
Tiba di sebuah gedung yang cukup tinggi,aku berjalan di loby. menghampiri seorang wanita cantik yang duduk di balik meja informasi.
" permisi mbak".
" iya ada yang bisa saya bantu ?".
" saya mau ketemu pak Ares,pak Aresnya ada ?".
" mbak sudah ada janji dengan beliau ?"
" belum sih"
" mungkin sebaiknya mbak buat janji dulu".
" janji gimana telpon aja gak diangkat", gumamku lirih.
" gini aja mbak,mbak telponin pak Ares. bilang Widi mau ketemu bisa gak ?".
" tunggu sebentar ya mbak,saya coba hubungi sekertarisnya dulu"
" oke"
Tak butuh waktu lama telpon sepertinya telah tersambung. aku memilih duduk di kursi yang tersedia di dekat meja informasi.
" sebentar ya mbak,sekertarisnya sedang menghubungi pak Ares" ucap wanita yang mungkin seumuran denganku. Wanita yang ramah dan tampak selalu tersenyum. Sebuah sikap yang ditujukan karena profesionalisme kerja atau memang begitu adanya dia. eh,kenapa aku jadi menilai orang ya ?.
" Widi,ngapain kamu disini" suara yang tiba- tiba mengagetkanku membuatku tertuju pada sosok laki- laki paruh baya itu.
" eh papa " ucapku sambil tersenyum kaku. Aku berdiri menyalami papa dan mencium punggung tangannya.
" ada perlu apa kamu kesini ?" ulang papa yang belum mendapat jawabanku.
" maaf mbak " potong mbak Desi,yang kutahu namanya dari kartu pengenalnya.
" iya mbak" jawabku
__ADS_1
" kata sekertarisnya pak Ares,silahkan anda langsung keruangan pak Ares".
" baik mbak,ruangannya dimana ya ?"
" lantai 6 mbak".
" makasih ya mbak"
" sama- sama".
selesai berbincang dengan mbak desi, ternyata papa masih setia di tempat. menatapku dengan tatapan tajamnya. selesailah aku pasti dapat omelan papa.
" jadi kamu nyari pak Ares ?"
" iya pa" jawabku sedikit ragu.
' kamu itu,bikin malu saja. kenapa juga datang kekantor segala?"
" ada perlu sedikit pa" . jelasku.
" bisa kan ketemu di luar kantor,kamu bisa ganggu pak Ares. tahu". duh benerkan dapat omelan. kenapa juga papa di kantor ini. setahuku papa kerja di kantor cabang yang lain.
" iya pa" .aku sih cuma bisa iya- iya doang. mau jawab juga malah tambah masalah.
" ya sudah papa mau ada meeting. kamu jangan lama- lama disini".
" siap papa". Aku masih berdiri menatap kepergian papa.
Aku berjalan menuju lift dan segera masuk setelah pintu terbuka. turun setelah lift berhenti di lantai 6. Beberapa ruangan tampak disana. Aku berjalan sambil melihat nama ruangan. sampai aku di depan pintu bertuliskan ruang direktur. Mungkin ini ruangan Ares, aku mencoba mengetuknya.
tak berapa lama,seorang wanita cantik dengan pakaian kerja yang bisa di bilang seksi. rok span pendek 10 atau mungkin 15 cm diatas lutut dengan atasan hem yang dua kancingnya terbuka,membukakan pintu untukku.
" permisi mbak " ucapku yang mendapati tatapan tak bersahabat dari wanita dengan kartu pengenal bertuliskan nama Lisya R.
" ada yang bisa saya bantu ?" tanyanya tanpa segurat senyum.
__ADS_1
" saya mau ketemu pak Ares mbak,ini benar ruangan pak Ares kan ?"
" iya,dengan siapa ?"
" Widi mbak".
Wanita itu masih berdiri di pintu tanpa menyuruhku masuk. memperhatikan penampilanku dari bawah hingga atas. sungguh sebuah tatapan yang menyebalkan.
" masuk" tiba- tiba suara dingin seseorang membuat Lisya menyingkir dari pintu. Aku tersenyum kecil mendapati Ares.
Tapi wajah itu masih menunjukkan wajah tak bersahabat. belum lagi tatapan tajamnya seperti elang yang hendak menerkam. Aku membuntut saja di belakangnya,ternyata di sana masih ada ruangan lain. Ruangan khusus Ares terpisah dari sekertarisnya.
" maaf pak sepuluh menit lagi bapak ada meeting". suara Lisya membuat kak ares berhenti sejenak.
" Adit yang akan mewakili saya" sahutnya tanpa menoleh. Dan segera membuka pintu ruangannya.
Aku masih setia mengekor Ares yang sama sekali tak menolehku apa lagi bertanya. Dia duduk di kursi kebesarannya dan sibuk dengan laptop. Benar- benar aku seperti patung yang tak dianggap. Orang kaku dan dingin seperti kak Ares ternyata kalau ngambek mengerikan.
Duduk sambil menopang dagu menatap Ares yang sama sekali tak mempedulikan keberadaanku. Ternyata lebih mudah menghadapi orang marah yang banyak bicara dari pada diam seperti ini. aku mau mulai bicarapun bingung harus dari mana memulainya. Lebih mudah menjawab orang yang teriak karena amarahnya dari pada menebak kemarahan yang tersimpan dalam diam.
" kak" panggilku yang tak mendapat tatapan darinya.
" hm" sahutnya malas. matanya masih fokus pada laptop.
" marah ya ?"
" menurut kamu ?"
" menurutku sih ,iya."
" terus ?"
" please deh kak,harus banget gitu tebak- tebakan. iya aku minta maaf".
" tahu salah kamu apa ?"
__ADS_1
Oke,ngadepin orang kayak gini bikin aku emosi. udah minta maaf masih ditanya salah apa ?.
mungkin kesalahanku adalah ketemu Haris. tapi dia juga tahu Haris temenku. Aah pusing akulah,gelengkan kepala saja sebagai jawaban. Mengenal Ares lebih jauh itu yang harus ku lakukan. Terlalu cepat jika aku mempercayakan seluruh hatiku untuknya. jika 4 tahun saja bisa membuatku terluka apalagi yang baru saja aku mencoba untuk memulainya.