari bibir kak Ares mendarat di keningku.


" kita akan saling melengkapi kekurangan masing- masing. dan belajar menerima apapun yang ada dalam diri pasangan kita. kakak percaya sama kamu''.


Aku melingkarkan tangan di pinggang kak Ares. Tetap bersandar di dadanya. menikmati detak jantung yang teratur. Dan belaian lembut yang menenangkan.


" tuntun Widi untuk bisa jadi pendamping yang baik kak".


" kita akan sama- sama belajar untuk jadi lebih baik."


Aku tersenyum tipis. memantapkan hati untuk mengikrar janji suci. melabuhkan rasa di pelabuhan cinta yang seharusnya.


" Kalau kakak yakin untuk nikah secepatnya. Widi ikut saja kak". ucapku sembari mengangkat kepala menatap wajah kak Ares. ada senyum yang mengembang di bibirnya. Dipeluknya aku dengan erat.

__ADS_1


" terima kasih' lirih ucap itu dari bibir kak Ares


__ADS_2