
Lembut angin membelai kulitku,terasa kesejukan yang begitu menenangkan. senyum mentari begitu ceria pagi ini. terasa hangat,menghangatkan dinginnya rasaku. pelan kukayuh sepeda menyusuri jalan di pinggiran sawah. beberapa saat aku melaju dalam diam,menikmati sentuhan alam yang mendamaikan. Bebanku sedikit terangkat,kucoba melupakan sedikit demi sedikit rasa lara ini. berharap aku bisa berdamai dengan masa lalu yang membelenggu.
"ehemm..." dehem Haris yang bersepeda disebelahku.
"kenapa ?"
"diem aja"
''ini tuh lagi menikmati suasana alam yang begitu damai"
"gitu ya,perasaan gak ada yang istimewa"
'' iyalah buat lo,tiap hari yang lo liat kek gini. sementara gue,tiap hari yang diliat gedung,mobil,motor,macet. aaah bete" cerocosku panjang lebar.
Hanya terlihat sebuah semyuman dibibir Haris yang mendengar ucapanku. entah kenapa senyum itu terlihat menawan dimataku. sejenak aku terkesima. memang wajah Haris bukanlah wajah tampan diatas rata-rata. ia terlihat biasa tapi ada aura yang menenangkan diwajah itu.
"kita mau kemana ?" tanya Haris yang terus mengayuh dengan tatapan kedepan.
"gue ikut lolah,gue kan juga udah gak terlalu paham disini"
" ke danau gimana ?"
"oke"
__ADS_1
kami terus bersepeda melewati sawah yang tampak menghijau dengan tanaman padi. diujung nan jauh diutara sana,gunung menjulang tinggi. sungguh lukisan sang pencipta yang sempurna.
"Ris,seinget gue dulu lo punya dua kakak. dimana ?"
"mas,Anto ikut istrinya. soalnya istri dia gak mau ngurus ibu. mbak ida ikut suaminya "
" mereka gak pernah ikut bantuin ngurus ibu gitu ?"
"kalau mas Anto udah lama gak pulang,kalau mbak ida,sesekali masih kesini"
"udah berapa lama ibu sakit ?"
"hampir empat tahun".
"beberapa bulan pertama sih masih sama mas Anto,tapi waktu istrinya udah gak mau disini lagi,otomatis aku sendiri yang ngurusin''
"dan itu jadi alasan lo masih sendiri ?"
"iya,aku gak mau aja kalau aku punya istri tapi gak nerima ibu" jelasnya sambil tersenyum .
kalau menurutku itu luar biasa,benar-benar lelaki penyayang. mengorbankan kebahagiaan untuk sang ibu. aku tersenyum sendiri merasa malu dengan diri sendiri. jangankan untuk berkorban untuk mengucapkan terima kasih dan rasa cinta untuk mama masih terasa berat di bibir ini.
Tak terasa laju kami kian jauh,sampai kita di sebuah danau dengan air yang begitu bening.
__ADS_1
"wow sejuk banget" ucapku takjub.
"suka?" tanya Haris setelah kami memarkirkan sepeda dan berjalan menuju bangku dibawah pohon yang terlihat begitu rindang.
"banget,makasih ya mau nemenin gue" ucapku tulus.
"sama-sama,semoga aja disini kamu bisa sedikit melupakan masalah kamu". lagi-lagi senyum itu ia perlihatkan. dan tatapan matanya begitu sejuk. kami duduk bersebelahan di bangku.
"ya,aku harap begitu"
kami hanyut dalam diam,menikmati nyanyian burung dan tarian daun menambah keindahan pesona desa ini. nyaman rasanya,ingin sekali senyaman ini hatiku. tapi tak semudah itu,sesekali kilas bayang saat aku bersama Adrian masih seperti hantu yang sering kali tiba-tiba hadir. yah,mana mungkin kenangan empat tahun bisa terhapus begitu saja dalam waktu sekejap. aku tersenyum pahit sendiri.
"ada apa ?" suara Haris menyadarkanku bahwa ada yang sedang memperhatikan tingkahku.
"gini ya,rasanya jagain jodoh orang. sakit" ucapku lirih sambil menatap wajah Haris.
Tiba-tiba tangan Haris menggenggam tanganku. tatapan lembutnya tertuju pada bola mataku. jujur aku sedikit gugup.
"rasa sakit itu akan mengajarimu untuk lebih kuat dan tegar. anggap saja ini sebagai latihan untuk kamu menjalani hidup kedepannya. adakalanya hal yang manis tidaklah berakhir manis,dan bukan berarti sakit itu akan terus menyiksa. tidak ada yang tahu kalau sakit ini akan menuntunmu pada kebahagiaan. dan saat itu tiba kamu akan bersyukur dengan rasa sakit yang pernah kamu rasakan"
tulus,kata-kata itu meluncur dari bibir Haris. aku benar-benar beruntung bertemu sahabat masa kecilku ini. aku menatap dalam matanya.
"boleh pinjam pundak kamu?" tanyaku. Haris hanya mengangguk pelan dengan senyum lembut. kusandarkan kepala dipundaknya. menikmati setiap detik yang berlalu dengan ketenangan ini. dan semoga rasa sakit ini akan menguap sedikit demi sedikit. hingga aku tak terperangkap pada masa lalu dan bisa setapak demi setapak aku melangkah menyusuri masa depanku.
__ADS_1