Jalan Menemukanmu

Jalan Menemukanmu
Memahami


__ADS_3

"Wir,ngapain Lo ngedekem di sini sendirian ?" tanyaku saat mendapati Wira yang duduk sendiri di ruang tengah. sementara yang lain sedang berkumpul di halaman belakang. Acara bakar-bakar untuk menutup acara liburan malam ini. karena rencananya besok sudah harus kembali.


" ini ada berkas yang harus di cek" sahutnya seraya menatap layar laptop.


" Wir Lo kenapa jadi gitu amat sih ?"


" maaf mbak Widi yang cantiknya gak ketulungan. yang udah bikin bos Ares klepek- klepek. gue gak mau ya di hukum lagi gara-gara Lo ?" Nah,sekalinya bicara panjang banget.


" maksudnya gimana ?" tanyaku penasaran. membuatku ikut duduk di hadapan Wira.


" gara-gara Lo minta nomer hp gue,seminggu gue di suruh lembur terus" jawabnya kesal. Tawaku sukses lolos dengan lantangnya. Membuat Wira semakin merengut saja.


'' gitu amat ya,calon laki gue"


" emang" sahutnya singkat dengan mata yang masih terfokus pada layar laptop .


"Heran gue,kok bisa sih Lo ganti haluan secepet itu . Dari Adrian yang slenge'an tiba- tiba gandeng Pak Ares yang dinginnya melebihi es batu".


" bukan masalah ganti haluan Wir,gak mungkin kan gue bertahan sama temen Lo yang kelewatan berbudi itu ".


" apa sih yang terjadi sama Lo berdua ?"


" Adri nikah sama sekretarisnya dan gilanya dia mutusin gue seminggu sebelum dia nikah". ceritaku yang sukses membuat Wira geleng-gekeng kepala.


" gak nyangka gue,setau gue dia cinta banget sama Lo". aku mengangkat bahu seraya mencebikkan bibir.


" asli gue gak ngerti kok bisa dia hianatin Lo gitu ya''.


" terkadang hubungan gak cukup hanya dengan cinta". celetukku. setidaknya itu yang kurasa . karena nyatanya Adrian menghianatiku saat rasa cinta ada dalam hati kita. mungkin terlalu tipis sekat antara cinta dan nafsu. hingga saat aku mencoba membentengi diri dari nafsu sesaat. ternyata Adrian memilih menghianatiku . Sudahlah itu hanya cerita kecil masa laluku. dan aku tak pernah menyesal karena aku masih melindungi harkat martabat ku. Karena pada akhirnya saat jodohku datang aku tak mengecewakannya.


" terus gimana ceritanya Lo kenal pak Ares ?"


''Gue mah kenal dia jauh sebelum kenal lo''


" kok bisa ?" tanya Wira dengan tampang penasarannya.


''dia kan abangnya Livi '' sahutku dan sukses membuat melongo Wira.

__ADS_1


''ehmm'' suara deheman menghentikan obrolanku dengan Wira. Lelaki posesifku yang sudah berdiri dengan dua tangan berada disaku celananya. jangan lupakan tatapan matanya yang tajam.


''Apa sayangku gitu amat liatnya ?"tanyaku manja dengan senyum yang mengembang dibibir ku.


" katanya ambil minum" ucapnya dingin.


" hehehe... lupa tujuan awal. abis liat Wira semedi sendiri di sini". jawabku sambil beranjak dari dudukku dan berlalu dari ruang tengah. mengambil dua botol air mineral dingin dari dalam kulkas.


'' Wir,ayo ikutan ke belakang. gak usah kerja melulu". ajakku setelah kembali dari dapur.


" belum selesai kerjaannya biar di selesaikan dulu'' kak Ares yang menjawab


" yaelah kak,kayak udah gak ada hari lagi.bisa dikerjain besok lagi kali '' gerutuku sebal.


'' gak apa- apa kok,sebentar juga lagi selesai ''. Wira menjawab.


'' ya udah,kalau udah selesai nyusul ke belakang ya ''. sambungku lagi yang hanya diacungi jempol oleh Wira. Aku melangkah meninggalkan Kak Ares yang masih mematung.


Tak lama kak Ares menyusulku,mengambil botol yang ada di tanganku .


''kak,jangan mentang-mentang jadi atasan. Widi gak suka kalau kakak kayak gitu'' ucapku sebal .


'' sikap kakak,jangan terlalu dinginlah sama karyawan. inget kak ,kakak gak akan jadi bos kalau gak ada bawahan ''. ucapku sambil menatap wajahnya saat langkah kami terhenti.


" kelihatan banget segitu gak nyamannya Wira pas ada kakak''. Raut wajah kak Ares sedikit berubah,ia melangkah meninggalkanku. aku mengejar langkah panjangnya.


''kak" panggilku.


" segitunya kamu belain dia ?" ketus suara kak Ares.


''ya ampun kak,bukan belain dia ''.


'' terserah kamu''.


Boleh gak sih aku pentokin kepalanya di tembok ?. Dasar kalau orang sudah dasarnya kaku ya gitu. ibarat besi belok tak semudah itu buat meluruskannya kembali. Aku hanya bisa manyun-manyun sendiri mengikuti langkah kak Ares.


'' kenapa Lo manyun gitu ?'' tanya Livi setelah aku sampai di taman belakang dan menghampirinya yang sedang duduk bersama Reina dan Nindi.

__ADS_1


''sebel sama Abang Lo,maksud gue ngomong apa ,nanggepinnya apa''. jawabku yang pasti dapat didengar kak Ares yang berdiri tak jauh dariku.


'' sabar,mumpung belum jadi. kalau mau dipikir ulang'' kata-kata Livi yang langsung memancing kak Ares mendekati dan membungkam mulut Livi dengan tangannya.


'' Kalau ngomong mulutnya ''.


'' mulutku bener ya mas ,daripada kelakuan mas Ares memicu gejala darah tinggi'' timpal Livi setelah bekapan tangan kak Ares di lepas .


" udah ah,gak usah pada berantem. Ian mana jagungnya buat mbak'' aku mengalihkan perhatian . Ribet kalau dua kakak adik itu berantem.


" sorry mbakku sayang,ini buat princess ku". jawabnya sambil memberikan jagung bakar untuk Reina.


" yaelah" gerutuku sambil memanyunkan bibirku.


" sebentar kakak bakarin"


" makasih kakak sayang'' ucapku sok manis. Padahal masih gedeg rasanya.


"Abang gue ngapain Lo ?" Livi bertanya setelah kak Ares menjauh.


" gak ngapa-ngapain sih,cuma gue gak suka aja cara dia sama ke bawahannya. eh gue kasih tau dikiranya gue belain si Wira".


"ya emang gitu kelakuan Abang gue,mau gimana lagi. dia cuma bisa lembut sama Lo doang".


Memang sih ,kak Ares hanya denganku bisa bersikap manis dan lembut. Butuh perjuangan lebih untukku membuat dia menghangat pada sekitar bukan hanya pada ku. Kak Ares orang baik hanya caranya saja yang terkadang menjengkelkan. Memahaminya,hanya itu yang harus kulakukan.


Malam semakin larut,kami masih asyik di halaman belakang. Lian memetik senar gitarnya dan kami ramai- ramai bernyanyi. Sesekali kulihat kak Ares yang terlihat tak nyaman. sebenarnya aku tahu kak Ares,orang yang tertutup dan tentu tak akan nyaman ada diantara kami. tapi ada kalanya kan kita harus keluar dari zona nyaman kita. dan itu yang kuharapkan dari kak Ares. Bisa masuk dalam lingkunganku.


Anak-anak mulai beranjak masuk kedalam villa saat udara mulai terasa dingin. tinggal aku yang duduk di bangku taman menatap kerlip bintang. Sebuah tangan kekar memelukku dari belakang dan sebuah kecupan di kepalaku.


" udah malam sayang ,dingin".


" sebentar kak"


" sayang,maafin kakak ya. belum bisa jadi yang terbaik buat kamu".


" kak,maafin Widi juga ya. Widi terlalu memaksakan apa yang ada dalam otak Widi".

__ADS_1


" kakak tau maksud kamu baik".


Sejenak hening yang ada diantara kami. Menikmati setiap detik waktu dalam dekapan hangat ini. sebesar apapun cinta yang ada diantara kita hanya akan sia-sia. jika kita tak mencoba untuk saling memahami. Akupun tak bisa seenaknya memaksakan semua pemikiran ku untuk ia terima . Kita harus sama-sama belajar untuk dewasa dan bijak dalam mengbil langkah.


__ADS_2